Nalar.ID

10 Fakta ‘Suzzanna Bernapas dalam Kubur’

Jakarta, Nalar.ID – Soraya Intercine Films, merilis film horor Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, di bioskop, Kamis (15/11).

Selama sekian bulan, sejumlah proses persiapan sampai produksi, pihak rumah produksi melarang menutup rapat kabar tentang film ini kepada awak media dan masyarakat. Berbagai cerita tentang film ini, terangkum dari sejumlah sumber. Mulai dari pergantian sutradara, makan bunga melati, hingga 200 foto Suzzana untuk referensi membuat topeng prostetik.

Cerita
Usai tujuh tahun menikah, Suzzanna (Luna Maya) hamil calon anak pertama. Sayangnya, sang suami, Satria (Herjunot Ali), harus dinas luar negeri. Selama Satria pergi, empat karyawannya (Verdi Solaeman, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, dan Kiki Narendra), niat merampok rumah Suzzanna saat sepi. Perampokan berubah menjadi pembunuhan. Panik, keempat karyawan mengubur jenazah di belakang rumah.

Judul

Senada seperti ‘Benyamin’, tokoh film Betawi, nama mendiang Suzzanna semacam merek melalui daur ulang konsep film-film lawasnya. ‘Suzzanna’ pun dipakai bersama judul utama cerita Bernapas dalam Kubur. Menurut Sunil, pihaknya tak menyinggung judul film lama, seperti Bernafas dalam Lumpur (1970) atau Beranak dalam Kubur (1971). Judul dibuat sesuai rancangan cerita sejak lima tahun lalu. “Karena ada adegan orang dikubur. Sempat terpikir judul Sundel Bolong tapi enggak cocok,” katanya.

Komedi Tetap Ada
Seperti film-film Suzzanna terdahulu, unsur komedi, tetap dipertahankan di film ini. Tapi dengan motif yang lebih menyatu dengan cerita keseluruhan. Sunil tak ingin, Suzzanna, menggoda orang yang enggak ada hubungan dengan Suzzanna.

Geser Sutradara
Anggy Umbara, sempat mengawali proyek praproduksi dan produksi film ini. Di tengah jalan, saat syuting berjalan sebulan dan ditinjau ulang hasilnya, Sunil tidak puas. Ia merasa ‘beda visi’ dengan Anggy. Terutama pada unsur horor. Anggy, ‘dicopot’ dan diserahkan ke Rocky Soraya, yang memimpin syuting selama 20 hari selanjutnya. Porsi Rocky di atas 70 persen. Nama Anggy tetap tercantum bersama Rocky sebagai sutradara.

Perubahan Cerita
Sunil mengklaim, cerita film berdurasi 135 menit ini baru. Tak berhubungan dengan judul-judul terdahulu. Memang, ada adegan film lama, seperti sate tapi menurutnya adegan itu sudah diperbarui dengan porsi kecil. Termasuk ada adegan yang ditulis dan syuting ulang. Cerita berlatar 1980-an. Punya pengaruh kuat pada aspek horor karena film ini tak memakai elemen jumpscare.

Pilihan Bintang
Pemilihan pemeran Suzzanna makan waktu dan cukup sulit. Sunil mencari aktris dengan bentuk wajah mirip dengan mendiang agar topeng prostetik berfungsi optimal. Setelah Sunil tak kunjung menemukan pemain, Luna masuk kandidat. Kebetulan, Rocky dan Luna, pernah kolaborasi dalam film horor The Doll 2 dan Sabrina.

Menjiwai Peran
Awalnya, Luna, tak percaya diri sebab cemas tak bisa menyerupai sosok Suzzana. Namun, setelah bertemu pasangan make-up artist asal Rusia untuk cetak muka dan lihat hasil, ia yakin. Luna studi intensif untuk segala gerak-gerik, cara berjalan, bicara, ekspresi emosi, hingga intonasi suara. Selain menonton belasan film, ia juga sering mendengar rekaman suara dialog untuk menirukan warna suara khas Suzzanna. Termasuk ambil ciri khas mata melotot. Tapi ekspresi sederhana ini sangat sulit karena Luna, yang kornea matanya kebiruan, harus memakai lensa kotak coklat.

200 Foto untuk Prostetik
Mantan suami Suzzanna, Clift Sangra, ikut terlibat proyek film ini. Selain bermain, ia membantu tim artistik memberi foto-foto Suzzanna kecil hingga dewasa. Foto sebagai referensi membuat topeng prostetik. Clift mencari dan bongkar album hingga sekitar 200 foto. “Wajah dari umur ke umur berubah. Akhirnya, kami masukkan umur 29 tahun.

Makan Melati
Ada satu adegan, Luna, harus makan bunga melati, sama seperti adegan ikonik film-film Suzzanna. Tapi properti bunga melati di lokasi syuting tak selalu segar. Ia sempat makan bunga melati ‘basi’ dan sudah berbau aneh.

Biaya Produksi Setara Van Der Wick
Produksi film ini menelan biaya mahal, mirip Tenggelamnya Kapal Van der Wick. Terlebih, saat produksi sudah sebulan, tambah 20 hari karena urusan syuting ulang karena berurusan dengan set, latar 1980-an, perbaikan, syuting ulang, hingga tim besar.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi