Nalar.ID

2019, Indonesia Punya 120 Prodi Baru

Jakarta, Nalar.ID – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, memastikan, segera mempercepat proses pemberian izin 120 program studi (prodi) baru di perguruan tinggi (PT) di Indonesia mulai 2019.

Diharapkan, pembukaan prodi ini relevan dengan perkembangan zaman. Penjelasan dikutip dari Menristekdikti Mohamad Nasir, dan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo, dalam berbagai kesempatan. Berikut laporannya:

Utamakan STEM

Kata Patdono Suwignjo, Jumat (26/10) di Jakarta, pengajuan izin untuk nama prodi bisa selesai seminggu. Prodi yang akan dibuka, disesuaikan dengan tujuan pembangunan jangka panjang. Khususnya di bidang science, technology, enggineering, matemathics (STEM).

Mempercepat Izin

Senin (29/10), Kemenristekdikti, mengumpulkan dan menginstruksi seluruf staf soal perubahan dan percepatan pemberian izin prodi baru agar segera selesai. Pihaknya mengimbau, semua PT yang akan mengajukan prodi baru untuk memastikan semua syarat terkumpul.

Ilmu Humaniora

Meski mengutamakan bidang STEM, kampus yang hendak buka prodi Ilmu Sosial Humaniora, juga dipertimbangkan. “Banyak yang mengajukan prodi itu, enggak apa-apa,” kata Patdono.

Dituntut Inovatif dan Responsif

Ia mengatakan, dalam menghadapi era revolusi digital, semua kampus dituntut inovatif dan responsif. Termasuk perubahan cepat merevitalisasi prodi. Kementerian ini mengajak semua kampus berani membuka prodi yang sebelumnya tak pernah disangkakak. Seperti, Universitas Indonesia, dengan prodi Teknik Biomedik dan Akturia. Lalu, Universitas Padjajaran dengan Akturia dan Bisnis Digital.

Relevan dan Visioner

Prodi baru harus relevan dan visioner sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri. Prodi juga harus sejalan dengan tantangan yang dihadapi para lulusan kampus di era revolusi industri 4.0.

4 Tahun, 100 Prodi

Empat tahun pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, tak kurang, 100 prodi baru sudah dibuka. Prodi ini bagian upaya Kemenristekdikti menyiapkan SDM berdaya saing global. “Enggak lagi prodi seperti konvensional masa dulu,” tukas Mohamad Nasir.

Pertahankan Animasi dan Komunikasi Visual

Contohnya, ada sejumlah PT yang memiliki prodi Animasi dan Komunikasi Visual. Dua prodi itu, lanjutnya, akan sangat berfungsi untuk generasi masa depan. Prodi itu kaitan dengan sistem informasi, diubah jadi konsentrasi atau peregangan multimedia, animasi atau kartun. “Ini sudah kami lakukan,” imbuhnya.

Prodi Anyar dan Rintisan

Selain prodi tersebut, ada prodi Rekayasa Transportasi Laut, Manajamen Inovasi, maupun Bisnis Musik. Prodi berikutnya, ada Pengolahan Kopi rintisan Universitas Gajah Putih (UGP) di Aceh. Ada pula prodi Film di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), dan prodi Teknologi dan Kertas yang didirikan Universitas Riau.

Kopi ke Bisnis

Kemenristekdikti juga tengah mengembangkan prodi Sains Perkopian, Pendidikan Barista, Ekonomi Perkopian, dan Meme. Kata Menristekdikti, dahulu, jika orang sekolah jurusan musik, pasti hanya belajar keterampilan seni musik. “Disini, bagaimana seni dijadikan bisnis. Ini sudah kami lakukan,” lanjutnya.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi