Nalar.ID

2020, Industri Akan Tumbuh 5,5 Persen

Nalar.ID, Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis pertumbuhan industri tahun 2022 akan mampu menyentuh di angka 5-5,5 persen jika tidak terjadi gelombang besar kasus Covid-19 di Indonesia.

Maka, berbagai program dan kebijakan strategis yang mendukung laju kinerja sektor industri terus digulirkan guna menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Tahun ini, target (pertumbuhan industri) 4,5-5 persen. Tahun depan 5-5,5 persen,” kata Menperin di Jakarta, kepada Nalar.ID.

Pada triwulan II tahun 2021, sektor industri manufaktur berhasil mencatatkan pertumbuhan positif 6,91%, meski di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19.

“Kita berharap laporan triwulan III Tahun 2021 yang akan rilis awal Oktober 2021 akan terus menumbuhkan optimisme bagi kita untuk menjalankan pembangunan di sektor industri manufaktur,” jelasnya.

Menperin menegaskan, pihaknya tetap fokus menjalankan program dan kebijakan unggulan yang dapat menopang performa sektor industri. Misalnya, pelaksanaan program substitusi impor 35 persen tahun 2022. Upaya strategis ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus mendorong penguatan struktur industri manufaktur di dalam negeri.

“Strategi ini ditempuh guna merangsang pertumbuhan investasi di sektor industri substitusi impor dan peningkatan utilitas industri domestik,” tutur Menperin.

Kebijakan itu akan didukung dengan optimalisasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Agus menyampaikan, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, awalnya ada lima sektor yang jadi prioritas pengembangan dalam kesiapan memasuki era industri 4.0. Namun, di tengah pandemi, Kemenperin menambahkan dua sektor lagi untuk menopang perekonomian nasional.

“Ketujuh sektor potensial itu adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, kimia, alat kesehatan, serta farmasi,” sebutnya. Aspirasi besarnya, dari kinerja tujuh sektor itu, Indonesia bisa menjadi bagian dari 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia tahun 2030.

“Target yang ditetapkan itu masih realistis untuk diwujudkan,” tegasnya.

Menperin menambahkan, capaian substitusi impor hingga saat ini pada sejumlah direktorat yang membawahi sektor-sektor prioritas itu masih berada pada jalur yang benar untuk mencapai target.

“Kami terus memantau dan evaluasi capaian substitusi impor ini, karena semua sektor sudah diberi target masing-masing. Lalu, mencari solusi atas beberapa kendala yang dihadapi. Jika program ini bisa tercapai sesuai target secara kuantitatif, kami optimis target pertumbuhan industri 5-5,5 persen tahun depan bisa terwujud,” paparnya.

Agus mengemukakan, kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas terhadap PDB nasional triwulan II tahun 2021 sebesar 17,34%.

Adapun lima kontributor terbesar sektor industri terhadap PDB nasional adalah industri makanan dan minuman, industri kimia, farmasi dan obat, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, industri alat angkut, serta industri tekstil dan pakaian jadi.

Sementara itu, data Bank Dunia menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2020 saat pandemi Covid-19 menjangkit di seluruh negara dunia, Indonesia masih mampu mempertahankan status sebagai negara industri atau manufactured based dengan kontribusi sektor (migas dan nonmigas) terhadap PDB nasional melampaui 18%.

Penulis: Febriansyah | Editor: Febriansyah

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi