Nalar.ID

24 Tahun AJI, Tetap Independen di Tahun Politik

Nalar.ID, Jakarta – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, meminta para jurnalis untuk tetap menjaga independensi dalam menjalankan tugas. AJI menilai, sikap independen sangat penting. Mengingat bangsa ini akan menghadapi pemilu presiden dan legislatif 2019. Demikian siaran tertulis yang diterima Nalar.ID, Jumat (7/9).

Ketua AJI Indonesia, Abdul Manan mengatakan, independensi adalah salah satu prinsip etik penting dalam profesi jurnalis. Pada pasal pertama Kode Etik Jurnalistik Indonesia (KEJI), ini hal prinsip yang tak mudah pelaksanaannya.

Kata Manan, tantangan sikap independen ini kian besar di era media internet atau digitalitasi dan tingginya pemakaian media sosial saat ini.

“Untuk menjaga independensi itu, jurnalis menahan diri menggunakan media sosial di tahun politik ini. Sikap kita di media sosial akan memengaruhi independensi kita,” ucapnya, pada sambutan ulang tahun AJI Ke-24 di Bentara Budaya, Jakarta, Jumat (7/9) malam.

Potensi Digital

Ditengah perayaan hari ulang tahun, AJI meluncurkan buku laporan tahunan 2018 berjudul ‘Ancaman Baru dari Digital’ yang menyorot dampak terkini digitalisasi. Hasil kajian AJI, digitalisasi memberi ruang besar bagi munculnya persekusi dan doxing terhadap jurnalis. Doxing adalah tindakan membongkar identitas seorang dan menyebarkan ke sosial media untuk tujuan negatif, disertai ancaman dan intimidasi.

Di usia ke-24 tahun, AJI juga meluncurkan program membangun ‘Rumah Jurnalisme’. Program ini inisiatif pelibatan publik untuk membangun kembali sekretariat AJI Indonesia di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Rumah ini diproyeksikan akan memberi ruang publik lebih besar. Diantaranya, tempat pelatihan dan perpustakaan.

“Alokasi ruang publik akan mencapai 75 persen,” kata Bayu Wardhana, Ketua penyelenggara pembangunan ‘Rumah Jurnalisme’.

Pada perayaan ulang tahun, AJI juga mengundang mantan Ketua Dewan Pers Bagir Manan untuk menyampaikan orasi kebudayaan. Dalam pidatonya, Bagir, mengingatkan pers atau media, sebagai institusi sosial yang mempunyai tanggung jawab besar ke publik. Ia juga menyoroti ketidakpatuhan jurnalis dan media pada prinsip etik. “Saya kuatir, praktik-praktik tidak profesional ini bisa ‘membunuh’ jurnalisme itu sendiri,” jelasnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam peringatan ini, AJI memberikan sejumlah penghargaan. Ada Udin Award, Tasrif Award, dan SK Trimurti Award. Penghargaan ditujukan kepada mereka yang berdedikasi dalam memerjuangkan kebebasan pers.

Dalam ‘Udin Award 2018’, nominasi ditujukan kepada jurnalis atau kelompok jurnalis yang menjadi korban kekerasan sepanjang Agustus 2017 hingga Juli 2018. Usulan itu disampaikan sejumlah pihak.

75 Kasus Kekerasan

Dalam catatan AJI, setidaknya, ada 75 kasus kekerasan terhadap jurnalis sepanjang rentang waktu itu. Buntut dari kekerasan itu melahirkan tindakan persekusi terhadap media dan jurnalis oleh kelompok yang tak setuju dengan pemberitaan.

Dewan juri tahun ini akhirnya memilih Tempo Media dan Heyder Affan dari BBC Indonesia sebagai pemenang Udin Award 2018. Dewan juri, masing-masing Direktur YLBHI Asfinawati, Direktur Amnesty Internasional Usman Hamid, dan Indonesia Hesti Murthi dari AJI.

Tempo Media, menerima serangan persekusi oleh organisasi usai menurunkan karikatur yang dianggap melecehkan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab. Jauh sebelum persekusi FPI, Tempo juga kerap menghadapi tekanan, serangan, maupun gugatan karena pemberitaan-pemberitaan kritisnya. Namun tekanan itu tak menyurutkan daya kritis untuk terus menyajikan berita yang akhirnya membuka mata publik.

Sementara, Heyder Affan, wartawan BBC Indonesia, dipilih setelah beberapa waktu lalu mengalami pengusiran saat meliput penanganan masalah campak dan gizi buruk di Papua hingga ia tak bisa melanjutkan peliputan. Affan dan dua rekannya, diusir aparat keamanan karena dituding memberitakan kondisi yang tak memihak pada upaya penanganan yang dilakukan pemerintah.

Kemudian, Tasrif Award didedikasikan untuk mengenang Suardi Tasrif. Sosok ini dikenal sebagai Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia. Ia dikenal tidak kenal lelah memerjuangkan kemerdekaan berpendapat, hak konstitusional, yang selalu disebut-sebut sebagai hak fundamental pemenuhan hak asasi manusia (HAM).

Pada Tasrif Award 2018, dewan juri menyatakan, Masyarakat Anti Fitnah Indoensia (MAFINDO) sebagai pemenang. Dewan juri menilai, apa yang selama ini dikerjakan MAFINDO adalah usaha yang konsisten dan gigih memerangi masif-nya sebaran konten-konten bohong atau hoaks. Dewan juri Tasrif Award 2018 ada M. Savic  Ali, NU Online/Gusdurian; Arfi Bambani, AJI; dan Yati Andriani, Kontras.

Penghargaan berikut adalah SK Trimurti. Penghargaan ini diberikan AJI dalam upaya mengenang dan menghormati perjuangan seorang perempuan pahlawan nasional. Sekaligus jurnalis perempuan bangsa ini yakni Soerastri Karma Trimurti. Dewan juri terdiri atas Mariana Amiruddin, Komisioner Komnas Perempuan; Citra Dyah Prastuti, AJI; dan Ahmad Junaidi, SEJUK.

Dewan juri menetapkan Devi Asmarani, pendiri Magdalena.co menjadi pemenang SK Trimurti Award 2018. Devi dinilai punya kepedulian dan aktif menyuarakan persoalan perempuan dan kesetaraannya. Ia juga melakukan perjuangan feminisme melalui tulisan, buku dan medianya, yang tidak mainstream.

Penulis: Radinka Ezar Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi