Nalar.ID

3 Aspek Kembangkan Infrastruktur Digital Ramah Lingkungan

Nalar.ID, Jakarta – Pemerintah Indonesia mendayagunakan inovasi digital untuk membantu akselerasi transformasi digital yang inklusif, berkelanjutan, dan memberdayakan.

Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, pemerintah menargetkan Net Zero Emission tahun 2060 atau lebih awal.

“Kebijakan untuk memangkas emisi gas rumah kaca ini melibatkan seluruh sektor strategis, termasuk sektor TIK untuk beradaptasi dan menggunakan praktik yang ramah lingkungan,” jelas Staf Khusus Menteri Kementerian Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan Sumber Daya Manusia, Dedy Permadi secara virtual dari Jakarta.

Dedy menyatakan saat ini perkembangan di bidang teknologi digital terus mendorong lahirnya beragam inovasi baru. Mengutip artikel Forbes tahun 2022, Stafsus Menteri Kominfo Bidang Digital dan SDM menjelaskan istilah “Digital Genesis” yang menggarisbawahi kemungkinan konvergensi beragam teknologi masa depan, seperti nanotech, biotech, dan quantum physics.

“Saat ini, kita mulai merasakan kehadiran teknologi-teknologi tersebut. Salah satu contoh konkret dari bagaimana teknologi maju ini mulai terbentuk di kehidupan kita adalah melalui metaverse,” tuturnya.

Sebagai bentuk ekstensif dari dunia daring dan visi masa depan internet, Dedy menyatakan metaverse juga memiliki potensi ekonomi yang besar secara global.

“Metaverse diproyeksikan akan bernilai US$ 5 triliun tahun 2030, didukung oleh aktivitas-aktivitas relevan di dalam, seperti e-commerce dan virtual advertising,” jelasnya. 

Tiga Aspek

Menurut Dedy, Kementerian Kominfo mendukung ekonomi digital yang ramah lingkungan (green digital economy) melalui tiga aspek utama, yaitu konektivitas, inftasruktur data dan aplikasi.

“Dalam aspek konektivitas, Kementerian Kominfo telah menginisiasi pengembangan jaringan 5G yang saat ini telah mencakup daerah di 13 kota di Indonesia. Secara operasional, jaringan 5G merupakan teknologi yang lebih ramah lingkungan, dengan lebih banyak bit data per kilowatt energi dibandingan generasi nirkabel sebelumnya,” jelas Dedy.

Adapun mengenai aspek kedua infrastruktur data, Kementerian Kominfo mendorong pengembangan Pusat Data Hijau (green data center) yang menggunakan energi terbarukan dengan lebih efisien.

“Dengan adanya metaverse, konsumsi data akan terus meningkat, dan oleh karenanya, Pusat Data Hijau menjadi penting untuk dikembangkan,” tegasnya.

Dalam aspek aplikasi, Kementerian Kominfo memfasilitasi pengembangan Smart City Masterplan bagi 141 kota dan kabupaten melalui Gerakan Menuju 100 Smart City sejak 2017 lalu.

“Salah satu dimensi pengembangan smart city adalah ‘smart environment’, di mana inovasi digital seperti digital twins dapat dipergunakan untuk melakukan simulasi solusi bagi lingkungan secara virtual dan mengurangi biaya operasional,” jelas Dedy Permadi.

Penulis: Febriansyah | Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi