Nalar.ID

3 Sebab Ekspor Kopi Tak Lagi Manis

Jakarta, Nalar.ID – Tren volume penurunan dialami ekspor kopi Indonesia. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), mencatat, hingga akhir 2018, ekspor diprediksi hanya berkisar 150.000 ton. Sementara, tahun 2017, sempat mencapai 230.000 ton.

Menurut Wakil Ketua AEKI Moelyono Soesilo, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (7/12), ada tiga hal yang memengaruhi lesunya volume ekspor.

Pertama, stok kecil di awal 2018. Akibatnya, tak mampu mencukupi permintaan luar negeri. Badai Elnino tahun 2015 menjadi pemicu, dengan stok 30.000 hingga 40.000 ton saja. “Stok tersisa tak dikonsumsi dalam negeri dan tak di ekspor 2018, diperkirakan jauh lebih besar,” ucapnya.

Estimasi produksi tahun ini adalah 660.000 – 690.000 ton. Sementara, konsumsi dalam negeri per tahun mencapai 320.000 – 330.000 ton. Proyeksi ekspor 150.000 – 160.000 ton. Sehingga, awal 2019 masih ada stok untuk ekspor 180.000 ton.

Kedua, terlambat panen. Sementara, stok awal tahun sangat kecil. Biasanya, kata Moelyono, keterlambatan terjadi pada Mei. “Tapi karena Mei (bulan) puasa, panen geser Juni semua,” tukasnya.

Dijadwalkan, pada 2019, panen terjadi awal tahun. Sebabnya, kondisi cuaca berimbang antara hujan dan panas. Sehingga, bila panen awal tahun, kualitas kopi yang dihasilkan lebih bagus dan volume lebih banyak.

Ketiga, harga kopi anjlok di pasar internasional. Moelyono menilai, harga komoditas kopi 1.600 dolar AS per ton. Padahal, diakuinya, sempat menyentuh 2.300 dolar AS per ton. Faktor lain, yakni harga semakin ditekan oleh kopi asal Vietnam dan Brasil. Harga dua kopi negara itu dinilai lebih murah ketimbang kopi asal Indonesia. Akibatnya, pergerakan kopi Indonesia kian menunjukkan tren penurunan ekspor.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi