Nalar.ID

4 Tips Berbisnis dari Pailit-nya PT Sariwangi

Nalar.ID, Jakarta – PT. Sariwangi Industrial Estate Agency, perusahaan founder produk teh SariWangi yang telah diakuisisi PT Unilever Indonesia Tbk., masih ramai diperbincangkan, sejak dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Niaga Jakarta Pusat, 17 Oktober lalu.

Walau pailit, tak berarti perusahaan itu bangkrut alias gulung tikar. Kabar gembiranya, penikmat sejati teh celup legendaris itu masih bisa mengonsumsi teh SariWangi, sebab sudah tak lagi berada di bawah bendera PT Sariwangi.

Informasi ini menuai beragam kekuatiran para pengusaha di Indonesia. Terutama pebisnis yang terjun di industri produk atau perkebunan teh, di masa depan. Berkaca dari kasus ini, ada pelajaran yang diperoleh para pengusaha dari pailitnya perusahaan ini.

Mau tahu? Berikut informasinya, diolah dari berbagai sumber:

Waspada Pinjam Dana Investasi

Semua tahu, bank punya pinjaman modal usaha bernama kredit investasi. Pinjaman ini berbunga kecil dengan plafon cukup besar. Sayangnya, ketika pebisnis gagal menganalisa risiko usaha mereka, ini berdampak fatal.

Contoh, PT Sariwangi. Mereka pinjam dana guna pengembangan teknologi penyiraman air (drainase) untuk meningkatkan produksi. Ironis, investasi ini gagal. Dampaknya, PT Sariwangi harus menanggung beban utang plus kerugian.

Memakai dana pribadi untuk mengembangkan usaha bisa jadi solusi aman. Kerugian diminimalisir. Tantangannya, bisa jadi, pengembangan yang Anda lakukan tak akan sebesar sesuai harapan. Pilih mana, mau tetap pinjam ke bank dengan risiko bunga atau pakai uang sendiri dengan semua serba terbatas?

Jangan Pinjam ke Banyak Bank

PT Sariwangi dan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, berutang sampai Rp 1,5 triliun. Ternyata, dibalik utang itu, banyak bank mengirim tagihan ke mereka. Mulai dari PT Bank Commonwealth, PT HSBC Indonesia, PT Bank ICBC Indonesia, PT Bank Panin Indonesia Tbk., dan PT Bank Rabobank International Indonesia.

Maksudnya, mungkin, untuk dapat plafon besar dari beberapa bank. Tapi beda bank, ya beda aturan dan bunga. Misalnya, bunga bank A lebih besar ketimbang B, atau sebaliknya. Akibatnya, arus kas dari perusahaan Sariwangi makin tak teratur.

Ontime Bayar Cicil Utang

PT Sariwangi, punya utang ke Bank ICBC senilai Rp 288 miliar. Sementara, dengan PT Indorub, mencapai Rp 33 miliar sampai Oktober 2017. PT Sariwangi, sempat tak menunaikan kewajibannya. Alhasil, pembayaran dilakukan Desember 2017, tapi tak jelas pembayaran untuk apa. Akhirnya, debitur berkewajiban bayar beban bunga dari utangnya.

Sebagai informasi, bagi yang pernah ajukan kredit, terlepas tanpa agunan, motor, mobil, atau kepemilikan rumah, jika terlambat bayar maka berlaku denda. Kian lama denda tak terbayar, denda semakin bengkak.

Bayangkan, Anda berutang untuk pengembangan usaha dan telat bayar. Ditambah, pengembangan usaha tak berjalan sesuai rencana. Jelas, rugi.

Bisnis Apapun, Konsumsi Masyarakat Indonesia sedang Turun

Hasil survei Bank Indonesia tahun 2017, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun 3 poin pascalebaran. Alhasil, proporsi pendapatan konsumen untuk bayar cicilan juga turun 13,4 persen, dari sebelumnya sebesar 13,5 persen. Rata-rata, proporsi pendapatan untuk menabung, meningkat 19,9 persen, dari sebelumnya 19,4 persen. Jelas sekali bahwa belakangan ini masyarakat giat menabung ketimbang konsumsi barang.

Direktur Eksekutif Dewan Teh Indonesia (DTI) Suharyo Husen, dalam keterangan sejumlah media, pekan lalu memaparkan bahwa sektor industri teh tak lagi populer seperti era 1970-an. Suharyo mengatakan, dari produksi industri teh nasional sebesar 130 ribu ton per tahun, 70 ribu ton adalah untuk ekspor, dan 60 ribu ton untuk dalam negeri.

“Konsumsi turun menjadi tantangan para pengusaha. Untuk kembali modal, sedikit makan waktu,” jawabnya. Misal, PT Sariwangi, tengah menggenjot investasi untuk meningkatkan produksi, sementara konsumsi masyarakat sedang menurun.

Kiat ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi Anda yang akan atau sedang menjalankan usaha.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ezar Radinka| Sumber: Dewan Teh Indonesia, Bank Indonesia

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi