Nalar.ID

5 Cara Jepang Hadapi Gempa dan Tsunami

Jakarta, Nalar.ID – Indonesia berdiri di atas pertemuan lempeng-lempeng tektonik. Alhasil, negara ini menjadi rawan gempa. Seperti Indonesia, Jepang juga wilayah rentan gempa. Bagi warga Jepang, gempa kecil dan besar sudah akrab di keseharian mereka. Terakhir, tahun 2011, negeri itu diterjang gempa besar 8,9 Skala Richter (SR).

Belajar dari bencana gempa bumi dan tsunami selama puluhan tahun, hingga meminimalisir kerusakan, Jepang punya langkah menyiapkan diri sebelum gempa. Informasi dihimpung dari laman Jpninfo, Senin (24/12).

Berikut 5 cara Jepang menghadapi bencana alam.

Sistem Dini Peringatan

Semua ponsel warga di Jepang memasang sistem peringatan gempa atau tsunami. Sistem ini memberi peringatan 5 sampai 10 detik sebelum bencana terjadi. Termasuk peringatan tambahan waktu untuk melarikan diri ke tempat aman. Sementara, di pesisir yang berpotensi tsunami, dibangun peringatan sekitar 5-10 menit sebelum tsunami datang.

Bangunan Tahan Gempa

Di Jepang, semua bangunan patuh aturan pemerintah dan memenuhi dua syarat. Pertama, tidak runtuh karena gempa bumi dalam 100 tahun kedepan. Kedua, dijamin tak rusak dalam 10 tahun pembangunan. Semua bahan untuk konstruksi harus patuh aturan ketat dari pihak berwenang.

Tingkatkan Pengetahuan

Pemerintah ini fokus meningkatkan pengetahuan dan pelatihan masyarakatnya. Seperti teratur melatih simulasi bencana. Latihan tersebut sudah diajarkan sejak usia taman kanak-kanak (TK) dan sekolah menengah, hingga anak muda. Warga juga diajarkan tidak panik saat bencana terjadi. Berlari teratur dan tak terburu-buru.

Mematikan Gas

Salah satu hal penting pencegahan bencana adalah peranan para ibu rumah tangga. Sebab, gempa bumi kemungkinan memengaruhi saluran pipa gas. Ini memicu ledakan dan kebakaran. Maka itu, setiap gempa terjadi, ibu rumah tangga di Jepang dilatih bergegas ke dapur mematikan gas. Termasuk mematikan listrik jika perlu.

Pencegahan Terpadu

Untuk meminimalisir dampak kerusakan  bencana alam, pemerintah sana memberi panduan luas cara bertahan hidup usai gempa atau tsunami. Negara ini membangun sistem darurat melalui posko pengungsian. Kemudian, setiap warga menyiapkan ransel darurat. Fungsinya, menyimpan hal penting seperti obat-obatan, senter, selimut, makanan, dan lainnya. Semua persiapan ini untuk bertahan hidup tiga hari sampai sepekan kedepan.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi