Nalar.ID

5 Hal Bangun Budaya Kerja dan Didik Talenta di Startup

Nalar.ID – Menyambut kemajuan era digital, Indonesia dihadapkan oleh minimnya talenta-talenta berkualitas. Padahal, talenta adalah aset penting membangun ekosistem digital. Terlebih, persaingan  terjadi antar-startup dalam merebutkan talenta berbakat.

Selain itu, startup dituntut eksploratif  menghadapi perkembangan teknologi dan pasar yang terus dinamis. Maka itu, butuh budaya kerja tepat. Tujuannya, agar startup jadi tempat berkarya yang nyaman oleh setiap karyawan.

Dilansir DailySocial, dalam ajang idEA Works beberapa waktu lalu, Founder dan CEO DailySocial Rama Mamuaya, berbagi pengalaman.

Terutama pandangan membangun budaya kerja di startup. Serta mendidik orang menjadi talenta potensial dan berkualitas di bidangnya. Apa saja? Berikut pengalaman inspiratif Rama Mamuaya:

Jaga Integritas

Sebagai perusahaan media bidang teknologi, Rama menuturkan, pentingnya integritas pada para pembaca. Integritas penting untuk menyajikan berita terpercaya dan berkualitas.

Perusahaan harus selalu hati-hati memekerjakan talenta baru. Tak sekadar mengisi kekosongan posisi. Terlebih, menyambut Revoilusi Industri 4.0, kata Rama, talenta menjadi aset penting. Sebabnya, mereka tak ingin buru-buru hire orang untuk menjaga integritas para pembaca.

Branding Media Sosial

Dunia digital berkembang menjadi medan baru untuk sejumlah orang. Setidaknya, sebagian dari kita punya lebih dari dua akun media sosial untuk interaksi dengan banyak orang.

Yang mungkin kita tak tahu, beberapa perusahaan kini telah memberlakukan rekam jejak digital sebagai salah satu persyaratannya. Ini untuk melihat attitude seseorang. Tetapi, Rama punya pandangan beda.

Menurutnya, media sosial, sebetulnya bisa dimanfaatkan sebagai personal branding sebagai ruang kebebasan dan wadah ekspresi diri. “Saya percaya rekam jejak digital, tapi kita tidak seperti itu. Negatif dan positif, itu subjektif. Kalau menurut saya negatif, belum tentu buat orang lain. Soal attitude, sebetulnya mau tak mau dilihat ketika probation. Kalau tidak perform, kita cut,” jelasnya.

Transparan dan Inisiatif

Kata Rama, kultur kerja bisa bangun kualitas talenta lebih baik. Ada beberapa hal yang perlu ditanam ke para karyawan. Seperti nilai transparansi dan inisiatif.

“Inisiatif yang dimaksud, kalau yakin ada pekerjaan bisa dilakukan, ambil andil di dalamnya. Terlebih kamu yakin dengan metodemu dalam menyelesaikan pekerjaan,” ujar Rama.

Demikian pula transparansi dan kejujuran yang dijunjung tinggi perusahaan. Artinya, jika merasa tak bisa menyelesaikan pekerjaan, karyawan tak dipaksa melakukan. “Kalau bisa, katakan iya. Kalau tidak, ini akan makan waktu dan tenaga. Lebih baik dilakukan orang yang tepat,” ujarnya.

Risk Tolerance

Nilai lain yang dibangun dalam kultur kerja, kata Rama, ialah memberi kesempatan ke siapapun di perusahaan untuk menjajal sesuatu dan eksperimen. Karena bukan tidak mungkin, eksperimen ini bisa menghasilkan sesuatu bermanfaat bagi perusahaan.

Menurutnya, ini salah satu perbedaan startup dengan perusahaan korporat. “Kalau punya ide, silakan eksekusi. Tapi kami beri deadline untuk merealisasikan. Engineer kami pernah coba buat aplikasi, kami biarkan. Memang, hasil tak sesuai, tapi ia belajar dari situ,” tukasnya.

Cukup Cepat, Tetap Dinamis

Startup harus dinamis ikut perkembangan pasar. Tidak heran bila startup biasa eksperimen untuk dapat solusi disruptif. Kultur ini sangat berbeda dengan perusahaan konvensional.

Rama menekankan pentingnya kerja lebih cepat ketimbang perusahaan konvensional untuk menghemat waktu dan biaya. “Tapi juga jangan terlalu cepat, tidak baik. Butuh uji coba (solusi) sebelum launch ke pasar,” katanya.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi