Nalar.ID

5 Kiat Harry Tjahaja Purnama Kelola Desa Wisata

Nalar.ID, Jakarta – Seiring dengan tujuan pembangunan kepariwisataan, Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan desa wisata.

Ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menghapus kemiskinan, kesejahteraan rakyat, melestarikan alam, mengatasi pengangguran, memajukan kebudayaan, hingga lingkungan dan sumber daya.

Selain itu pengembangan desa wisata adalah salah satu bentuk percepatan pembangunan desa secara terpadu. Fungsinya, untuk mendorong, ekonomi desa, budaya, dan transformasi sosial.

Terkait hal itu, Pemerintah baru saja menggelar penyelenggaraan Malam Anugerah Desa Wisata 2021 akhir tahun lalu.

“Penyelenggaraan ini sebagai momentum dalam mendorong geliat pengembangan desa wisata, dalam pemulihan ekonomi nasional,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, belum lama ini, dalam sejumlah keterangan media.

Bersamaan dengan hal ini, Pemerintah menetapkan kebijakan bagi warga negara asing dari 23 negara diperbolehkan berwisata, khusus hanya di Bali. Aturan ini mulai ditetapkan Senin, 7 Maret 2022.

Namun, aturan ini hanya berlaku untuk wisatawan yang akan berkunjung ke Bali. Dalam kesempatan terpisah, pengamat pariwisata dan Wakil Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Harry Tjahaja Purnama menyampaikan gambaran analisa pengembangan desa wisata dan kaitan dengan daya saing global.

Berikut penuturan khusus Ceppy Febrinika Bachtiar dari Nalar.ID, Rabu, 9 Maret 2022.

Bagaimana upaya mendorong desa wisata agar jadi destinasi liburan berkualitas dengan daya saing global?

Akhir-akhir ini, kita banyak melihat di media sosial dan banyaknya desa wisata di banyak tempat, apakah desa wisata ini benar-benar dapat menjadi primadona, atau bahkan nantinya menjadi destinasi wisata?

Lalu?

Pertama-tama, kita harus mengetahui dahulu bahwa pariwisata adalah mengenai object wisata. Jadi, object wisata apa yang ada di daerah tersebut. Desa wisata biasanya adalah penunjang, atau di sekolah pariwisata sebagai transit center.

Apakah desa wisata itu bisa berdiri sendiri?

Untuk langsung menjadi destinasi, ya tentu saja tergantung dari daya tarik atau apa yang bisa disuguhkan oleh desa wisata tersebut. Setiap desa, sungai, dan pantai, semua bisa menjadi tempat wisata. Hal terpenting adalah kita harus memperhitungkan beberapa hal.

Apa saja?

Pertama, letak desa wisata tersebut secara geography. Kedua, infrastructure ke desa tersebut. Tiga, potensi market wisata, apakah lokal, kabupaten, provinsi, nasional, atau international. Ini tergantung main attraction dan lokasi.

Misalnya, di Bali, tentu saja desa wisata akan bisa memiliki potensi menjadi destinasi international karena market international sudah ada di Bali. Empat, memberikan latihan-latihan, seperti homestay, packaging product yang di tawarkan, hospitality culture (service culture), UMKM (usaha kecil mikro menengah), dan sebagainya.

Lima, di sisi lain pemerintah, terutama pengelola desa pariwisata, harus memperhitungkan untung-rugi. Jangan sampai investasi besar namun dengan perhitungan yang kurang matang malah penduduk setempat menjadi kecewa karena tidak ada pendatang.

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi