Nalar.ID

5 Salah Kaprah Kartu Kredit

Jakarta, Nalar.ID – Sales bank pernah menawari Anda pembuatan kratu kredit? Respons Anda, terima atau menolak? Saat ini, kalangan perbankan dan instansi keuangan lain gencar menerbitkan kartu kredit untuk transaksi. Diketahui, penggunaan produk kartu sakti ini masih terbilang rendah di Indonesia.

Sampai kuartal pertama akhir 2018, transaksi kartu kredit mencapai Rp2,24 triliun. Volume transaksi pun hanya menembus 2,02 juta transaksi.

Minimnya orang yang memiliki kartu ini kerap bersinggungan dengan ‘malapetaka’ finansial kehidupan mereka. Berikut salah kaprah dan pemahaman tentang kartu kredit, seperti dikutip CekAja.com, Kamis (3/1).

Konsumtif

Sering mendengar ada teman, saudara, atau kerabat, melarang memiliki kartu ini? Alasannya, mendidik dan membawa menjadi pribadi konsumtif. Tidak salah. Bila merasa kartu ini bikin boros dan sering belanja ini-itu, yang salah adalah pribadinya. Jika merasa tak perlu belanja apapun walau memegang beberapa kartu, sebaiknya tak perlu belanja. Kecuali sangat butuh belanja barang tertentu.

Bahaya! Jangan Punya

Pemahaman masih banyak diterima masyarakat. Mereka kira, kartu ini sumber boncos keuangan mereka setiap bulan. Padahal, sama sekali tak ada efek bahaya. Asalkan pemilik kartu menggunakan secara baik dan bijak. Bahkan, bisa memberi keuntungan. Seperti untuk memanfaatkan promo, diskon, sampai cashback, saat belanja di restoran, hotel, supermarket, atau transaksi lain.

Tak Sesulit Bayangan

Salah satu alasan seseorang malas buat kartu kredit karena proses pembuatan sulit dan rumit. Selama memenuhi syarat, pembuatan tak sulit. Memang, bila Anda rencana mengajukan pembuatan kartu ini, akan banyak ditanya tentang kondisi keuangan dan penghasilan. Ini untuk menjadi patokan penerbitan kartu

Bisa Dimiliki Pekerja Tetap

Siapa bilang kartu ini hanya bisa dimiliki pekerja tetap? Asumsi ini masih marak di masyarakat. Padahal, wirausaha sampai pekerja paruh waktu pun bisa memiliki sebagai alat transaksi non-tunai. Jangan salah, pekerja freelance banyak dapat job dari luar negeri dengan sistem pembayaran paypal. Untuk verifikasi paypal, butuh kartu kredit.

Pengganti Utang

Banyak anggapan bahwa ini merupakan kartu utang. Bisa digunakan kapan saja ketika tidak punya dana tunai. Salah besar. Pemahaman ini masih banyak dipercaya sampai saat ini.

Padahal, kartu itu nyaris mirip kartu debit yang biasa digunakan saat transaksi tanpa harus keluar uang tunai. Bedanya, kartu debit untuk transaksi dengan syarat harus tersedia uang di rekening. Sementara, kartu kredit bisa transaksi dengan dibayarkan usai hasil transaksi digunakan. Pengguna kartu kredit tak terkena bunga selama pembayaran tepat waktu. Sebaliknya, jika telat bayar, dibebankan bunga dengan besaran sesuai kesepakatan.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ezar Radinka

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi