Nalar.ID

7 Cara Bos Bank Swasta Terbesar di Indonesia Ini Pimpin Pegawai

Jakarta, Nalar.ID –  Majalah Forbes, merilis daftar 2.000 perusahaan tempat kerja terbaik di dunia, 24 Oktober 2018. Laporan itu terkait lingkungan kerja terbaik di dunia atau ‘Global 2000 List of the World’s Best Employers List 2018’.

Enam perusahaan terbaik dunia asal Indonesia masuk deretan tersebut. Salah satunya bank swasta terbesar di Indonesia: PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. Di dunia, bank tersebut masuk peringkat 32.

Tidak mudah memimpin perusahaan besar. Butuh kepemimpinan yang hebat. Termasuk Jahja Setiaatmadja. Pria ini menduduki kursi Direktur Utama BCA sejak 2011.

Di bawah kepemimpinannya, BCA menjadi salah satu bank terkemuka, ternama, dan go-international. Berkat kesuksesannya di industri keuangan, ia dinobatkan menjadi salah satu CEO terbaik.

Berikut fakta dan keseharian Jahja, seperti dikutip dari CNBC.

Punya Komunitas

Berkepribadian santai dan baik terhadap pegawai dan awak media. Uniknya, beberapa orang mendirikan komunitas JFC atau Jahja Fans Club. “Kapan saja mereka bisa Whatsapp (WA) saya. Bisa juga jawab ke anak buah atau (saya) langsung,” kata Jahja.

Pribadi Santai

Berkarakter cukup santai dan tak terlalu serius dengan tim kerja. Cukup secara normal. Tak ada batasan antara pegawai dan dirinya. “Siapa saja yang mau bertemu atau Whatsapp (WA), saya tinggal atur waktu,” ucapnya.

Humoris
Senang bercanda dengan pegawainya. Mencari hal lucu agar suasana cair. Suatu saat, Jahja cerita. Waktu lunch bersama, dengan wajah serius, ia tanya ke rekannya di bagian logistik:

“Eh, harga kalender meja berapa?,” tanya Jahja. Rekannya bilang: “Kira-kira Rp 23 ribu, pak.”

“Itu ada yang jual Rp 100 ribu, kok, laku keras, ya? Karena katanya tanggal merahnya lebih banyak dari yang lain.”

Tak Marah Sejak 1990
Saat ada yang tanya, sebagai pemimpin, apakah Jahja dikenal galak? Jahja menjawab: “Dari 1990, saya belum pernah memaki atau memarahi orang.”

Persuasif

Jika ada kekurangan, biasanya, Jahja, akan panggil orang itu ke ruangan untuk mengobrol bersama. Kemudian diskusi dan membereskan bersama. Setelah itu merencanakan tindakan yang harus dilakukan, seperti kelengkapan kerja atau training.

Anti Amarah
Ia mengatakan, seseorang dapat sadar atas kekurangan dan akan merasa banyak mendapatkan pelajaran bila diberikan kesempatan untuk belajar. Menurutnya, ini lebih positif ketimbang marah-marah. “Enggak akan positif karena menyenangkan diri kita tapi menyakiti orang lain,” ujarnya.

Kolaborasi Solutif

Menurutnya, sebagai atasan, hal ini bukan marah tapi mengajak berbicara. Lalu mencari kelemahan atau kekurangan bersama. “Tak ada gading yang tidak retak. Kita perbaiki bersama,” ucapnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi