Nalar.ID

70 Persen Lebih Perempuan Pelaku Prostitusi Online Depresi Tinggi

Jakarta, Nalar.ID – Status artis Vanessa Angel atau VS, yang semula hanya saksi, kini resmi berubah menjadi tersangka sejak Rabu (16/1) lalu. Hal ini disampaikan oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, usai hasil penyelidikan VA. “Kami tetapkan VA dari saksi sebagai tersangka,” ucap Luki.

Menyoroti masalh ini, aktivis perempuan dan Ketua Perlindungan, Perempuan, dan Anak (YPPA), Raden Siti Fitrie Kirana atau Ade, mengaku prihatin atas kejadian ini. Menurutnya, hubungan seksual yang tak melibatkan perasaan kasih sayang dan hanya dilakukan dengan imbalan uang atau barang, bisa diartikan sebagai tindakan prostitusi.

“Di Indonesia, prostitusi merupakan tindakan yang bertentangan dengan moralitas, agama, budaya, peradaban, dan hukum negara,” tukasnya.

Ade mencatat, dari angka penelitian internasional, lebih dari 70 persen perempuan pelaku prostitusi mengalami depresi tingkat tinggi. Tak sedikit dari mereka berupaya bunuh diri.

Ada pemahaman di masyarakat, pria yang terlalu mendominasi perempuan, membuat perempuan berada di titik lebih rentan untuk dipaksa menjadi objek prostitusi demi berjalannya roda perekonomian keluarga.

Raden Siti Fitrie Kirana - nalar.id
Raden Siti Fitrie Kirana. NALAR/Dok.Pribadi.

“Ada satu kenyataan yang dilupakan para pelaku prostitusi, yaitu prostitusi tak akan menghilangkan kemiskinan. Tapi menciptakan bentuk dan dimensi lain dari kemiskinan pada pribadi objek prostitusi dan keluarganya,” jelasnya.

Tingkatkan Edukasi

Dalam prostitusi online, lanjutnya, para pelaku tak semua mengincar keuntungan finansial saja. “Kalau fenemona ini dipelajari seksama, tak sedikit ditemukan pelaku seks menyimpang berkedok prostitusi online. Disitu ada exhibitionism, voyeurism, sexual sadism, dan fetishism. Itu juga beberapa contoh penyimpangan,” tuturnya.

Lalu, bagaimana mencegah praktik tersebut? Menurut Ade, mulai meningkatkan edukasi dan mempertajam hukuman bagi otak-otak dibalik prostitusi online. Khususnya para muncikari melalui beberapa pendekatan.

Smart filtering harus proaktif oleh otoritas negara terhadap jaringan internet dan media sosial. Ini untuk mencegah konten-konten yang berhubungan prostitusi online dan hal-hal membahayakan lain,” jawabnya.

Lama bergelut dan mengadvokasi di bidang perlindungan perempuan dan anak, Ade, mengatakan bahwa ranah perlindungan terhadap perempuan begitu luas.

YPPA, sejauh ini, menangani beberapa persoalan utama kaum perempuan. Diantaranya membantu advokasi bagi para korban kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual dan kekerasan lain. Termasuk memberikan edukasi kesehatan.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi