Nalar.ID

9 Fakta Pajak Penghasilan, Wajib Pekerja Ketahui

Jakarta, Nalar.ID – Besaran upah yang dikeluarkan tak sama dengan gaji yang diterima pegawai setiap bulan. Selain itu, penghasilan yang didapat dari bisnis turut dikenakan pajak. Pajak penghasilan ini digunakan untuk kemakmuran rakyat.

Apa dan bagaimana pajak penghasilan? Situs Qerja.com, seperti dilansir Nalar.ID, Senin (17/12), membagikan untuk Anda terkait pajak penghasilan. Berikut beberapa faktanya.

Istilah

Pajak penghasilan merupakan pajak negara. Pajak ini dikenakan kepada setiap wajib pajak, yaitu orang pribadi atau badan, atas penghasilan yang diterima satu tahun pajak. Ini adalah pajak langsung. Bebannya ditanggung sendiri oleh wajib pajak dan tak bisa dialihkan ke orang lain.

Pembayaran

Proses pembayaran pajak dilakukan yang bersangkutan. Ini termasuk pajak pusat, dikelola pemerintah pusat, yakni Direktorat Jenderal Pajak. Pajak yang dikelola digunakan untuk kemakmuran rakyat. Membangun fasilitas umum, subsidi barang kebutuhan masyarakat, usaha mikro, dan lainnya.

Dasar Hukum

Undang-Undang (UU) yang dihasilkan setelah reformasi pajak 1983 adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983. Peraturan ini menjadi dasar hukum pajak penghasilan pada awalnya. Perbedaan tata cara perpajakan setelah reformasi diantaranya menempatkan pembayar pajak sebagai subjek yang punya hak dan kewajiban, serta self assessment. Jadi, pembayar pajak bukan sekadar objek kekuasaan semata.

Beberapa Kali Berubah

Setelahnya, peraturan pajak penghasilan berrubah beberapa kali. Mulai dari UU Nomor 7 Tahun 1991, UU Nomor 10 Tahun 1994, dan UU Nomor 17 Tahun 2000. Terakhir, peraturan pajak penghasilan disempurnakan pada UU Nomor 36 Tahun 2008. Beberapa perubahan aturan baru, yakni biaya tambahan yang termasuk penghasilan kena pajak, jumlah penghasilan tidak kena pajak, dan ketentuan pajak suami istri lebih detail.

Subjek Pribadi

Menurut UU Nomor 36 Tahun 2008, subjek pajak pribadi adalah orang pribadi yang tinggal di Indonesia. Orang yang dimaksud berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam 12 bulan. Selain itu, orang pribadi dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan punya niat tinggal di Indonesia.

Subjek Badan

Sementara, subjek pajak badan didirikan atau berkedudukan di Indonesia.

Subjek pajak dikenai pajak jika dapat atau terima penghasilan. Subjek pajak yang memeroleh penghasilan disebut wajib pajak. Wajib pajak dikenai pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu tahun pajak.

Objek Pajak

Objek pajak dalam UU adalah setiap tambahan ekonomis yang diterima wajib pajak untuk konsumsi atau menambah kekayaan bagi wajib pajak. Beberapa pendapatan dalam objek pajak pada Pasal 4 Ayat 1 UU No. 36 Tahun 2008, yakni imbalan berkenaan pekerjaan atau jasa. Imbalan itu berupa gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, dan lainnya.

Laba Objek Pajak

Sementara, sejumlah pendapatan dari bisnis yang termasuk objek pajak, yakni keuntungan penjualan, laba usaha, dan penghasilan usaha berbasis syariah. Lalu, royalti atau imbalan atas penggunaan hak, sewa dan penghasilan lain sampai perolehan pembayaran berkala dikenakan pajak penghasilan.

Besaran Nilai

Besaran pajak yang dikenakan setiap orang tak sama. Berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 17 tentang Pajak Penghasilan, besaran pajak penghasilan diatur berdasarkan NPWP (nomor pokok wajib pajak) dan besaran pendapatan seseorang. Penghasilan kena pajak pemilik NPWP berpendapatan Rp 50 juta ke bawah hanya 5 persen. Sementara, subjek pajak berpenghasilan di atas Rp 50 juta sampai Rp 250 juta dibebani pajak 15 persen.

Subjek pajak dengan NPWP berpenghasilan diatas Rp 250 juta hingga Rp 500 juta harus bayar pajak 25 persen. Sementara pribadi pemilik NPWP berpenghasilan diatas Rp 500 juta wajib dikenakan pajak 30 persen. Sementara, penerima penghasilan yang dipotong PPh 21 dan tak punya NPWP, dikenakan pemotongan PPh 21 dengan tarif lebih tinggi 20 persen ketimbang tarif diterapkan pada wajib pajak yang memiliki NPWP.

Penulis: Erha Randy, Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi