Nalar.ID

AJI Jakarta: Upah Layak Jurnalis Jakarta Rp 8,42 Juta

Jakarta, Nalar.ID – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta merilis besaran upah layak jurnalis pemula tahun 2019 sebesar Rp 8,42 juta per bulan. Angka upah layak itu adalah take home pay atau gaji total setiap bulan yang diperoleh jurnalis.

Angka upah layak ini ditetapkan berdasarkan kebutuhan hidup layak di Jakarta. Ada 40 komponen kebutuhan hidup layak jurnalis sesuai lima kategori, ditambah alokasi tabungan 10 persen.

Kategori itu diantaranya makanan (36,19 persen), transportasi dan komunikasi (32,47 persen), tempat tinggal (11,87 persen), alokasi tabungan (9,09 persen), sandang (7,80 persen), dan kebutuhan penunjang (cicilan telepon seluler 2,67 persen).

Selain itu, ada pula kebutuhan untuk memperluas wawasan jurnalis. Seperti bahan bacaan dan langganan koran atau majalah, baik daring maupun luring. Hal ini yang menyebabkan upah layak jurnalis di atas upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta 2019 sebesar Rp 3,94 juta.

Dalam diskusi di Jakarta, belum lama ini, Ketua Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, Aulia Afrianshah, menuturkan, pihaknya mendesak perusahaan media mengupah jurnalisnya secara layak agar jurnalis bisa bekerja dengan profesional dan independen.

Upah Kecil, Potensi Sogok
“Pemenuhan upah layak jurnalis penting, sebab bisa meningkatkan mutu dan kualitas produk jurnalistik. Jurnalis penerima upah layak dapat bekerja profesional dan tidak rentan tergoda menerima amplop. Ini (amplop) yang sebenarnya merusak independesi jurnalis,” kata Aulia.

Ia menambahkan, gaji atau upah kecil, bahkan di bawah UMP Jakarta, berpotensi menyebabkan jurnalis menerima sogok dari narasumber. Atau siapapun yang berkaitan dengan pemberitaan.

“Ini menyebabkan jurnalis itu bias dan tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai salah satu pilar demokrasi dan menjaga kepentingan publik. Jurnalis salah satu profesi berisiko tinggi. Sudah sepatutnya memeroleh upah layak,” tambahnya.

Sebelumnya, AJI Jakarta, melakukan survei upah riil terhadap jurnalis pemula di Jakarta. Survei berlangsung November hingga Desember 2018. Responden survei, yakni wartawan muda atau pemula, dengan masa kerja di perusahaan media antara 1 – 3 tahun.

Diketahui, Dewan Pers, mengategorikan wartawan muda, yakni yang memiliki masa kerja sebagai jurnalis kurang dari 5 tahun. Hasil temuan survei, upah riil yang diterima jurnalis masih jauh di bawah standar upah layak AJI Jakarta.

Satu Media
Berdasarkan hasil survei, hanya satu media yang menggaji jurnalisnya di atas standar upah layak, yaitu Harian Kompas. Cukup memprihatinkan, sebab, hanya terdapat 10 media yang menggaji wartawannya di bawah UMP Jakarta 2019. Padahal inflasi terus terjadi setiap tahun.

“Jurnalis belum mendapatkan hak-hak mendasar layaknya pekerja lain,” imbuhnya.

Dari 87 responden survei, sebanyak 40 persen menyebut, hari libur para jurnalis kurang dari dua hari dalam sepekan. Mayoritas jurnalis (32 persen), bekerja lebih dari 10 jam sehari. Sementara, 95 persen menyatakan tidak mendapatkan uang lembur ketika bekerja lebih dari 8 jam sehari.

“Di luar upah layak, perusahaan media wajib memberi jaminan keselamatan kerja, kesehatan, dan sosial, kepada setiap jurnalis beserta keluarganya,” ungkapnya.

Hal ini termasuk hak mendasar seperti jam kerja, hak lembur dan jatah libur. Aturan-aturan ini diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Sejauh ini, Pasal 8 Peraturan Dewan Pers Nomor 4/Peraturan-DP/III/2008 tentang Standar Perusahaan Pers, hanya mewajibkan perusahaan media membayar upah jurnalis dan karyawan, sekurang-kurangnya sesuai UMP minimal 13 kali dalam setahun.

Di kesempatan yang sama, Sekretaris AJI Jakarta Afwan Purwanto menyatakan, AJI Jakarta mendorong agar ada perubahan aturan standar perusahaan pers. Setidaknya, kata dia, jurnalis digaji minimal 14 kali dalam setahun.

Tak hanya itu, AJI Jakarta, juga meminta Dewan Pers tak hanya mendorong jurnalis untuk sertifikasi. “Tapi mendorong perusahaan (media) agar menggaji jurnalisnya secara layak. Jangan sampai jurnalis tersertifikasi, tapi gajinya belum layak,” sambung Afwan.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi