Nalar.ID

Alat Deteksi Kanker Usus Buatan Kemenkes-Biofarma

Nalar.ID, Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menginisiasi penggunaan BioColoMelt-Dx di RS Kanker Dharmais, Jakarta. BioColoMelt-Dx adalah kit diagnostik molekuler untuk mendeteksi kelainan genetik pada pasien kanker kolorektal.

Hasil pemeriksaan BioColoMelt-Dx berupa informasi profil mutasi kanker yang dapat digunakan oleh dokter atau tenaga medis lain guna menentukan jenis obat yang memberi respon terapi paling optimal pada pasien kanker kolorektal.

Selain itu, BioColoMelt-Dx juga bisa digunakan untuk penapisan (screening) Lynch syndrome, suatu kondisi yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap berbagai macam kanker dan bersifat keturunan.

Dengan diperolehnya informasi Lynch syndrome dari hasil penapisan, keluarga pasien yang terduga punya Lynch syndrome dapat menjalani pengawasan untuk pencegahan atau penanganan kanker sedini mungkin.

“Kanker itu terjadi karena mutasi dari DNA seseorang. Dalam perjalanan hidup manusia, DNA itu bisa berubah. Itu yang memicu kanker. Untuk melihat perubahan DNA, perlu PCR. Itu teknologi sederhana. Lebih murah alatnya seperti BioColoMelt-Dx. Dengan teknologi ini, bisa mendeteksi perubahan DNA di posisi-posisi tertentu. Kalau sudah tahu perubahan DNA, kita tahu persis kankernya kanker apa dan di mana sehingga pengobatan bisa lebih cepat dan tepat,” kata Menkes Budi.

Diketahui, kanker kolorektal adalah sebutan lain untuk kanker yang menyerang usus besar (kolon), rektum, atau keduanya.

Berdasarkan data WHO tahun 2018, kanker kolorektal menempati peringkat ketiga dunia untuk jenis kanker yang paling umum terjadi. Di Indonesia, berdasarkan data Globocan tahun 2020, kanker kolorektal menduduki peringkat keempat kanker dengan kasus baru terbanyak di Indonesia.

Setidaknya, terdapat 35 ribu jumlah pasien yang terdiagnosis kanker kolorektal setiap tahun. Lalu, 35 persen di antaranya menyerang penduduk Indonesia usia produktif (di bawah 40 tahun). Sedangkan angka kematian di Indonesia mencapai 6,7 dari 100 ribu kasus.

Penulis: Alamsyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi