Nalar.ID

Anna Mariana: Tenun Pertahanan Budaya dan Jati Diri Bangsa

Nalar.ID, Jakarta – Sejatinya, tenun dan songket bukan hanya selembar kain. Namun, simbol budaya yang adiluhung telah merasuk dalam kehidupan sosial dan mengandung nilai spiritual masyarakatnya.

Tak hanya corak, motif atau warna berbeda, tetapi filosofi yang melatarbelakangi setiap karya selalu mengikuti keberadaannya. Semua menjadi sebuah identitas bangsa. Begitu pula dengan batik, tenun dan songket merupakan aset dan warisan budaya tak benda leluhur bangsa Indonesia.

“Di era modernisasi ini makin menggerus keberadaan warisan budaya ini. Tak hanya jumlah perajin yang semakin sedikit, namun sedikit generasi bangsa ini yang memakainya dalam kehidupan,” kata Anna Mariana, pelopor tenun Indonesia dan Ketua Umum Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara (YCBKI), dalam diskusi webinar ‘Tenun Sebagai Benteng Pertahanan Budaya dan Jati Diri Bangsa’ oleh Yayasan Budaya Kain Nusantara dan Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia, Rabu (29/9/2021).

Selain Anna, acara ini menghadirkan sejumlah pemateri. Di antaranya Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pendidikan Kebudayaan-Ristek, dan perwakilan dari Dewan Keraton Nusantara. Termasuk Ketua Umum Dharma Pertiwi & IKKT, istri Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Nanny Hadi Tjahjanto, yang mendukung kegiatan webinar tersebut.

Adapun, keterlibatan Dharma Pertiwi, harapannya, menjadi momentum imbauan di kalangan anggota Dharma Pertiwi. “Hal ini untuk mewajibkan penggunaan tenun dalam kegiatan mereka sebagai awal upaya penggunaan tenun sebagai cara mempertahankan identitas budaya bangsa,” tambah Anna.

Adapun, webinar ini memiliki tujuan sebagai awal kegiatan dalam upaya mendorong diresmikannya 7 September sebagai Hari Tenun Nasional. Anna juga mengajak seluruh lapisan masyarakat mengenal budaya tenun nusantara.

“Serta menjadikan budaya tenun sebagai salah satu sarana untuk mempertahankan identitas budaya dan jati diri bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Diketahui,  Anna dikenal sebagai sosok perempuan Indonesia pelopor Hari Tenun Nasional (HTN).  Ia juga pendiri KTTI bersama Yayasan CBKN, serta Asosiasi Perajin Tenun Songket Indonesia (APTS). Ia mendedikasikan diri dan berjuang untuk menaungi para perajin tenun songket binaannya yang ada di 34 provinsi di Indonesia.

“Misi gerakan ini adalah mendukung program pemerintah untuk mengurangi pengangguran melalui peningkatan produksi industri ekonomi kreatif. Termasuk pemberdayaan dan pembinaan perajin tenun tradisional Indonesia,” tukasnya.

Usaha dalam menggagas peringatan HTN terus dilakukan sejak 24 Februari 2019, dengan deklarasi bahwa HTN ditetapkan pada 7 September.

Anna juga mengimbau agar masyarakat dapat meningkatkan rasa kecintaan pada produk dalam negeri melalui tenun-tenun tradisional Indonesia. “Ini karya anak bangsa  yang menjadi  karakter dan jati diri bangsa. Termasuk kebanggaan Indonesia di mata dunia,” tutupnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi