Nalar.ID

Aparat Halangi Kerja Tim Medis pada Aksi 21 – 23 Mei 2019

Nalar.ID – Lembaga sosial kegawatdaruratan medis, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menilai, ada upaya menghalangi kerja tim medis pada aksi massa 21 – 23 Mei 2019.

Ini menjadi catatan khusus MER-C. Pasalnya, tim medis adalah pekerja kemanusiaan. Diketahui, MER-C terlibat menurunkan tim sejak 21 Mei dini hari hingga 23 Mei 2019.

Lebih dari 30 relawan diterjunkan dalam aksi itu. Mulai dari dokter, perawat, dan logistik medis. Termasuk menyiagakan 4 unit kendaraan operasional. Hal ini dilakukan untuk memberi bantuan medis ke para korban dari masyarakat dan aparat.

Konvensi Jenewa

Sayangnya, kata Joserizal Jurnalis, pendiri dan Dewan Penasehat MER-C, dalam unjuk rasa tersebut, ada kesan petugas kepolisian menghalangi petugas medis melakukan evakuasi.

“Ambulans tidak boleh masuk wilayah konflik. Di Konvensi Jenewa I Pasal 25 tahun 1949, petugas medis pihak yang harus dilindungi keberadaannya dalam situasi konflik dan perang,” ujar Joserizal, dalam jumpa pers di kantor MER-C, di Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

Menurutnya, aparat harus menjadi pelindung saat petugas medis sedang melaksanakan tugasnya. Ini poin pentingnya. Ia menyatakan, dalam sebuah perang, warga sipil harus dihormati.

“Meskipun terlibat dalam evakuasi korban. Tidak terlibat maupun ikut unjuk rasa. Dalam keadaan perang sekalipun ada etika, tak sembarangan membunuh orang,” tukasnya.

Hormati Petugas Medis

Masih dalam Konvensi Jenewa, lanjutnya, dalam ketentuan itu disebut, ketika perawat, petugas rumah sakit, atau pengangkut tandu tambahan, dalam upaya pencarian atau pengumpulan, pengangkutan atau perawatan orang terluka dan sakit, harus dihormati.

“Mereka juga harus dilindungi saat bertugas. Termasuk saat kontak dengan musuh atau jatuh ke tangannya,” tambahnya.

Dijelaskan pula, orang yang terlibat dalam operasi dan administrasi rumah sakit sipil, termasuk personel yang terlibat pencarian, pemindahan dan pengangkutan, dan perawatan warga sipil yang terluka dan sakit, termasuk kasus lemah dan bersalin, harus dilindungi dan dihormati.

“Tapi yang terjadi di lokasi malah sebaliknya. Langkah aparat tak sesuai prosedur dan etika. Ada penyerangan kendaraan transportasi medis. Serta perlakuan tidak baik terhadap para relawan medis,” imbuhnya.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi