Nalar.ID

Asuransi hingga Bunga, Aturan OJK untuk Lindungi Pinjol

Nalar.ID – Peristiwa bunuh diri sopir taksi di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu masih menjadi perbincangan. Korban, Zulfandi (35), diduga mengakhiri hidupnya usai terjerat fintech (financial technology atau teknologi finansial) atau pinjam-meminjam.

Hendrikus Passagi, Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyesalkan kejadian ini. Seharusnya, kata Hendrikus, fintech tak mempersulit penggunanya. OJK membuat sejumlah ketentuan untuk melindungi pengguna. Pengajuan izin, misalnya.

“OJK mewajibkan fintech kerjasama dengan perusahaan asuransi untuk penjaminan kredit. Kalau ada tunggakan lebih dari 3 bulan, perusahaan (asuransi) akan tanggung rugi atas kredit macet. Perusahaan fintech tidak boleh lagi menagih ke pengguna. Kalau masih ditagih, lapor saja ke OJK dan kami batalkan tanda daftarnya,” kata Hendrikus, di Jakarta, belum lama ini.

Batasan Bunga

Tak hanya itu. Untuk kredit konsumtif, ada batasan bunga sampai jumlahnya tak boleh melebihi utang pokok. “Besaran bunga dibatasi 0,8 persen per hari. Batas maksimal pinjaman 90 hari. Maka, biaya lain dan bunga tak lebih dari 100 persen,” lanjutnya.

Walau tampak ringan, Hendrikus mengingatkan dan mengimbau agar pengguna tidak berniat buruk melarikan dana fintech. “Soalnya, pengguna yang tak membayar pinjaman siap di-blacklist. Dia juga sulit mengajukan kredit ke fintech dan lembaga keuangan lain. Datanya (pengguna) akan masuk Pusdafil (Pusat Data Fintech Lending),” jelasnya.

Di kesempatan terpisah, Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI ) Sunu Widyatmoko membenarkan, bahwa peminjam yang menunggak lebih dari 90 hari tak akan ditagih oleh fintech lending yang terdaftar. Ini tertuang di kode perilaku, atau code of conduct, di AFPI.

Maka itu, sesuai standar operasional prosedur (SOP) OJK, fintech lending terdaftar, wajib kerjasama dengan perusahaan asuransi. “Tergantung, kalau nanti premi dirasa kurang, (perusahaan) asuransi bisa menagih ke peminjam yang bersangkutan,” imbuh Sunu, seperti dikutip dari Katadata.

Tak hanya itu. Biaya asuransi pun dibebankan ke peminjam. Setiap fintech lending menerapkan skema berbeda. Bisa membebankan dalam bentuk biaya administrasi atau diterapkan ke bunga. Tapi tetap, bunga pinjaman dibatasi 0,8 persen per hari.

Sementara, Perencana Keuangan Safir Senduk & Rekan and Financial Services Consultant Ahmad Gozali menambahkan, peminjam harus mengkaji terlebih dulu fintech yang akan digunakan.

Terutama, kemampuan perusahaan menjaga data keamanan. “Kalau term and condition banyak dan tak jelas, itu jangan (dipilih),” tuturnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi