Nalar.ID

Atasi Dampak Pandemi, Ini Kata Pengurus Kadin Indonesia Damayanti Hakim Tohir

Nalar.ID, Jakarta – Tak dipungkiri, sejumlah sektor usaha di wilayah Ibukota paling terdampak dari pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Komisi Tetap Divisi Fashion Bidang Industri Kreatif Kadin Indonesia, Ketua Bidang Umum Yayasan Batik Indonesia, dan BPH DPP PAN, Damayanti Hakim Tohir membenarkan hal tersebut.

Beberapa sektor tersebut, diantaranya ritel atau pekerja di pusat perbelanjaan, properti, fashion, pertokokan, hingga lainnya.

Berikut penjelasan Damayanti Hakim Tohir kepada Nalar.ID, Minggu (10/5/2020):

Selama pandemi dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota di Indonesia, khususnya Jakarta, sektor apa yang terdampak?

Banyak sektor usaha terdampak, seperti usaha transportasi, properti, fashion, spa dan salon kecantikan, tempat hiburan, pertokoan atau pusat perbelanjaan, tempat hiburan, restoran, dan sebagainya.

Dalam catatan Kadin, seberapa luas dampak dan kerugiannya atau persentase persen penurunan omzet dari sebelumnya?

Presentase penurunan omzet dari sebagian besar sektor usaha sangat besar, bahkan banyak yang cenderung mati. Ini dapat terlihat dari jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang begitu banyak dan tidak terbendung.

Sektor usaha yang dikecualikan selama PSBB akan mengalami penurunan kinerja kerja yang lebih dalam dan mendekati mati atau collapse. Kondisi masing-masing perusahaan tentunya sangat berbeda-beda karena setiap sektor usaha memiliki demand berbeda.

Ada perusahaan yang tetap berusaha atau masih bisa mempertahankan kinerjanya dengan menetapkan sistem shift atau bekerja dari rumah, walau tetap saja beroperasi keadaannya sangat berada dibawah kondisi normal.

Harapan Kadin untuk pemerintah agar wabah ini segera tuntas?

Caranya, yakni dengan:

•Meningkatkan stimulus.

•Memperbanyak atau memperbesar belanja kesehatan hingga menambah fasilitas rumah sakit

•Memenuhi kebutuhan pelatihan-pelatihan, termasuk sistem prakerja, dan sebagainya.

•Pemulihan ekonomi dengan  menekan suku bunga agar bisa lebih rendah (dana dari Bank Indonesia).

•Berupaya maksimal uNtUk menghentikan wabah dengan memperluas PSBB, tidak mudik dan bepergian keluar rumah.

•Bila perusahaan tidak bisa tunda THR, (memang sebaiknya jangan) pemerintah harus bisa bantu.

•Penundaan BPJS Kesehatan, tetapi pelayanannya dan fasilitasnya tidak berhenti, malah makin ditingkatkan.

•Penurunan beban listrik.

•Kemudahan pencairan pinjaman di bank, khususnya yang sudah memiliki credit line. •Untuk karyawan yang dirumahkan, agar dana Jamsostek dicairkan. 

Bentuk insentif atau stimulus apa yang diharapkan dari pemerintah?

Mulai dari memberikan keringanan pembayaran bunga bank dan pinjaman. Kemudahan pinjaman di bank, terutama yang sudah punya credit line, yang sudah disetujui sejak awal seharusnya langsung dikeluarkan, karena ini merupakan sarana untuk kelangsungan proyek yang sedang dilaksanakan.

Justru bukan malah dihentikan atau ditangguhkan, sehingga roda perekonomian bisa tetap berputar dan mengurangi keterpurukan masyarakat, khususnya sektor UMKM.

Sebelumnya, pemerintah memberikan stimulus ekonomi untuk industri sebesar Rp70,1 T dari total Rp 405,1 T dalam menangani Covid-19. Angka itu cukup untuk usaha yang terdampak?

Anggaran Rp 70,1 triliun untuk penanganan Covid-19 masih bisa ditingkatkan. 

Mengemban posisi bidang industri kreatif Kadin Indonesia, hal apa yang Anda lakukan untuk membangkitkan perekonomian, terutama UKM & UMKM, usai pandemi berakhir?

Usaha-usaha untuk membantu membangkitkan perekonomian, terutama UMKM setelah pandemi berakhir bisa melalui promosi, permodalan, perubahan strategi perusahaan, hingga pemasaran.

Apa bentuk wujud bantuan Kadin untuk masyarakat terdampak?

Kadin sendiri sudah melakukan pengumpulan donasi bernama ‘Kadin Berbagi untuk Negeri’. Ada di Instagram ‘Kadin Indonesia’.

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi