Nalar.ID

Bagaimana Dongkrak Daya Saing Kawasan Industri? Ini Kata Kemenperin

Nalar.ID, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pembangunan kawasan industri yang berdaya saing, sehingga menjadi daya tarik bagi para investor. Maka itu, perlu ketersediaan infrastruktur yang memadai untuk menciptakan kawasan yang terpadu.

Direktur Perwilayahan Industri Kemenperin Ignatius Warsito menjelaskan, fokus pembangunan industri di setiap kawasan ditentukan dengan kompetensi di daerah sekitar.

Di Jawa Tengah misalnya, kawasan industri yang akan dipacu terkait dengan produk kayu, tekstil, dan fesyen.

“Makanya, Kawasan Industri Brebes yang sedang dibangun akan dipersiapkan untuk industri tekstil, kulit, dan alas kaki,” kata Ignatius dalam webinar bertema ‘Peran Peraturan Pemerintah Nomor 142 Tahun 2015 Mendukung Kemudahan Berinvestasi dalam Pemulihan Ekonomi Nasional’, di Jakarta, belum lama ini.

Secara garis besar, Kemenperin memfokuskan kawasan industri di Pulau Jawa untuk sektor manufaktur padat karya, padat modal, hingga berteknologi tinggi. Sementara di luar Pulau Jawa, kawasan industri akan diisi dengan sektor berbasis sumber daya alam.

“Salah satu contohnya, Kawasan Industri Morowali di Sulawesi Tengah yang dikhususkan untuk industri logam berbasis nikel,” tukasnya.

Pengelompokan industri sejenis, kata Warsito, dapat menguntungkan pihak perusahaan. “Pengaturan logistik lebih efektif karena bisa memanfaatkan moda yang sama,” ucapnya.

Pemerintah juga akan mengintegrasikan kawasan-kawasan industri dengan jalan tol Trans Jawa. Harapannya, kebijakan ini dapat menurunkan biaya logistik dan membantu meningkatkan lalu lintas di tol itu.

Direktur Jenderal Ketahanan Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Dody Widodo menjelaskan, kawasan industri memegang peranan penting dalam mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi nasional.

Selain itu, kawasan industri dinilai dapat meningkatkan efisiensi dan kemudahan penyediaan infrastruktur, menyediakan lapangan kerja yang luas, serta menarik investasi.

“Bahkan dapat meningkatkan produktivitas perusahaan yang berlokasi di kawasan industri sehingga mampu menciptakan nilai tambah lebih tinggi. Dengan bertambahnya lapangan kerja, pendapatan masyarakat meningkat dan berdampak pada peningkatan pendapatan ekonomi wilayah,” paparnya.

Presiden Joko Widodo pernah menekankan bahwa pengembangan kawasan industri perlu didasarkan pada hilirisasi industri dan bersinergi dengan UMKM. Upaya ini dapat memberikan nilai tambah signifikan untuk perekonomian nasional dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Kata Dody, pembangunan kawasan industri dapat mendorong tumbuhnya industri pendukung dan industri besar. Baik sektor swasta atau publik.

“Mewujudkan pembangunan industri yang terdesentralisasi ke seluruh wilayah, lalu mendukung peningkatan kualitas lingkungan secara menyeluruh,” imbuhnya.

Ia memaparkan, dengan adanya kawasan industri yang berdiri sesuai aturan hukum yang berlaku, masalah atau konflik penggunaan lahan akan dapat dihindari.

Lebih lanjut, pengembangan kawasan industri di Indonesia telah didukung dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 142 Tahun 2015 tentang Kawasan Industri. Regulasi ini diharapkan dapat menjawab peran strategis kawasan industri yang bertujuan, mempercepat penyebaran dan pemerataan pembangunan industri.

Berikutnya, meningkatkan upaya pembangunan industri yang berwawasan lingkungan, meningkatkan daya saing investasi dan industri, memberikan kepastian lokasi sesuai tata ruang, serta menciptakan lapangan kerja.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, telah diusulkan pengembangan 27 kawasan industri baru. Menperin Agus Gumiwang menyatakan, dari jumlah itu, hanya dua kawasan yang akan didirikan di Pulau Jawa.

“Misi kami, disparitas ekonomi bisa teratasi melalui pertumbuhan industri manufaktur. Setiap 1.000 hektare lahan yang akan digunakan untuk industri manufaktur, diharapkan mampu menambah satu persen pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

Kemenperin mencatat, hingga Juni 2020, telah terbangun 118 kawasan industri yang tersebar di seluruh indonesia. Sepanjang lima tahun, terjadi peningkatan kawasan industri, baik dari sisi jumlah maupun luasannya.

Dari sisi jumlah, terjadi peningkatan sebesar 47,5%. Sementara dari sisi luas mengalami peningkatan 15.662,02 hektar atau sebesar 43,26%.

“Di luar Jawa mengalami peningkatan sebanyak 14 kawasan industri dengan penambahan luas lahan seluas 8.664,36 hektare hingga saat ini,” sebut Dody.

Penulis: Febriansyah| Editor: Radinka Ezar

 
 

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi