Nalar.ID

Bamsoet: Eksistensi Perpustakaan Ditentukan Seberapa Besar Manfaat untuk Masyarakat

Nalar.ID – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Soesatyo meresmikan Perpustakaan KALVERD di Universitas Perwira Purbalingga (UNPERBA), Jawa Tengah, 11 April lalu.

Nama perpustakaan itu diambil dari nama almarhum putra Bapak Harjono, sahabat dekat Bamsoet, yang telah berpulang saat menimba ilmu di Amerika Serikat, Desember 2018.

“Perpustakaan ini ditujukan sebagai perpustakaan modern yang memiliki ribuan buku pengetahuan dan memiliki akses digital tanpa batas ke perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi lain. Baik di dalam atau luar negeri. Serta akses ke berbagai pusat informasi lain di seluruh penjuru dunia,” ujar Bamsoet, dalam siaran tertulis yang diterima Nalar.ID, Minggu (14/4).

Penyedia Pengetahuan

Dalam peresmian itu, hadir sejumlah tokoh. Ada Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. Mohamad Nasir, Plt Bupati Kabupaten Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan Prof. Rizal Djalil, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VI Jawa Tengah Prof. Sugiharto dan Rektor Universitas Jenderal Soedirman Prof. Dr. Soewarto.

Bamsoet menjelaskan, perpustakaan ini untuk menjaga dan menyediakan pengetahuan manusia yang terekam. Koleksi perpustakaan meliputi koleksi terbitan berkala berupa bahan informasi yang diterbitkan oleh institusi pemerintah maupun swasta, dan perguruan tinggi. Serta lembaga-lembaga, organisasi profesi, perusahaan maupun kelompok masyarakat yang terbit secara berkala.

“Koleksi terbitan berkala di perpustakaan internasional terdiri atas koleksi majalah terjilid. Ada juga referensi rujukan berbagai bidang ilmu seperti kamus, ensiklopedia, biografi, almanak, tahunan, direktori, handbook dan lainnya. Termasuk koleksi elektronik yang dikemas dalam bentuk digital,” jelasnya.

Hadapi Ketertinggalan

Ia menerangkan, perpustaan ini akan memberikan jaminan mutu pelayanan seperti yang diberikan perpustakaan Internasional di dunia. Sehingga dapat menjadi inspirasi bagi perpustakaan-perpustakaan di Indonesia untuk meningkatkan layanan ke para pengguna dengan lebih baik.

Baginya, ketertinggalan tersebut tak cukup hanya untuk diratapi, tetapi harus dihadapi. Ia mengakui, faktor yang menjadi kendala kemajuan perpustakaan di Indonesia masih sangat banyak. Tinggal bagaimana sumber daya manusia, dalam hal ini pustakawan, mampu untuk selalu berpikir positif dan terus mengembangkan diri.

“Eksistensi perpustakaan akan ditentukan oleh seberapa besar perpustakaan bermanfaat optimal dan dirasakan masyarakat. Khususnya mahasiswa dan generasi muda,” pungkasnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi