Nalar.ID

Beda Disinfektan dan Antiseptik, Jangan Keliru

Nalar.ID, Jakarta – Menjaga kebersihan merupakan salah satu cara memutus mata rantai penularan Covid-19. Baik dengan disinfektan atau antiseptik.

Sejumlah cara dilakukan. Seperti menggunakan antiseptik untuk membasuh tangan dan bagian tubuh. Serta disinfektan, dengan cara diusapkan atau disemprot ke benda mati yang mungkin terpapar virus.

Disinfektan

Peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Endang Lukitaningsih, S.Si., M.Si., Apt., memaparkan sejumlah perbedaan disinfektan dan antiseptik.

Dilansir dari laman UGM, Senin (13/4/2020), disinfektan merupakan bahan kimia yang dipakai dalam menghambat atau membunuh mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur. Kecuali spora bakteri pada permukaan benda mati seperti lantai, furnitur, dan ruangan.

Menurut dr. Endang Lukitaningsih, disinfektan tidak digunakan pada kulit atau selaput lendir.

“Sebab berisiko iritasi kulit dan memicu kanker. Ini berbeda dengan antiseptik yang ditujukan untuk disinfeksi pada permukaan kulit dan membran mukosa,” ucapnya.

Selain itu disinfektan dapat digunakan untuk membersihkan permukaan benda dengan mengusap larutan disinfektan di bagian yang terkontaminasi. Seperti pada daun pintu, lantai, permukaan meja, dinding, tombol lift, dan lainnya.

Adapun, pemakaian disinfektan dengan teknik spray atau fogging telah digunakan dalam mengendalikan jumlah antimikrobia dan virus di ruangan yang berisiko tinggi.

Sementara di ruangan yang sulit dijangkau, biasanya digunakan sinar Ultra Violet (UV) dengan panjang gelombang tertentu. Nantinya, proses ini mencegah penularan mikroorganisme patogen dari permukaan benda ke manusia.

Jika ingin menggunakan disinfektan, kata Endang, ada beberapa produk yang direkomendasikan untuk disinfeksi. Contohnya, sodium hipoklorit, amonium kuartener atau sejenis deterjen kationik. Hingga alkohol 70 persen dan hidrogen peroksida.

Meski demikian, dr. Endang mengimbau masyarakat agar selalu memerhatikan petunjuk penggunaan pada label agar produk bisa digunakan secara aman dan efektif.

Selain itu, perlu memperhatikan pemakaian konsentrasi disinfektan. “Waktu kontak objek dengan disinfektan antara 1–10 menit tergantung jenisnya. Lalu gunakan sarung tangan. Pastikan ventilasi yang baik untuk mengurangi paparan saat penggunaan,” jelasnya.

Antiseptik

Senyawa kimia ini digunakan guna membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme dalam jaringan yang hidup. Diantaranya permukaan kulit dan membran mukosa. Tujuannya, mengurangi kemungkinan infeksi, sepsis, atau pembusukan.

Beberapa antiseptik adalah germisida sejati. Ini mampu menghancurkan mikroba. Sementara lainnya bersifat bakteriostatik, hanya mencegah atau menghambat pertumbuhannya.

Lainnya, antiseptik kerap digunakan untuk membersihkan luka, mensterilkan tangan sebelum melakukan tindakan yang memerlukan sterilitas. Contohnya, povidon iodin, kalium permanganat, hidrogen peroksida, dan akohol.

“Umumnya, hand sanitizer mengandung antiseptik alkohol 60–70 persen. Kadar bahan aktif antiseptik jauh lebih rendah ketimbang disinfektan,” tukasnya.

Cara Basmi Covid-19

Peneliti lain dari Fakultas Farmasi UGM, Dr. Ika Puspita Sari S.Si., M.Si., Apt. Menjelaskan,  virus Covid-19 memiliki lapisan dinding virus yang tersusun dari amplop glikoprotein yang membungkus RNA di bagian dalam.

Agar virus ini dapat mati maka butuh bahan yang mampu merusak amplop dan material di dalam. Amplop ini tak akan hancur dengan air saja, sehingga perlu bahan lain, yakni alkohol atau srufaktan (sabun) sesuai saran WHO.

Lalu, apakah ada bahan lain yang dapat menghancurkan Covid-19? Menurut Ika, Enviromental Protection Agencies (EPA) telah merilis 351 sediaan yang bisa digunakan sebagai disinfektan untuk membunuh virus. Termasuk virus Corona dengan waktu kontak yang efektif.

Salah satu sediaan yang dimaksud, yakni etanol dengan konsentrasi minimal 60 persen. Dengan konsentrasi itu, diketahui bisa melarutkan bagian apolar dari dinding virus sehingga virus akan rusak.

Selain itu, bahan golongan klorin (klorin dioksida, sodium hipoklorit, dan asam hipoklorit) bisa membunuh virus dengan jalan masuk menembus dinding virus dan akan merusak bagian dalam virus.

Contoh lain sediaan, yakni benzalkonium klorida. Ini termasuk golongan surfaktan kationik yang kini banyak digunakan di cairan disinfektan. Meski begitu, kedua bahan ini mudah menguap sehingga berisiko mengganggu pernafasan jika terhirup.

Ada pula hidrogen peroksida. Ini merupakan senyawa oksidator kuat dan dapat merusak dinding virus dan material di alamnya.

“Namun, penggunaan berlebih akan mengakibatkan iritasi hingga kerusakan kulit,” katanya.

Ganggu Ekosistem

Disisi lain, Dekan Fakultas Farmasi UGM, Profesor Dr. Agung Endro Nugroho S.Si., M.Si., Apt., tak menyarankan penyemprotan disinfektan langsung kepada manusia dan makhluk hidup. Selain tidak efektif, hal tersebut dikhawatirkan akan mengganggu ekosistem.

Selain itu pengunaan bilik penyemprotan dengan disinfektan langsung kepada manusia juga tak disarankan. Kecuali memakai cairan antiseptik yang sudah dipastikan aman dan melindungi bagian tubuh yang terbuka terhadap paparan.

“Kepada manusia, pencegahan terhadap penularan virus dapat dilakukan dengan sering mencuci tangan denga sabun atau hand sanitizer. Lalu menjaga pola makan dan hidup sehat untuk menjaga imunitas,” kata Profesor Agung.

Menurut Profesor Agung, penyemprotan disinfektan terhadap lingkungan juga perlu kembali dipertimbangkan.

“Penyemprotan dilakukan dengan membatasi jumlah dan daerah yang disemprot. Contoh, ruangan yang butuh sterilitas di rumah sakit dan ruangan yang terdapat pasien dalam pengawasan (PDP),” pungkasnya.

Profesor Agung menambahkan, cara terbaik menggunakan disinfektan adalah langsung mengelap atau mengusap ke benda-benda yang diperkirakan rentan terpapar virus Covid-19.

Penulis: Erha Randy | Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi