Nalar.ID

Beli Saham Tak Boleh Pakai Utang, Ini Alasannya

Nalar.ID, Jakarta – Jejarang dunia maya dan media sosial ramai oleh keluhan sejumlah investor atas investasi saham. Namun, keluhannya menjadi viral. Pasalnya, modal investasi saham menggunakan utang. Alih-alih untung, investasi itu justru buntung.

Belum diketahui identitas investor tersebut. Tetapi, beberapa tangkapan gambar berisi keluhan mereka tersebar di media sosial. Baik Twitter atau Instagram.

Salah satu investor mengaku berutang melalui 10 aplikasi pinjaman online (pinjol) senilai Rp170 juta untuk modal investasi saham. Selanjutnya, ia menyetor semua uangnya itu di salah satu saham perusahaan pelat merah: PT Antam (Persero) Tbk.

Investor lain memberikan kesaksian bahwa uang arisan dan uang milik anggota Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk memborong saham perusahaan farmasi PT Kimia Farma Tbk. (KAEF).

Menanggapi fonomena itu, Direktur PT Anugerah Mega Investasma Hans Kwee melarang masyarakat berinvestasi di pasar saham menggunakan utang.

Alasannya, investasi di saham adalah investasi jangka panjang dan penuh ketidakpastian. Artinya, harga saham bisa naik-turun dalam waktu singkat.

“Kalau kita pakai utang, sangat berisiko investasi kita belum naik. Namun, kita harus bayar bunga. Kalau ini terjadi, akan memberatkan orang yang berinvestasi,” katanya, dalam keterangan sejumlah media.

Ia menambahkan, investasi menggunakan utang cenderung merugi. Sebab, nasabah terkait harus bayar bunga utang secara rutin. Bahkan terpaksa menjual sahamnya guna membayar bunga tersebut.

“Ternyata, waktu kita jual investasinya rugi, sehingga kena double kerugian. Saran saya, investasi di saham menggunakan uang menganggur. Artinya, uang itu merupakan sisa setelah nasabah memenuhi kebutuhan pokok dan kewajiban jangka pendeknya. Jadi, yang sisa dari kebutuhan pokok dan dana-dana yang dibutuhkan dalam waktu pendek sudah semua,” tambahnya.

Lalu, sambungnya, dana itu tidak dipakai dalam jangka pendek.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi