Nalar.ID

Berselancar ke Museum Oasis di Indonesia

Separuh hidupnya didedikasikan untuk Oasis, band asal Inggris favoritnya. Tak hanya mengoleksi benda berbau Oasis, kamar pribadinya ia sulap menjadi Museum MolekLane, yang menyimpan ribuan koleksi band itu sejak 2013. Tak tanggung-tanggung, ia sampai menggelar pameran koleksi Oasis di Jepang.

Nalar.ID, Jakarta – Sekilas, penampilan sehari-hari pemuda 29 tahun ini biasa saja. Namun, coba kunjungi kediamannya di Perumahan Molek di Ciputat, Tangerang Selatan. Di rumah tersebut, tersimpan banyak benda dan pernik berbau band Oasis. Bagi pencinta gila band britpop asal Britania Raya itu, rumah ini wajib Anda kunjungi.

Pasalnya, di kamar berukuran 4 x 8 meter, Museum MolekLane, berdiri. Nama museum diambil dari nama jalan dimana Ilham menetap bersama keluarga. Sebelum beralih fungsi sebagai museum yang menyimpan 5.000 lebih memorabilia Oasis, ruang ini adalah kamar pribadi Ilham.

“Tahun 2010 belum ada nama, masih kamar. Mulai 2011, mulai bangun museum, dan 2012 mengajak private orang-orang terdekat. Tahun 2013 resmi dibuka untuk umum,” kata Ilham, dihubungi via surat elektronik, Jumat (27/7).

Sudah beberapa bulan terakhir, Ilham, tak lagi menetap di rumah itu. Ia memilih tinggal di apartemen di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, untuk menunjang mobilitasnya bekerja. Sayangnya, sejak April lalu, museum ini tutup sementara. “Buka lagi September atau Oktober 2018. Diisi barang-barang baru untuk 2019,” tambahnya.

Ilham Priananda Oasis - nalar.id
Salah satu koleksi Oasis milik Ilham Priananda di kamar pribadinya, Ciputat, Tangerang Selatan. (Dok. Pribadi/nalar)

Ilham mengatakan, ide membuat museum ini berkat saran beberapa temannya. Ada beberapa teman yang takjub oleh lengkapnya koleksi Oasis di kamar itu. Akhirnya, ia memutuskan, ketimbang dinikmati sendiri, ia membangun konsep musem untuk share dan berbagi kepada masyarakat, khususnya pencinta dan fans Oasis. Awalnya, ia hanya sebatas men-share lewat Instagram, sampai kemudian ada yang minta melihat langsung.

Rp 100 ribu per hari

Melihat animo penggemar yang ingin melihat koleksi Oasis di museum, ia menyusun jadual kunjungan buka-tutup. Termasuk tarif masuk. Sayangnya, karena area terbatas, Ilham, hanya mampu menerima 20 orang kunjungan per hari. Itu pun harus booking dahulu dengan ‘tiket’ masuk Rp 100 ribu per orang per hari.

Setiap hari, museum dibuka tiga sesi. Pukul 10.00-12.00, 12.30-14.30, dan 15.00-17.00 WIB. Ia beralasan, mematok biaya untuk ‘tur’ selama dua jam plus ongkos listrik. “Mereka enggak cuma datang dan lihat barang tapi saya ceritakan sekaligus dibikinin tur. Mereka keluar dapat knowledge baru,” ungkap lulusan Master International Business, Middlesex University, Inggris, ini.

Ilham Priananda Oasis - nalar.id
Salah satu koleksi Oasis milik Ilham Priananda di kamar pribadinya, Ciputat, Tangerang Selatan. (Dok. Pribadi/nalar)

Musik Oasis kali pertama ‘nempel’ di telinga Ilham sejak usia belia tahun 1990-an. Tahun 2000 atau saat usia 12 tahun, ia mulai serius mengoleksi. Namun, saban kali ditanya orang, ia suka bingung alasannya mengoleksi barang-barang Oasis.

“Pertama kali dengar musik, enggak tahu kalau itu Oasis. Dengar selentingan dan enggak fokus karena masih kecil. Masuk remaja, saya banyak dengar musik lain seperti rock, punk, dan lainnya tapi enggak masuk. Pas dengar Oasis, saya nemuin, ini band yang selama ini dari kecil saya dengar dimana-mana,” jelasnya.

Sejak itu, ia mulai menggali informasi hingga terkumpul koleksi sampai saat ini. Ia berpikir, ketimbang terus pinjam kaset Oasis dari teman, ia lebih memilih mengoleksi sendiri. Sebelum punya penghasilan sendiri, ia masih kerap menabung.

“Pernah nilep (mencuri) di toko kaset di Jakarta Selatan (Aquarius Mahakam, kini tutup). Itu jaman remaja. Nabung susah, cari apalagi. Sekarang era modern, gampang (beli), koneksi dengan orang-orang luar. Kadang lewat manajemen Oasis atau kolektor,” ujarnya.

Di awal minat, selain musik, Ilham, sangat suka art-work (seni visual) Brian Cannon, creative design di beberapa sampul album dan single Oasis. Diluar itu, ia banyak mengumpulkan benda berbagai item.

Mulai dari CD (compact disc), piringan hitam (vinyl), foto original dari fotografer, poster, gitar Noel Gallagher, majalah vintage Oasis tahun 1990-an, kalender, kaset, mini disc, book set isi CD dan vinyl), display set limited, stiker, bundling kaus label baru tahun 2000, kartu ucapan, pin, gantung kunci, hologram, hingga kartu all access.

Ilham Priananda Oasis - nalar.id
Sejumlah penggemar Oasis berkunjung ke Museum Moleklane milik Ilham Priananda di rumah pribadinya di Ciputat, Tangerang Selatan. (Dok. Pribadi/nalar)

Barang lainnya, program tur, tabung isi kaset original, amplifier mini, tamborin Liam Gallagher, asbak portable Noel Gallagher, korek api, koin, USB, jam tangan, tiket konser 90an, bucket, note book, book set kaus, playing card, buku biografi, jaket, hoodie jumper, sweater, kaus vintage 90an, sampai tas.

Lainnya, sepatu promo Docmart album Be Here Now limited, kacamata dan gelas bekas Noel Gallagher, pic gitar, merchandise tanda tangan Liam Gallagher, jaket parka, balon tiup, hingga syal, dan lainnya. Termasuk sepatu Addidas bertanda tangan Noel di sisi kiri-kanan dalam waktu berbeda. “Ada gelas kaca isi pasir. Saya ambil dari pantai (Bournemouth, Inggris) dimana cover single All Around the World (1998) diambil,” imbuhnya.

Hunting ke Mancanegara

Tak hanya lokal, beberapa media asing kerap meliput museum ini sepanjang 2013 hingga 2017. Benda pertama koleksinya adalah CD lagu Don’t Look Back in Anger yang dibeli di toko CD bekas di Jakarta tahun 1996.

Selain area toko musik di Jakarta dan antik di Jalan Surabaya, Taman Puring, Jatinegara, ia juga memburu hingga ke Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Termasuk diluar, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Spanyol, Jerman, Belanda, Turki, Argentina, Brasil, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, dan lainnya.

“Tempat dimana saya singgahi, entah dobel atau enggak, selalu beli terus. Enggak tahu kenapa, sudah addict. Sebulan, pernah keluar budget kurang lebih 2.000 Poundsterling (setara Rp36 juta),” sambungnya.

Tak hanya benda, ia beberapa kali memburu para personil Oasis, Liam maupun Noel, secara terpisah untuk foto bareng dan minta tanda tangan. Baik di negara mereka sendiri, park, after party, kediaman, bandara, atau lainnya.

Soal benda favorit, Ilham, sulit menjawab. Sebagai kolektor, tak mungkin cuma punya satu favorit. Ia suka semua. “Kalau favorit tergantung apa yang saya senangi saat ini. Agustus nanti perayaan (album) ke-21 Be Here Now (1997). Paling saya suka,” tambahnya.

 Penulis: Febriansyah Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi