Nalar.ID

Bisa Tarik Investasi dari Blok Dagang Dunia, Ini Manfaat RCEP bagi Indonesia

 Nalar.ID – Menurut Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian Rizal Affandi Lukman, melalui kerjasama perdagangan internasional atau RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), Indonesia bisa menarik investasi langsung dari blok dagang terbesar di dunia.

Rizal menambahkan, RCEP untuk meraih pasar luas di beberapa negara bagi barang dan jasa asal Indonesia.

“Dari sisi PDB dan sisi ukuran pasar, itu cukup besar, ketimbang dengan Indonesia hanya dengan ASEAN. Kalau Indonesia hanya bilateral saja. Tapi kalau Indonesia sebagai bagian dari regional, yaitu 16 negara, dengan jumlah populasi daripenduduk India dan penduduk Cina, itu menciptakan pasar peluang bagi negara-negara di luar RCEP untuk datang. Harapannya, ya ke Indonesia,” kata Rizal, ditemui dalam diskusi bertema ‘RCEP: Berharap Investasi’ di Kemkominfo, Jakarta, belum lama ini.

Sepuluh negara ASEAN yang didukung oleh enam negara mitra FTAs (Free Trade Agreements), yaitu Tiongkok, Korea, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan India. Negara tersebut menyepakati Guiding Principle for Negotiating RCEP dan meluncurkan Perundingan RCEP pada KTT ASEAN ke-21 tahun 2012 di Kamboja.

Country Coordinator
Diketahui, Indonesia ditunjuk sebagai Negara Koordinator (Country Coordinator), Ketua Komite Perundingan Perdagangan (Trade Negotiating Committee/TNC) RCEP, dan Ketua Perunding ASEAN. Perundingan putaran pertama dimulai Mei 2013.

Menurut Rizal, RCEP merupakan Mega FTAs terbesar mencakup sembilan kelompok kerja dan tujuh subkelompok kerja sesuai cakupan perundingan. Diantaranya perdagangan barang, ketentuan asal barang, prosedur kepabeanan dan fasilitasi perdagangan, standar dan kesesuaian.

Serta SPS, pengamanan perdagangan, jasa, investasi, kekayaan intelektual, niaga elektronik, kerja sama ekonomi dan teknis, pengadaan barang pemerintah, penyelesaian sengketa, finansial, dan telekomunikasi.

“Di bawah kepemimpinan Indonesia, perundingan RCEP yang melibatkan 16 negara ini(10 negara ASEAN plus Tiongkok, Korea, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan India) ini sangat penting. Harapannya, menjadi penyeimbang maraknya langkah proteksionisme yang terus bergulir akhir-akhir ini, sehingga harus diselesaikan secara substantif tahun ini agar bisaditandatangani tahun 2020,” tegasnya.

Buka Akses Pasar
Menurutnya, dengan jumlah populasi 48 persen dari populasi dunia dan dengan total PDB 32 persen dari PDB dunia, kawasan RCEP jadi pasar yang besar. Dimana, 29 persen perdagangan dunia berada di kawasan ini. Selain itu, arus investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke kawasan ini.

Ia mengatakan, bergabung dengan RCEP adalah keniscayaan bagi Indonesia.

“Dengan membuka hubungan dagang lebih luas maka Indonesia bisa menghindari ekonomi biaya tinggi. Juga membuka akses pasar bagi produk Indonesia seluas-luasnya. Tapi perdagangan bebas ini harus dilakukan bertahap sesuai kesiapan negara masing-masing. Masih ada waktu bagi Indonesia menyiapkan diri agar produk-produknya kompetitif di pasar bebas. Baik infrastruktur, tenaga kerja hingga sistem perdagangan elektroniknya,” paparnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi