Nalar.ID

Bisnis Terpukul, Ini Harapan Bos DNA Productions Rina Novita Soal Stimulus

Nalar.ID, Jakarta – Hingga Jumat (24/4/2020) pukul 16.00 WIB, jumlah kasus pandemi Covid-19 semakin meluas. Baik global maupun nasional.

Di seluruh dunia atau global, hingga hari yang sama, kasus positif mencapai 2.710.264. Sementara meninggal 190.896 dan sembuh 743.419. Sedangkan di Indonesia, positif sebanyak 8.211. Kemudian meninggal 689, dan sembuh 1.002.

Pandemi ini telah memberikan dampak yang luar biasa terhadap perekonomian nasional. Hampir semua sektor usaha dan bisnis rontok akibat meluasnya pandemi.

Salah satunya sektor creative company milik Rina Novita, DNA Productions. Diketahui, perusahaan ini memiliki empat core business.

Mulai dari licensing dan merchadising business, production house, manajemen artis hingga event organizer. Dengan bisnisnya ini, ia menjadi orang pertama yang memboyong serial ‘Upin dan Ipin’ dan ‘Boboiboy’ ke Tanah Air.

Potong Gaji

Ia juga berhasil menggarap rumah produksi pertama hasil kerjasama dengan Fuji TV Jepang dengan memproduksi FTV Aishiteru dan When You Wish Upon Sakura. Unit bisnis lainnya, yakni manajemen artis Islam seperti Maher Zain, Raef, dan Harris J., hingga pertunjukan musik.

Dihubungi Nalar.ID, Sabtu (25/4/2020), Rina mengakui sejak pandemi Covid-19 muncul, tidak sedikit project kerjasama dan pekerjaannya tertunda.

“Salah satu yang terberat adalah kami tidak bisa shooting. Ada program travel dan games bekerjasama dengan SBS TV Korea yang tidak bisa dijalankan karena tidak bisa shooting di Indonesia maupun Korea,” kata Rina Novita.

Jika banyak perusahaan atau pelaku usaha melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan inefisiensi, Rina justru sebaliknya.

“PHK mungkin tidak tepat. Kasihan dengan para pegawai yang telah bekerja keras dan loyal ke perusahaaan. Yang kami lakukan adalah memotong gaji dan mengefisiensikan beberapa biaya, seperti transportation, entertaiment, dan lain-lain,” ujarnya.

Sebisa mungkin, lanjut Rina, karyawan diusahakan untuk tetap bekerja di rumah dan tetap di gaji walaupun ada pemotongan gaji.

Adapun, untuk mengatasi dampak virus terhadap keberlangsungan hidup bangsa, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelontoran anggaran stimulus Rp405,1 triliun.

Sebagian besar, atau nyaris 40 persen dari itu, dialokasikan untuk pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp150 triliun. Sementara alokasi terbesar kedua adalah jaring pengaman sosial (JPS) atau social safety net senilai Rp110 triliun. Berikutnya, alokasi dana kesehatan Rp75 triliun. Terakhir Rp70,1 triliun untuk insentif perpajakan.

Sharing Session Setiap Pekan

Sepengetahuan Rina, dirinya mengaku belum mendapatkan informasi mengenai stimulus tersebut.

“Kami datang ke bank untuk menanyakan relaksasi cicilan dan bunga saja bank-nya masih belum mau. Terus terang sebagai pengusaha kita sedih, karena semuanya belum jelas di tataran bawah,” tukasnya.

Meskipun pandemi belum diketahui kapan berakhir, Rina tetap berusaha beraktivitas dan menerapkan social distancing sesuai anjuran pemerintah guna memutus mata rantai Covid-19.

“Selama pandemi, saya banyak memikirkan konsep-konsep untuk OTT maupu diversifikasi bisnis baru. Akan terjadi perubahan mendasar dalam semua aspek bisnis ini yang sedang saya pelajari. Selain itu saya mengadakan sharing session setiap minggu di live Instagram. Dari sharing session, banyak bertemu partner-partner baru untuk kerjasama,” jelasnya.

Rina berharap, situasi ini cepat berakhir dan ekonomi nasional segera pulih. Harapan untuk pemerintah, ia ingin ada ketegasan dari pemerintah pusat mengenai dukungan terhadap pengusaha-pengusaha yang terdampak.

“Ketegasan ini juga harus operasional, artinya pihak-pihak yang tidak mengikuti akan dikenakan sanksi berat . Komunikasi pemerintah juga sangat kurang terhadap pengusaha. Hanya terbatas pihak elit yang berada di atas saja,” ujarnya.

Rina juga mengeluhkan hal lain terkait sikap tak kooperatif leasing company.

“Kami lelah juga ke bank atau leasing company. Mereka sama sekali tidak kooperatif mengenai ini. Mereka merasa pemerintah tidak bantu duit, jadi mereka tidak mau memberikan kemudahan ke klien mereka,” jelasnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi