Nalar.ID

BMKG: Turunnya Kualitas Udara di Jakarta Biasa Terjadi Saat Kemarau

Nalar.ID – Pemantauan konsentrasi partikulat polutan PM10 oleh BMKG sepanjang Juni hingga Juli menunjukkan peningkatan konsentrasi sering melampaui nilai ambang batasnya (NAB) sejak 20 Juni hingga sekarang.

Nilai Ambang Batas (NAB) adalah batas konsentrasi partikel polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara yang kita hirup. NAB harian PM10 adalah 150 µg/m3 dan 50 µg/m3 untuk tahunan.

Dalam siaran tertulis yang diterima Nalar.ID, Kamis (1/8), pada jam-jam tertentu, kata Plh. Deputi Bidang Klimatologi, BMKG Nasrullah, konsentrasi partikel polusi udara terukur di BMKG dapat melonjak sesuai kadar polutan di udara. Nilai kadar atau konsentrasinya bahkan melewati 180 µg/m3, yaitu terjadi pada 20, 24, 25, 27, dan 28 Juni 2019, serta 14 dan 25 Juli 2019.

Berdasarkan data deret rata-rata harian debu partikulat PM10, secara umum periode 10 hari (dasarian) terakhir Juni menunjukkan konsentrasi debu polutan yang lebih tinggi daripada kondisi Juli kali ini.

“Meningkatnya konsentrasi PM10 secara umum terjadi pada pagi sekitar pukul 07.00 – 09.00 WIB. Pada waktu-waktu ini konsentrasi debu polutan dimungkinkan meningkat drastis karena beban tinggi transportasi berkaitan dengan waktu berangkat kerja. Sekaligus secara meteorologis bersamaan dengan waktu dimana dapat terjadi peristiwa inversi suhu pada atmosfer perkotaan,” tulisnya.

Selain itu, data BMKG menunjukkan kualitas udara biasanya memburuk saat musim kemarau. Hal ini karena ketiadaan hujan dapat mengurangi pengendapan (pencucian) polutan di udara oleh proses rain washing.

Udara Stagnan

Pada hari-hari yang sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi.

Penampakan dapat dilihat dari kondisi udara yang kabur hasil reaksi kimia antara udara dengan kontaminan. Terlebih lagi saat ini masih terus berlangsung pekerjaan konstruksi pembangunan tol atas, jalur LRT, dan pengerjaan trotoar. Ini akan menghasilkan debu partikel polutan dan menurunkan kualitas udara pada saat-saat tertentu.

“Bulan Juni – Juli adalah bulan menuju puncak musim kemarau bagi Jakarta. Data klimatologis rata – rata harian debu partikulat polutan 5 tahun kurun waktu 2014 – 2018 menunjukkan bahwa bulan Juni hingga Agustus merupakan waktu-waktu di mana konsentrasi partikulat polutan lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya,” tulisnya.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi