Nalar.ID

Buntut PHK, Ormas PBB Minta Presiden Perhatikan Nasib Karyawan Alkes

Nalar.ID, Jakarta – Halaman pabrik di Jakarta Barat, Selasa (30/11/2021) lalu mendadak ramai. Ribuan karyawan salah satu perusahaan alat kesehatan di Indonesia menggelar unjuk rasa di pabrik tersebut. Mereka menuntut soal kesejahteraan yang semakin menurun pasca masih banyaknya alat kesehatan, khususnya swab antigen impor yang digunakan dan beredar di pasaran.

Imbasnya, para produsen alat kesehatan dalam negeri merugi. Akhirnya mereka memangkas biaya produksi. Dampaknya pengurangan karyawan sekitar 1.000 orang dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Umum Organisasi Masyarakat Pemuda Batak Bersatu (PBB), Lambok F. Sihombing mengaku prihatin atas kondisi itu, sebab di antaranya merupakan anggota PBB. Lambok menilai, jika rekan–rekannya banyak keluh kesah ke dirinya. Mereka berharap PBB bisa membantu nasib mereka.

“Kami prihatin dan menyayangkan masalah itu karena kami semua terancam dirumahkan. Kami telah berkomunikasi dengan pihak pabrik, menanyakan latar belakang merumahkan sebagian besar karyawan,” ucap Lambok, di Kantor PBB di Kota Bekasi, Jawa Barat, kepada Nalar.ID.

Ternyata, kata Lambok, pabrik itu tak dapat memasarkan produk mereka di pasaran dalam negeri. Ini akibat banyaknya produk impor yang masih beredar. Ia juga mendapat infromasi lain. Salah satunya terkait lelang pengadaan alat swab antigen yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI senilai Rp 129 miliar.

“Kami tak tahu latar belakang Kemenkes mematok harga sangat mahal, sehingga produk-produk lokal yang presentase produksinya tinggi, tak dipakai pemerintah. Padahal pemerintah yang sering menggaungkan untuk mengutamakan memakai produk dalam negeri. Kami menduga ada kerugian negara sangat besar karena adanya permainan,” tambahnya.

Monitor Lelang Pengadaan

Data yang diperoleh Lambok, ada beberapa penawaran dari produsen lokal dengan kisaran harga Rp 30 ribu per 25 pcs swab antigen. “Namun, mengapa Kemenkes justru melirik produk dengan harga jauh lebih mahal Rp 86 ribu per 10 pcs swat antigen,” jelasnya.

Ia juga tak habis pikir mengapa beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak memakai alat swab antigen produk lokal seperti KAI dan RNI. Namun, justru alat impor yang harganya lebih mahal. Sementara, lanjutnya, penerbangan dari negara lain, yakni Lion Air, malah menggunakan produk dalam negeri jauh lebih murah Rp 35 ribu. Bahkan sudah termasuk jasa dan surat keterangan hasil pemeriksaan untuk penerbangan.

“Kami meminta KPK, BPK dan Kejaksaan untuk memonitor lelang pengadaan alat swab antigen yang dilakukan Kemenkes agar negara terhindar dari kerugian sangat besar,” ungkapnya.

Menurut perhitungan Lambok, berdasarkan data yang didapat, negara akan mengalami kerugian lebih-kurang Rp 84 miliar dari proyek lelang pengadaan alat swab antigen oleh Kemenkes.

Pihaknya juga tak tahu bagaimana proyek pengadaan alat Kemenkes sebelumnya. Menurut Lambok, banyak produk lokal yang sudah teruji secara klinis dan layak pakai. “Izin edarnya juga sudah keluar. Harga juga lebih murah ketimbang produk impor, tapi mengapa tak digunakan oleh pemerintah? Itu yang kami sangat sayangkan,” tutup Lambok.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi