Nalar.ID

Bye! Kemenkominfo Blokir 527 Tekfin Bodong

Jakarta, Nalar.ID – Sesuai permintaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memblokir 738 sistem informasi milik startup teknologi finansial atau tekfin (financial technology/fintech).

Sistem informasi tersebut terdiri atas 211 situs dan 527 aplikasi penyelenggara layanan pinjam meminjam (peer-to-peer lending/P2P) tekfin ilegal atau abal-abal di Google Play Store.

Kemenkominfo mencatat, jumlah situs atau website paling banyak diblokir sebanyak 134 pada Desember 2018. Sementara, aplikasi dari Google Play Store pada Desember ada 216 aplikasi.

Pelaksana tugas (plt) Kepala Biro Humas Kemenkominfo RI, menyatakan, pemblokiran situs dan aplikasi tekfin nakal itu baru marak akhir tahun.

“Data terakhir 20 Desember 2018, mulai Januari sampai Juli 2018, enggak ada situs dan aplikasi diblokir. Sementara, kalau September, kami sudah nge-block (blokir) 77 situs tekfin. Bulan Agustus, 140 aplikasi di Google Play Store diblokir. Dan September 171 aplikasi (diblokir),” kata Ferdinandus, dalam keterangan di Jakarta, Jumat (21/12).

Dua Alasan Blokir Tekfin

Ferdinandus mengungkapkan, ada dua alasan pemblokiran tekfin. Pertama, guna memenuhi pengajuan OJK sebagai instansi pengawas dan pengatur sektor jasa keuangan. Kedua, dari aduan masyarakat.

Sebelumnya, OJK melalui Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi sudah menghentikan kegiatan 404 tekfin ilegal atau tidak terdaftar. Seluruh aplikasi tekfin itu telah diajukan ke Kemenkominfo untuk diblokir.

Sementara, pemblokiran yang dilakukan atas aduan masyarakat diterima melalui aduan konten dan penelusuran mesin AIS Kemenkominfo. Sekadar informasi, masyarakat yang menemukan aplikasi tekfin ilegal bisa melaporkan ke aduankonten.id atau akun Twitter @aduankonten untuk ditindaklanjuti oleh Satuan Tugas Waspada Investasi Ilegal beranggotakan 13 lebih lembaga dan kementerian.

Sebelumnya, pekan lalu, Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing menyebut, sebagian penyelenggara tekfin ilegal yang ditutup berasal dari China, Thailand, dan Malaysia.

“Tekfin ilegal banyak memakai alamat yang enggak bisa terbukti keberadaannya. Di dalam atau di luar negeri,” tukas Tongam.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi