Nalar.ID

Cara 5 Negara Stop Kekerasan Suporter Sepakbola

Nalar.ID, JakartaDunia sepakbola Indonesia kembali berduka. Suporter Persija Jakarta, Haringga Sirla (23), tewas diduga dikeroyok sejumlah suporter Persib Bandung, jelang laga Liga 1 antara Persib dan Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (23/9) siang.

Banyak pertanyaan muncul terkait apakah aparat keamanan, pemerintah, dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), cukup mencegah dan menindak kekerasan ini.

Dari data lembaga nirlaba Save Our Soccer (SOS), 55 suporter sepak bola Indonesia tewas. Mayoritas karena aksi kekerasan dan pengeroyokan, sejak 1995 hingga 2017. Sementara, jumlah kematian pendukung Persija dan Persib mencapai 7 orang, sejak 2012.

Dari sumber yang dihimpun Nalar.ID, berikut rangkuman upaya 5 negara mencegah dan menindak berbagai kekerasan suporter, di dalam atau luar stadion. Tak ada salahnya bila negara-negara ini ditiru:

Rusia – Polisi ‘kosmonot’ dan Sanksi Klub

Sejak awal 2000-an, kekerasan supporter di Rusia sudah terjadi berkali-kali. Lokomotiv Moscow, Spartak Moscow, dan CSKA Moscow, adalah klub kerap rusuh. Rusia punya polisi anti-huru hara dengan perlengkapan komplit. Kerap dipanggil para suporter sebagai ‘kosmonot’ karena pelindung tebal dan helm yang mereka kenakan. Termasuk tameng, pentungan dan gas air mata.

Bahkan, tiga pekan jelang Piala Dunia 2018, pemerintahan Presiden Vladimir Putin merilis video. Isinya memperlihatkan polisi uji coba penggunaan pistol dan senapan mesin untuk menakuti penggemar berniat rusuh. Hukuman bagi suporter jatuh pada klub atau tim nasional yang didukung. Tahun 2016, Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), mendeportasi 50 suporter asal Rusia. Serta menjatuhkan sanksi denda €150.000 atau Rp2,7 miliar kepada tim nasional Rusia, usai kekerasan berantai dan terkoordinasi, saat Euro 2016 di Perancis.

Turki – Larangan Suporter Menonton

Fenerbahce, klub sepak bola Turki, punya cara unik. Mereka melarang pria menonton di stadion. Hanya boleh penonton perempuan dan anak-anak. Saat laga Fenerbahce dan Manisaspor, di Istanbul pada September 2011, Fenerbahce memberi lebih 41.000 tiket gratis ke penonton perempuan dan anak-anak.

Tak hanya Turki. Pertandingan Liga Champion, antara Manchester City dengan klub asal Rusia, CSKA Moscow, di Rusia, pada 21 Oktober 2014, berlangsung tanpa ditonton di stadion. Larangan penonton ini adalah sanksi usai suporter CSKA Moskow bertindak keras saat laga di Roma, Italia, beberapa hari sebelumnya.

Belgia – Suporter Dilatih

Program pelatihan dimulai oleh klub Belgia, Standard Liege, akhir 1980-an. Tujuannya, mencegah meredam gejala kekerasan sejak dini. Di program ini, anak-anak muda ditanamkan nilai toleransi selama menonton bola. Pelatihan dilakukan sejumlah pemain bintang dan mantan perusuh. Gunanya, memberi tahu anak muda bahwa kekerasan berpotensi fatal, melukai, dan berujung catatan kriminal yang buat mereka sulit dapat pekerjaan.

Program inin ditiru banyak negara ini pernah mendapatkan penghargaan UEFA-backed European Football Supporters Award pada 2011, atas upaya tidak kenal lelahnya dalam melawan kekerasan di dunia olahraga.

Italia – Batalkan Seluruh Liga

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mengancam membatalkan seluruh liga di negara itu, usai rentetan kekerasan suporter sejak Januari 2007. Geram, Pancalli pun melaksanakan janjinya. Ia membatalkan semua pertandingan. Termasuk laga tim nasional Italia, selama sepekan. Kematian Raciti yang saat itu membangkitkan solidaritas dan dukungan terhadap keselamatan aparat keamanan.

Inggris – Pemisahan Penonton

Sejak 1970-an, Asosiasi Sepakbola Inggris (FA), mencegah potensi kekerasan dalam stadion dengan memisahkan tempat duduk penonton dari kedua kubu. FA menyebut, cara ini signifikan mengurangi aksi kekerasan dalam stadion. Dalam mayoritas pertandingan, banyak kursi, diisi penggemar tim tuan rumah. Penggemar klub tamu, biasanya, di zona berbeda, yang cenderung bukan tempat duduk favorit.  Keduanya diberi pembatas. Kadang ada petugas jaga non-polisi. Antara tahun 1970-an hingga 1990-an, beberapa laga melarang pendukung bertemu di luar stadion. Jalur jalan masuk dan keluar dipisah.

Tapi, sejak pertengahan 2000-an, pengamanan semakin rileks. Usai pertandingan, pendukung kedua tim berjalan bersebelahan di luar stadion.

Penulis: Febriansyah Editor: Ezar Radinka

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi