Nalar.ID

Cara Paling Tepat Tuangkan Ide dan Perasaan ala Arranger Chikita Amanda

Nalar.ID – Tidak banyak orang, khususnya musisi, memilih jalur sebagai komposer atau arranger di bidang musik. Salah satunya yang bergelut di dunia komposisi musik atau komposer, yakni Chikita Amanda.

Diketahui, komposer musik jaz tersebut sukses menggelar konser bertajuk ECLECTIC, pada 29 Juni 2019 silam di Balai Resital Kertanegara, Jakarta Selatan.

Chikita mulai dikenal sebagai komposer atau konduktor perempuan muda yang berprestasi. Ia juga aktif berpartisipasi dalam berbagai acara musik. Mulai dari pengarah musik, penata musik, dan konduktor.

Dalam konser itu, ia memainkan debut karya dalam beberapa format. Seperti format duet clarinet, five horns, strings sextet, bigband, percussion quartet dan lainnya. Konser ini merupakan hasil aransemennya dalam ujian kelulusan di Conservatory of Music Universitas Pelita Harapan.

Cita-cita

Memilih sebagai komposer dan arranger, merupakan cita-citanya.  Andi Rianto dan Erwin Gutawa adalah dua komposer ternama yang menjadi inspirasi Chikita. Ia menilai, di Indonesia cukup jarang konduktor dan arranger perempuan.

Ia berharap, konser yang ia rancang tersebut dapat menjadi batu loncatan masuk ke industri musik sebenarnya.

Tidak banyak orang memilih berprofesi sebagai komposer di Indonesia. Terutama lulusan program studi musik di perguruan tinggi.

“Terkadang masyarakat hanya mengerti bahwa jurusan musik itu hanya terbatas pada performance saja. Sebenarnya lebih dari itu. Misalnya, seperti mengadakan event konser yang menampilkan karya baru dari komposer Indonesia yang sudah ada. Sehingga menarik minat masyarakat atau anak-anak untuk melakukan hal yang serupa,” jelasnya.

Hal serupa, maksudnya, yakni bagi yang biasa membuat lagu dan ingin mengembangkan bakatnya secara serius di dunia komposisi.

Disinggung, mengapa profesi komposer jarang diminati kaum perempuan, Chikita berpendapat bahwa dunia entertainment identik dengan kehidupan yang kurang baik.

“Baik dari segi pergaulan, gaya hidup, dan sebagainya, sehingga mungkin para orang tua tidak mengizinkan anaknya untuk terjun ke dunia tersebut,” tukasnya.

Alasan buat Komposisi

Chikita mengaku, memilih jalur sebagai konduktor (komposer) atau arranger karena membuat komposisi adalah cara yang paling tepat dalam menuangkan ide dan perasaan.

Meski demikian, ada tantangan dalam membuat komposisi musik. Mulai dari cara menuangkan ide atau imajinasi yang abstrak ke rangkaian not yang biasa dimainkan.

Lalu, memilih instrumen yang warna bunyinya sesuai dengan apa yang diimajinasikan. Terakhir, menyeimbangkan idealisme komposer dengan kapasitas pemain.

Setelah lulus kuliah, ada rencana ingin membuat sebuah lembaga pendidikan musik? Chikita mengaku belum ada keinginan sejauh itu.

“Menurut saya, untuk mengajar, dalam hal ini komposisi, tidak hanya diperlukan skill tetapi pengalaman,” tutupnya.

Chikita juga berpengalaman menjadi komposer dan pianis pada Yamaha Junior Original Concert. Serta arranger pada Indonesia’s Orchestra Ensemble Festival. Kini, keseharian Chikita disibukkan dengan menulis dan membuat musik untuk berbagai acara, film dan records.

Penulis: Erha Randy| Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi