Nalar.ID

Covid-19 Picu PHK, Hendarsam Marantoko: Terlalu Reaktif dan Terburu-buru

Nalar.ID, Jakarta – Wabah Covid-19 kian terasa untuk perekonomian dalam negeri. Terutama dari sisi konsumsi, korporasi, sektor keuangan, hingga usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Selain itu pandemi ini turut mengancam hilangnya pendapatan rumah tangga hingga tak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup minimalnya. Terlebih bagi masyarakat miskin dan rentan serta sektor informal.

Untuk korporasi, juga mengganggu aktivitas bisnis. Ini akan menurunkan kinerja, pemutusan hubungan kerja, hingga mengalami ancaman kebangkrutan.

Pengacara ternama Hendarsama Marantoko menilai, perlambatan ekonomi akibat pandemi ini tak terelakkan. Terlebih, lanjutnya, dengan pemberlakuan social distancing dan work from home (WFH) dari pemerintah.

“Tolak ukurnya, ya social distancing dan WFH sehingga banyak usaha dan perkantoran tidak lagi beroperasi. Ini mengakibatkan pergerakan (usaha) terhenti, termasuk output dan benefit yang didapat,” kata Hendarsam, dihubungi Nalar.ID, Kamis (9/4/2020).

Disisi lain, ada sejumlah pengusaha dan sektor usaha menutup usahanya hingga memaksa merumahkan dan memutus hubungan kerja (PHK) sepihak pegawainya. Dengan alasan efisiensi dan laba merosot setelah wabah Covid-19 di Indonesia mencuat tiga bulan terakhir.

Komunikasi Pengusaha dan Karyawan

Hendarsam justru tidak sependapat soal aturan PHK terhadap pegawai oleh perusahaan.

“Di awal-awal wabah mulai ada, opsi (PHK) ini terlalu terburu-buru dan reaktif. Tentu, untuk memunculkan suatu dampak terhadap bidang usaha tertentu tidak langsung serta-merta ada. Kecuali jenis usaha lain dari kalangan ekonomi bawah, seperti warung tegal, driver ojeg online dan sejenisnya, mereka berdampak langsung karena pemasukan ekonomi didapat sehari-hari. Tapi kalau ada perusahaan yang sudah stabil lalu menerapkan PHK, itu terlalu terburu-buru, ya. Bukan opsi yang bijak untuk saat ini,” jelasnya.

Wakil Ketua Advokasi DPP Partai Gerindra ini mengimbau perlu adanya komunikasi antara pengusaha dan pegawai dalam menyelesaikan masalah tanpa opsi PHK.

“Untuk pemberian insentif atau bonus bagi pekerja masih bisa diterapkan untuk efisiensi. Sehingga pengusaha dan pekerja bisa survive untuk sama-sama melanjutkan hidupnya,” tambahnya.

Sebelumnya, pemerintah, melalui Presiden Joko Widodo mengatakan telah menyiapkan anggaran insentif perpajakan dan stimulus Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Stimulus ini guna memulihkan dunia usaha yang terdampak pandemi Corona. “Sebanyak Rp 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR,” ucap Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, akhir Maret lalu.

Insentif perpajakan yang bakal diberikan kepada dunia usaha, salah satunya adalah menggratiskan PPh 21 Wajib Pajak (WP) orang pribadi untuk pekerja di sektor pengolahan dengan penghasilan maksimal Rp 200 juta per tahun.

Nantinya, PPh 21 dari pekerja di sektor itu akan ditanggung pemerintah 100 persen. Lalu, pemerintah juga membebaskan PPN Impor untuk WP kemudahan impor tujuan ekspor (KITE).

Restitusi 19 Sektor

Terutama untuk industri kecil dan menengah pada 19 sektor tertentu. Insentif perpajakan lain yang akan diberi adalah pengurangan tarif  PPh sebesar 25 persen wajib pajak KITE, terutama industri kecil dan menengah pada sektor tertentu.

Selain itu mempercepat restitusi PPN bagi 19 sektor tertentu untuk menjaga likuditas pelaku usaha. Maka itu, Hendarsam mengajak semua masyarakat untuk bahu-membahu menanggulangi wabah ini.

Diketahui, beberapa waktu terakhir sejumlah pengusaha atau pelaku usaha dalam dan luar negeri ramai-ramai berdonasi untuk membantu pemerintah dan masyarakat terkait dampak Covid-19.

Sebetulnya, kata Hendarsam, langkah-langkah yang diambil para pengusaha dan masyarakat untuk membantu, bukan dilihat dari berapa yang didapat.

“Sebenarnya jumlah itu enggak seberapa dengan biaya keseluruhan untuk penanggulangan Covid-19. Tapi paling tidak, kita dapat nilai-nilai kebersamaan, antar-manusia bisa saling bahu-membahu dan membantu pemerintah. Menyingkirkan segala latar belakang, termasuk politik, SARA dan kita bersatu untuk menanggulangi Corona. Tangan tidak selalu dibawah, tapi juga bisa di atas,” tutupnya.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi