Nalar.ID

Deteksi Gempa, Ini Cara Kerja Seismograf

Jakarta, Nalar.ID – Indonesia dikenal sebagai negara yang dikelilingi beragam gunung berapi aktif. Praktis, kerap terjadi gempa. Baik skala besar atau kecil. Dampak gempa, bisa ‘menyeret’ bencana lain; tanah longsor, tsunami, hingga likuifaksi atau pencairan tanah.

Para ilmuan menggunakan alat seismograf untuk mendeteksi gempa. Seperti apa alat ini bekerja mencatat gempa? Pada prinsipnya, alat ini dipasang di permukaan bumi. Sehingga ketika tanah mulai bergetar, getaran ikut menggoyang cangkang dari instrumen bergerak seismograf.

Seperti dikutip Live Science, Sabtu (29/12), getaran ini menggoyangkan pena pendulum di bawah massa pemberat. Selanjutnya akan mencatat pergerakan dan waktu terjadinya tremor atau getaran. Diketahui, sejak 10 tahun silam, Indonesia sudah menggunakan broadband seismometer. Alat ini memanfaatkan frekuensi agar laporan diperoleh secara real time.

Dalam suatu kesempatan, belum lama ini, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan bahwa seismograf itu dipakai sejak peristiwa tsunami Aceh tahun 2004.

Sensitif Suhu dan Atmosfer
Sejatinya, jangkauan frekuensi broadband seismograf lebih luas ketimbang seismograf biasa. Frekuensi berkisar 0,01 sampai 50 Hertz. “Alat itu sensitif terhadap perubahan suhu dan atmosfer,” kata Rahmat, dalam jumpa pers di Kantor BMKG, Jakarta Kamis (27/12).

Cara kerjanya, yakni mendeteksi dan merekam getaran. Lalu data yang terekam, dikirim menuju amplifier. Kemudian diteruskan ke alat konversi digital dari data analog dan diteruskan ke komputer. Piranti lunak dalam komputer, lantas mengolah data untuk menghasilkan broadband seismograf. Umumnya, piranti lunak menggunakan NetRec atau MnoST.

Sementara, khusus untuk anak Gunung Krakatau, BMKG fokus memantau dampak aktivitas anak gunung itu dengan broadband seismograf ini. Dampak dari aktivitas gunung itu sangat berbahaya. Longsoran dalam laut hingga tsunami.

“Otomatis, kalau semua mendeteksi atau tiga mendeteksi, kami bisa tahu sumber getaran dan kekuatan berapa. Kalau hasilnya signifikan, warning bisa kami keluarkan,” tukas Rahmat.

Sebab itu, deteksi gempa dengan skala lebih kecil dari 3,4 sampai 3,5 magnitudo, dilakukan. Ini merujuk pada kejadian di Selat Sunda lalu, di mana, kata Rahmat, diperkirakan gempa sebesar 3,4 magnitudo mampu menyebabkan tsunami setinggi 2 – 5 meter.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi