Nalar.ID

Dibalik Buku ‘212 Undercover’ Karya Wulandari dan Evieta

Nalar.ID – Peristiwa aksi 212 merupakan sejarah fenomenal melibatkan jutaan umat muslim di Tanah Air. Peristiwa itu berawal dari salah ucap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Isu lokal ini lantas berkembang menjadi isu nasional.

Dari peristiwa itu, terpercik bara api dan bibit perpecahan. Hal ini berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa. Sejumlah upaya dilakukan agar Indonesia tetap bersatu dan hancur lebur.

Adalah Sayyid Abdul Qadir Thoha Ba’aqil, seorang tokoh masyarakat yang peduli persatuan bangsa. Ia bergerak mencari solusi atas rentetan peristiwa itu.

Negara Hadir di Masyarakat

Muncul gagasan dari seorang habib dan seorang tokoh masyarakat. Dalam gagasannya, guna mencegah terjadinya kerusuhan maka perlunya negara hadir di tengah-tengah aksi akbar itu.

Ide itu lalu disambut baik oleh kepala intelijen. Lantas disalurkan melalui akses-aksesnya. Menjelang ibadah shalat Jumat, Presiden Joko Widodo hadir di tengah massa dan mengikuti shalat Jumat. Usai salat Jumat, presiden memberi sambutan.

“Negara-negara maju, pemerintah selalu hadir di tengah  rakyat. Apapun sistemnya. Indonesia, oleh founding father sudah diberi landasan Bhinneka Tunggal Ika. Apapun perbedaan di negara kita masih ada ruang, waktu dan tempat mencari kesamaan agar selalu bersatu dalam perbedaan,” ucap Sayyid di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/6).

Gagasan itu, lantas diceritakan Habib dalam buku ‘212 Undercover’. Buku setebal itu diluncurkan di Jakarta, Jumat, 21 Juni 2019 lalu. Peluncuran diselingi diskusi dan bedah buku. Di buku itu, ia memaparkan pandangan tentang kedaulatan dan kebangsaan Indonesia.

“Sebaik-baiknya manusia adalah paling bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah, apa yang saya sampaikan bisa terlaksana,” kata Habib.

Wawasan Kebangsaan

Dalam peluncuran buku tersebut, Habib didampingi Ustaz Tawfiqur Rahim. Tawfiqur ialah anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalimantan Selatan. Ia juga menjadi Sekretaris MUI Kalimantan Selatan.

Diketahui,Ustaz Tawfiqur adalah tokoh yang menjembatani Habib dengan Kabinda Kalimantan Selatan, Brigjen Hotman Sagala. Kolaborasi antara Habib dan Kabinda tertuang dalam cerita di buku ini.

Di tempat serupa, dua penulis buku, yakni Sri Wulandari dan Evieta Fadjar P. menjelaskan, buku ini merupakan perjalanan ideologi yang Habib miliki. Lalu, tentang sikapnya terhadap wawasan kebangsaan.

“Dari Habib, kami mengetahui banyak wawasan kebangsaan dan kepedulian pada Pancasila, UUD Negara Indonesia 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan negara kesatuan Republik Indonesia. Ini perlu dan sering digaungkan lagi demi keutuhan bangsa dan negara ini,” kata kedua penulis.

Wulan, sang penulis berharap, atas kehadiran buku ini, sikap nasionalis Indonesia mulai terkikis. Dan daat bangkit kembali dan terwujud kembali persatuan dan kesatuan bangsa.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi