Nalar.ID

Digitalisasi Musik Kian Menggurita, Ini Kata Bos Nagaswara Rahayu Kertawiguna

Jakarta, Nalar.ID – Era digitalisasi dan teknologi, menggurita besar-besaran ke setiap sektor. Termasuk industri musik, yang tak bisa bersembunyi dari hal tersebut. Tren orang mendengarkan musik sudah berubah. Mulai dari era piringan hitam, kaset pita, CD (compact disc) atau DVD (digital video disc), hingga layanan musik berbasis streaming dengan sistem unggah atau ber-download.

Para pelaku atau penikmat industri musik tak menampik, ada yang hilang dari dampak digitalisasi. Mulai dari romantisme memegang dan mengoleksi rilisan fisik hingga beralih ke digital.

Dihubungi Jumat (14/12), CEO perusahaan label musik Nagaswara Publishing, Rahayu Kertawiguna, menuturkan bahwa fenomena digitalisasi tidak bisa dihindari lagi. “Terlebih fokus (perusahaan) kami kepada industri musik. Mau enggak mau harus kita hadapi,” kata Rahayu.

Ia mengungkapkan, ada yang hilang dari kemunculan digitalisasi di industri musik. Dengan adanya digitalisasi, lanjutnya, secara otomatis membuat produk fisik menghilang secara pelan namun pasti. “Saya akui, kita telah kehilangan format (album atau single) fisik dan sebagainya,” tambahnya.

Zaman Keemasan

Puncak kejayaan dengan produk rilisan fisik pernah dialami Rahayu sebelum tahun 2010. Saat itu, sejumlah penyanyi binaannya pernah nge-hits seiring cetak laba signifikan bagi perusahaan secara signifikan. Terutama dengan meroketnya zaman keemasan RBT (ring back tone) sepanjang 2008 – 2010.

Rahayu Kertawiguna - nalar.id
CEO Nagaswara Publishing, Rahayu Kertawiguna. NALAR/Dok.Pribadi.

“Tapi saat RBT anjlok tahun 2011, kami mulai terpuruk. Kami mulai membatasi beberapa artis yang masuk di perusahaan. Dulu, saya berani spekulasi. Misalnya, dengan iklan di RBT sekian, bisa balik modal. Sekarang, dengan perkembangan zaman (digital), semua ikut berubah,” jelasnya.

Meski demikian, digitalisasi dan teknologi memberikan dampak baik pada industri musik. Menurut Rahayu, manfaat digitalisasi sangat baik dari kemajuan teknologi di dunia ini adalah kecepatan waktu. “Konsumen (pembeli) dapat dengan mudah mendengar lagu kesukaannya,” imbuhnya.

Senada dengan Rahayu, musisi Iwan Fals, juga mengakui bahwa keberadaan digitalisasi tak bisa dihindari dari pelaku musik. Kata Iwan, seperti dikutip detik.com, Kamis (13/12), sesuatu yang hilang (rilisan fisik) memang buah risiko dari perkembangan zaman. Namun, lanjutnya, banyak hal yang bisa dipetik dari kemajuan dan perubahan ini. Salah satunya dampak baik dari kemajuan teknologi.

Terobosan Aplikasi Musik

“Teknologi terbukti ampuh mengurangi pembajakan. Semua orang berkesempatan berkarya dan mempromosikan musiknya. Termasuk bikin album digital ke layanan streaming secara jujur tanpa ‘disetir’ kepentingan banyak pihak. Hemat kertas (untuk sampul dan kemasan) juga kalau pakai digital,” tukas Iwan.

Menjelang 2019, Rahayu Kertawiguna, siap memasang target untuk menggenjot penetrasi talent kreatif dan laba perusahan. Diantaranya melakukan terobosan dan kejutan dengan konsep peranan aplikasi musik.

“Selama ini, aplikasi gratis dan bisa download. Termasuk bajakan. Ada yang asli tapi bayar. Akhirnya, royalti enggak sesuai harapan. Saya mau sesuatu seperti itu (aplikasi). Artinya, punya reward dari situ (aplikasi berbayar). Bagaimana caranya, ya lihat nanti,” ungkapnya, ditemui di Jakarta, November lalu.

Walau demikian, produk fisik, seperti kaset, VCD hingga DVD dan piringan hitam, tetap ada dan tak akan ia hilangkan. “Itu (produk fisik) cuma bonus, enggak mungkin hilang. Itu trademark dan portofolio kami,” kata Rahayu.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi