Nalar.ID

Dukung Mitigasi Bencana, BMKG Pastikan Peralatan Operasional Terjaga

Nalar.ID, Jakarta – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, selama November lalu melakukan serangkaian kunjungan kerja ke sejumlah daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Pihaknya memastikan, peralatan operasional untuk monitoring kegempaan dan memberikan Peringatan Dini Tsunami tetap terjaga. Serta menghasilkan data akurat sebagai upaya mendukung mitigasi bencana.

Pengecekan dilakukan di pembangunan shelter dan pemasangan Seismograph Mini Regional di berbagai lokasi. Di antaranya di Yogyakarta, yaitu di Candi Abang di Blambangan, Kabupaten Sleman. Lalu, di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul; serta di Jawa Tengah, yaitu di Kecamatan Kretek, Kabupaten Wonosobo.

Kegiatan serupa juga dilakukan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Rahmat Triyono di beberapa daerah di Buleleng, Bali. Begitu pula lokasi-lokasi lain, seperti di Papua, Maluku, Sulawesi, NTT, NTB, Jatim, Jabar, dan wilayah Sumatera. Pengecekan dilakukan oleh tim Pusat Gempabumi dan Tsunami.

Selain pengecekan pembangunan atau pemasangan seismograph baru yang tahun ini ditargetkan terpasang di 39 lokasi, juga ada pengecekan dan kalibrasi terhadap sensor-sensor seismograph dan accelerometer.

Serta intensitymeter yang telah terpasang dan beroperasi sejak tahun 2009. Fungsinya merekam sinyal gempabumi dalam sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System – InaTEWS).

“Meski batas life time-nya rata-rata hanya 10 tahun, namun sensor-sensor itu masih beroperasi dengan baik hingga saat ini. Selalu terkalibrasi rutin,” tukas Dwikorita, mengenai hasil pengecekannya, kepada Nalar.ID.

Peringatan Dini

Dwikorita, yang didampingi oleh Deputi Meteorologi Guswanto menambahkan, sejak tahun 2008 – 2018, Peringatan Dini Tsunami di Indonesia disebarkan oleh BMKG ke masyarakat. Penyeberan informasi ini melalui BNPB dan BPBD pada menit ke lima setelah guncangan gempa terekam seismograph.

Sehingga waktu yang tersisa untuk proses evakuasi masyarakat masih 15 menit, jika datangnya tsunami di menit ke 20, seperti yang diskenariokan terburuk untuk tsunami akibat gempabumi megathrust di dasar Samodra Hindia, sebelah selatan Pulau Jawa, atau sebelah barat Pulau Sumatera.

Tercatat, BMKG Jepang (Japan Meteorological Agency) telah mampu memberikan Peringatan Dini Tsunami pada menit ke tiga setelah guncangan gempabumi terekam seismograph. Serta dua menit lebih cepat daripada peringatan dini oleh Indonesia di tahun 2018. Saat itu Jepang merupakan negara tercepat di dunia dalam memberikan Peringatan Dini Tsunami.

Sejak 2019, BMKG Indonesia mulai mengembangkan Inovasi Teknologi dengan melahirkan Warning Receiver System New Generation (WRS -NG). Sehingga BMKG Indonesia dapat memberikan informasi gempabumi pada menit ke dua setelah gempabumi. Lalu, Peringatan Dini Tsunami mulai menit ke tiga sampai ke empat setelah gempabumi terekam, seperti halnya Jepang.

Sumber Pembangkit Tsunami

Fakta dan data menunjukkan, tsunami di Indonesia dapat terjadi secara tidak lazim. Artinya, sangat cepat karena sumber pembangkit tsunami sangat dekat dengan pantai seperti yang terjadi di Palu pada 2018 lalu.

“Maka, masyarakat tak dapat bergantung pada kemajuan teknologi yang sudah ada. Namun, tetap terus memelihara dan menerapkan kearifan lokal yang sudah berkembang di masyarakat, yaitu penyelamatan diri secara evakuasi mandiri.

Dwikorita menambahkan, meskipun teknologi terus berkembang, tetapi belum bisa menandingi tsunami yang datangnya sangat cepat. Seperti kejadian di Palu, kala itu.

“Maka itu, kearifan lokal tetap harus diterapkan oleh masyarakat. Dengan kearifan lokal, saat merasakan goyangan gempabumi, maka itulah peringatan dini. Tak perlu menunggu lagi peringatan dini dari BMKG atau sirene berbunyi. Langsung segera lakukan evakuasi atau lari menuju ke tempat yang lebih tinggi dan aman,” tambah Dwikorita.

Ia mengakui, teknologi secanggih apapun tidak akan berguna jika masyarakat tidak siap dalam mengantisipasi dan menghadapi bencana tsunami yang kemungkinan akan terjadi.

Pada kesempatan itu, Dwikorita mengingatkan agar perlunya pemetaan wilayah dan penataan ruang di daerah yang rawan bencana. Baik bencana gempabumi atau longsor di dataran tinggi.

Penulis: Febriansyah | Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi