Nalar.ID

Fakta Miris Tol Trans Jawa, Ini Kata Pengamat

Jakarta, Nalar.ID – Tol sepanjang 1.167 kilometer penghubung Merak – Surabaya, akhirnya tersambung. Tol ini beroperasi penuh mulai Kamis, 20 Desember 2018. Sebetulnya, jaringan jalan tol ini lama dirancang sejak pemerintahan Presiden Soeharto. Namun, baru terwujud di era Presiden Joko Widodo.

Rupanya, dibalik kehebohan Tol Trans Jawa ini, muncul sejumlah fakta memilukan. Pengamat transportasi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah, Djoko Setijowarno, menuturkan, tol ini memberi manfaat plus kerugian kalau tidak dikelola profesional.

“Mengurangi pendapatan beberapa SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) dan restoran. Seperti jalan arteri Kendal – Batang. Restoran di ruas itu tempat persinggahan bus AKAP (antar-kota antar-provinsi) dari Jatim (Jawa Timur) dan Jateng (Jawa Tengah), menuju Jakarta dan sekitarnya,” kata Djoko, dihubungi Minggu (23/12).

Ia menilai, proyek pembangunan tol ini menimbulkan kerugian pada masyarakat. Misalnya, profesi buruh tani. Sektor ini kehilangan pekerjaan akibat proyek tersebut. “Mestinya dicarikan pekerjaan baru dan diinventarisasi,” jelasnya, memberi solusi.

Tanggung Jawab Pemda

Sebab itu, sambungnya, pemerintah daerah (Pemda) harus membantu persoalan ini. Ia mengimbau pemerintah jangan membiarkan masalah ini terus terjadi dengan alasan hal ini proyek dan urusan pusat. “Seharusnya pemda memberi data masalah-masalah itu,” imbuhnya.

Djoko mengingatkan, membuat perpres (peraturan presiden) dengan memertahankan lahan produktif sepanjang Tol Trans Jawa adalah hal bijak dari pemerintah. “Lahan untuk pangan, bukan untuk industri dan jalan,” terangnya.

Tak hanya itu. Djoko mengungkapkan, usai peresmian jalan tol, kerap ditemukan kejadian kecelakaan lalu lintas. “Kurang seminggu (kecelakaan) di ruas tol panjang setelah diresmikan. Pengendara terlena oleh jalan lurus dan mulus,” katanya, lagi.

Ia mengimbau pengemudi agar beristirahat dan tidak cepat lelah selama perjalanan. Pengendara juga harus mengukur kemampuan berkemudi. Kata Djoko,ada batas kecepatan di ruas tol yang telah diatur dalam PM 111 tahun 2015.

Penulis: Febriansyah| Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi