Nalar.ID

Festival Fulan Fehan 2018, Atraksi Wisata Dunia di Perbatasan

Nalar.ID, Atambua – Festival Fulan Fehan 2018, sukses digelar di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (6/10). Festival ini menyajikan Tari Likurai yang dibawakan lebih dari 1.500 penari. Perhelatan ini merupakan salah satu acara Calender of Event (CoE) nasional. Tujuannya, untuk mencapai tingkat kunjungan 17 juta wisatawan mancanegara (wisman) di 2018 dan 20 juta wisman di 2019.

Tari Likurai adalah sebuah tarian perang khas masyarakat Pulau Timor. Khususnya di Kabupaten Belu yang menceritakan perjuangan masyarakat setempat mengusir penjajah saat zaman perjuangan. Bukit Fulan Fehan memiliki tinggi 800 meter di atas permukaan laut. Pesonanya menjadi daya tarik tersendiri dalam festival tersebut.

Fulan Fehan terletak di lembah kaki Gunung Lakaan yang menyuguhkan panorama sabana hijau luas. Festival ini diisi koreografi indah ribuan penari yang menyajikan gerakan dan formasi memukau. Bahkan Menteri Pariwisata Arief Yahya berkesempatan ikut menari bersama ribuan penari di bukit Fulan Fehan.

Festival Fulan Fehan 2018 - nalar.id
Penari Likurai di Atambua, Nusa Tenggara Timur. (Nalar.id/Erha)

Sebagai informasi, keterlibatan koregorafer berskala internasional ini dipimpin oleh Eko Nugroho atau Eko Pece. Sebelumnya, Eko, sukses merangkai koreografi di pembukaan Asian Games 2018.

“Penyelenggaraan ini memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan. Khususnya pariwisata perbatasan (Crossborder Tourism) yang terus dikembangkan Kementerian Pariwisata di Atambua,” kata Arief, memberi sambutan.

Arief mengharapkan, festival ini bisa diadakan rutin setiap tahun agar wisatawan lokal, terutama mancanegara bisa datang ke Belu. Pihaknya juga menambahkan, festival yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini bisa melibatkan lebih banyak lagi profesional lain sehingga membuat festival tersebut benar-benar sebagai atraksi wisata kelas dunia.

“Kuncinya adalah seni-budaya, musik dan kuliner, ini untuk menggaet pasar negara tetangga. Apalagi, warga Timor Leste bisa masuk ke Indonesia dengan fasilitas bebas visa kunjungan (BVK) sehingga warganya (Timor Leste) bisa menggunakan uangnya di Indonesia,” kata Arief.

Senada dengan Kemenpar, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT Marius Jelau menyatakan, kedepan, pemerintah NTT akan meningkatkan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Belu. Tujuannya, untuk memperbanyak kegiatan di daerah perbatasan, termasuk festival tersebut.

“Tidak hanya event budaya tapi juga orkestra modern kita lihat bisa juga dilaksanakan di Bukit Fulan Fehan. Banyak sekali yang bisa dibuat masyarakat dalam rangka mengembangkan Atambua sebagai destinasi wisata di perbatasan,” ujar Marius Jelau.

Penulis: Erha Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi