Nalar.ID

Filantropis Delia von Rueti: Covid-19 Membuat Kita Berpikir Positif

Nalar.ID, Jakarta – Hingga Senin (13/4/2020) pukul 16.0 WIB, jumlah pasien kasus Corona (Covid-19) di dunia mencapai 1.851.531 juta kasus. Adapun, jumlah kasus kematian menembus 114.290. Sementara, 434.793 dinyatakan sembuh.

Terdapat 206 negara dan wilayah di seluruh dunia melaporkan Covid-19. Termasuk kasus positif di Indonesia, hingga kini menunjukkan pertumbuhan dari hari ke hari.

Sementara, untuk Indonesia, data terbaru di hari yang sama, jumlah terinfeksi mencapai 4.557 kasus. Meninggal 399 dan sembuh 380.

Disisi lain, wabah Covid-19 cukup berimbas negatif terhadap sektor kegiatan usaha. Salah satunya Delia von Rueti, desainer dan filantropis asal Bali.

Ia mengaku pandemi ini merupakan krisis global pertama yang ia alami semasa hidupnya. Terlebih berdampak besar dalam perekonomian nasional dan dunia.

Delia mengatakan masalah ini akan menjadi jalan yang sangat panjang. “Kita semua harus siap menghadapi ini. Jika bukan karena mukjizat yang akan menyelamatkan kita, saya sebenarnya takut pada diri sendiri,” tukasnya, mengomentari soal pandemi Covid-19, dihubungi Nalar.ID secara tertulis, Senin (6/4/2020).

Ia pun berharap kegiatan usaha para pelaku bisnis tetap berjalan. Delia juga mengajak masyarakat yang terdampak wabah ini untuk terus berdoa atas apapun yang terjadi.

Patuh Pajak

Meskipun demikian, tidak sedikit pelaku usaha ‘merumahkan’ hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Efisiensi atas imbauan pemerintah untuk menerapkan kerja dari rumah atau work from home (WFH) menjadi alasan utama.

Delia mengatakan tindakan tersebut sangat menyedihkan. “Tetapi bagi sebagian dari pelaku usaha tidak punya pilihan selain melepaskan karyawan dalam situasi dan kondisi seperti ini,” tambahnya.

Ia berpendapat, beberapa sektor bisnis di Indonesia yang terdampak Covid-19 mengalami kondisi cukup rapuh. Bahkan sebagian besar perusahaan mengalami kegagalan dalam beroperasi.

“Tapi, memberhentikan karyawan bukan pilihan yang ideal. Namun terkadang, dalam hidup kita hanya bisa mengendalikan apa yang akan terjadi. Pada akhirnya, dapatkah kita mengelola hambatan ini secara mandiri?,” sambungnya.

Sebagian besar negara terdampak Covid-19 tengah berjuang mengatasi wabah ini. “Namun, pemerintah kita tidak memiliki kapasitas total dalam mengatasi dan menangani masalah ini. Semoga, ke depan lebih maksimal mengatasi masalah ini,” harapnya.

Delia berpendapat, seorang pebisnis akan sukses jika ia patuh membayar pajak. Dengan begitu, pemerintah dapat melakukan tanggung jawab sosial warganya seperti dialami sebagian besar negara-negara dunia pertama.

Namun, jika PHK tidak masuk pilihan opsi, sebagai seorang pengusaha wanita dan filantropis, langkah lain apa agar roda usaha tetap berjalan?

“Ini adalah situasi sangat sulit dan sesuatu yang menantang. Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah mengirim mereka (karyawan) pulang dan menunggu hari yang lebih baik, karena kita berada di agronomi dan terus memproduksi makanan, di mana tidak ada cara yang bisa kita lakukan,” jelasnya.

Delia von Rueti - nalar.id
Delia von Rueti. NALAR/Dok.pribadi

Gunakan Tabungan

Delia menambahkan, “Karena kebanyakan dari kita harus tinggal di rumah, jadi saya menggunakan tabungan saya untuk membayarnya. Saya tidak tahu berapa lama saya bisa mengelola, karena kami juga memiliki banyak kewajiban.”

Dalam situasi pandemi ini, Delia merasakan situasi sulit untuk bertahan hidup dan normal. “Tetapi, iman dan impian saya lebih kuat dari apapun yang saya miliki. Jadi, bersama-sama kita akan berhasil dan menghadapi situasi ini,” sambungnya.

Delia berpendapat, cara apapun akan memiliki dampak besar dari kedua sisi. Ia mengistilahkan hal ini seperti bumerang dalam membuat pilihan.

“Kalaupun kami meminta pemerintah memungut pajak, maka defisit pemerintah akan lebih dalam. Mungkin kita sudah berada pada pertumbuhan negatif, di mana pemerintah memperkirakan, sebelum pandemi ini kita akan memiliki surplus sebesar 5 persen di akhir kuartal keempat tahun 2020,” jelasnya.

Sementara, sambungnya, saat ini semua mimpi itu hilang. Semua keuntungan yang dimiliki perusahaan juga hilang. Jadi, tidak ada yang tersisa untuk mengompensasi pajak.

“Kebanyakan orang hampir tak akan selamat akhir Mei bila pandemi ini tidak akan melambat,” ungkapnya.

Terkait ada sejumlah miliarder atau orang-orang kaya dunia yang berdonasi untuk wabah Covid-19, termasuk Kadin senilai Rp 500 miliar, Delia menilai hal ini sungguh menyedihkan, terutama saat melihat betapa sedikitnya uang yang dikumpulkan.

“Jika beberapa triliuner berkumpul bersama, tidak sulit untuk saling membantu. Tetapi, mungkin mudah untuk mengatakannya, karena saya tidak ada di sana.Tetapi saya berdoa kepada Tuhan agar memberi saya hikmat dan kekuatan untuk membuat perbedaan dan dapat membagikan berkat saya kepada orang lain,” tukasnya.

Delia pun berharap masalah ini membawa perubahan. “Dan berharap hidup akan memberikan kesempatan kedua bagi kita semua untuk lebih bertanggung jawab satu sama lain dan terhadap Ibu Pertiwi. Terutama diberkati bagi mereka yang telah menyumbangkan jumlah sebesar itu. Itu adalah contoh yang indah bagi orang lain,” katanya.

Sejak menerapkan work from home dan isolasi mandiri di rumah selama tiga pekan, Delia dan keluarga berusaha melakukan apa yang mereka butuhkan dari rumah. Seperti cara hidup yang sama sekali baru mereka alami. Termasuk menyikapi situasi dan masalah pandemi ini.

Tips Sehat

Namun tidak sedikit masyarakat berupaya mengantisipasi dan mencegah penularan Covid-19. Menurut Delia, yang paling penting adalah memperbaiki dan mempertahankan sistem kekebalan tubuh.

Soal ini, Delia punya kiat untuk menjaga daya tahan tubuhnya.

“Dengan mengonsumsi 3.000 mgm vitamin C, 15 mgrm zink dan banyak air. Lalu tetap berada di bawah sinar matahari dan saya suka bagian ini dan selalu melakukannya sebagai ritual setiap hari. Kemudian mempertahankan 10.000 langkah sehari, dan saya bisa melakukan di kebun sendiri. Jika kami tidak punya kebun, bisa jalan di tempat sambil memasak, nonton televisi atau menyikat gigi kami,” jelasnya.

Termasuk, lanjut Delia, yakni pemakaian masker saat beraktivitas dan keluar rumah. Diketahui, mulai 5 April lalu, Pemerintah Indonesia mulai menerapkan program ‘masker untuk semua’ sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Semua harus menggunakan masker. Masker bedah dan masker N95 hanya untuk petugas kesehatan. Gunakan masker kain, Ini menjadi penting karena kita tidak pernah tahu orang tanpa gejala didapatkan di luar,” ujar juru bicara pemerintah Achmad Yurianto Yuri, dalam jumpa pers, Minggu (5/4/2020).

Yuri mengingatkan masyarakat harus menggunakan masker kain bila akan keluar rumah. Ia juga menganjurkan penggunaan masker kain tak lebih dari empat jam lalu harus di cuci dengan sabun.

Yuri khawatir, masih banyak orang yang terkonfirmasi positif Corona keluyuran di luar dan tanpa kita sadari membawa virus itu melalui droplet. Maka demikian, masker bagi Delia penting untuk digunakan.

Lebih lanjut, Delia cukup perihatin dengan angka kenaikan kasus positif di Indonesia beberapa di dunia setiap hari karena masyarakat yang kurang peduli dengan penggunaan masker.

“Sehat ya, Dear. Wear your mask everyday,” imbau Delia, kepada Nalar.ID.

Selain menerapkan hidup sehat dan memakai masker, Delia juga turut memberikan insentif atau bonus karyawannya masing-masing senilai Rp 500.000 rupiah untuk membeli vitamin guna menjaga daya tahan tubuh dan imunitas.

“Semoga kita bisa membayar gaji dan semuanya. Insya Allah dan berkatilah bangsa Indonesia yang indah ini. Semoga kita memiliki lebih banyak rasa hormat terhadap kodrat, karena alam selalu akan menang dan mengalahkan kita, manusia. Memiliki hati yang besar, lebih baik, tetap positif, beri cinta dan berdoa. Ini pencegahan saya yang paling penting untuk virus Corona. Semoga kita segera keluar dari masalah ini,” tutupnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi