Nalar.ID

Foxtrot Six: Lokal Rasa Hollywood

Jakarta, Nalar.ID – Satu lagi, film Indonesia akan berselancar di skala internasional. Setelah The Raid (2011) dan Pengabdi Setan (2017), masuk gerbang box office mancanegara, giliran film action anyar Foxtrot Six.

Di sutradarai Randy Korompis, bersama rumah produksi Rapid Eye Pictures, ini merupakan debut Randy dalam industri perfilman. Film ini menjanjikan tayangan berkualitas dengan rasa Hollywood.

Di baliknya, ada nama besar Mario Kassar. Ia salah satu produser populer Hollywood. Kini, Mario, ikut memproduseri film Foxtrot Six. Kassar pernah terlibat film Hollywood. Seperti Terminator 2: Judgment Day (1991), Rambo (1982), Basic Instinct (2006), hingga Total Recall (1990).

Selasa (4/12) lalu, di CGV Grand Indonesia, Jakarta, MD Pictures pimpinan Manoj Punjabi, sebagai pihak distributor, merilis cuplikan (trailer) perdana Foxtrot Six. Trailer film produksi Rapid Eye Pictures dan MD Pictures itu dipenuhi efek gambar apik sekelas film Hollywood.

Tak hanya itu. Kehadiran Mario sebagai produser ikut menerapkan disiplin ketat selama proses syuting. Ketimbang dengan produksi film Indonesia, durasi syuting film ini jauh lebih lama hingga empat bulan. Proses syuting tak lebih dari 12 jam. Tujuannya, untuk menjaga mood dan kualitas para aktor. “Jadi coba kerja dengan standard Hollywood,” kata Verdy Solaiman, seorang pemain, Selasa (4/12).

Sebelumnya, syuting mulai 2015 tapi sempat tertunda akibat perubahan perencanaan. Akhirnya, syuting dilakukan 2017, tiga hingga empat bulan. Foxtrot Six dijadwalkan rilis 2019.

Film ini bercerita tentang kondisi Indonesia masa depan. Seorang mantan anggota marinir bersama teman-temannya berjuang menyelamatkan Indonesia dari kemiskinan dan kepemimpinan partai pemberontak kejam. Sejatinya, film ini bakal menjadi film pertama yang mengombinasikan latar Indonesia dengan teknik produksi Hollywood.

Film ini melibatkan aktor dan aktris ternama Indonesia. Oka Antara, Verdi Solaiman, Rio Dewanto, Chicco Jerikho, Arifin Putra, Julie Estelle, Edward Akbar, dan Mike Lewis. Termasuk Aurelie Moeremans dan Miller Khan.

Termasuk melibatkan visualis efek Andrew Juano. Ia pernah terlibat film Life of Pie (2012) dan dapat Piala Oscar kategori ‘Best Visual Effect’.

Penulis: Veronica Dilla| Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi