Nalar.ID

Geliat 50 Tahun Panbers: Pikat Milenial hingga Amanah Benny Panjaitan

Nalar.ID, Jakarta – ‘Masih kah kau ingat waktu di desa bercanda bersama di samping gereja.. Kala itu kita masih remaja.. Yang polos hatinya bercerita..’

Penggalan bait di atas merupakan sepenggal lirik berjudul Gereja Tua, milik salah satu band legendaris Tanah Air, Panbers. Lagu tersebut pernah populer di masanya, atau sekitar tahun 1970-an.

Bagi pencinta tembang-tembang lawas, tentu tak asing lagi mendengar nama grup Panbers, atau Panjaitan Bersaudara. Ratusan judul hit lagu mereka ciptakan. Mulai dari Gereja Tua, ada Musafir, Terlambat Sudah, Hidup Terkenang, Pilu, hingga masih banyak lainnya.

Diketahui, grup ini berdiri tahun 1969 di Surabaya, Jawa Timur. Formasi asli, di antaranya Hans Panjaitan, Doan, Panjaitan, Benny Panjaitan, dan Asido Panjaitan.

Perjalanan karir Panbers dimotori si anak ketiga, yaitu Benny Panjaitan. Namun, seiring perjalanan waktu, usia para personil sudah tak lagi muda. Masa kejayaan Panbers mulai terhentak usai personil pergi satu per satu.

Tahun 1995, kakak tertua, Hans Panjaitan, wafat di usia ke 49 tahun. Ia mengidap penyakit jantung yang lama menggerogoti.

Sebelum Hans meninggal, Panbers merekrut personil anyar, di luar keluarga Panjaitan. Namanya Maxi Pandelaki, tetangga dan sahabat Panbers sejak kecil. Tak lama usai Hans tiada, dua personil baru kembali direkrut: Hans Noya dan Hendri Lamiri.

Namun, 15 tahun usai kepergian Hans, Panbers kembali ditinggal personil lain, atau kaka kedua, Doan Panjaitan karena penyakit gagal ginjal. Terakhir, disusul Benni Panjaitan, pentolan Panbers, yang menyusul pergi pada 24 Oktober 2017, karena stroke yang diderita selama tujuh tahun terakhir.

Kini, sepeninggal Benny, tersisa si bungsu Asido Panjaitan, sang drumer, sekaligus personil lawas. Rupanya, sepeninggal Benny, Asido sempat menerima amanah dari sang kakak untuk melanjutkan perjuangan Panbers.

“Sebagai adik paling kecil, sebelum dia meninggal, saya sudah bilang ‘Bang, kita lanjut, ya’. Dia bilang, ‘Lanjutkan, Do, selama kamu bisa main drum, kamu tetap jadi pemain drum Panbers, lanjutkan. Anak-anak kita juga punya. Nanti mereka berkeinginan sendiri sampai mereka mau sendiri seperti kita’,” tukas Asido, mengenang, perbincangan dengan sang kakak, Benny, dalam keterangan media, beberapa waktu lalu.

Kini, Panbers kembali dengan formasi anyar. Di formasi ke empat, Panbers digawangi oleh Yohanes T. Darmawan (vokal), Maxi Pandelaki (keyboard), Asido Panjaitan (drum), Ade Panjaitan (melody), dan Semmy Black (bass).

“Mereka bukan orang baru. Tapi karena kesibukan, terus mereka balik lagi. Orang lama yang kembali lagi. Melanglang buana, baru pulang lagi,” kata Asido Panjaitan, ditemui di sela latihan bersama Panbers, belum lama ini.

Dalam waktu dekat, mereka bakal menggelar mini konser live streaming pada 6 Desember 2020 mendatang. Berlokasi di studi Panbers di kawasan Ciledug, Tangerang, mereka akan membawakan beberapa lagu terbaik Panbers dalam konsep live streaming. Konser tersebut bagian dari rangka 50 tahun berdirinya Panbers.

Apa yang menarik dari live streaming nanti? Berikut penuturan eksklusif Asido Panjaitan kepada Ceppy F. Bachtiar, di sela latihan bersama para personil lain dan pengisi acara, beberapa waktu lalu di studio Panbers di Ciledug, Tangerang.

Alasan memilih tema 50 tahun di live streaming nanti?

Panbers, dihitung dari keterlibatan rekaman, ya sudah sejak tahun 1970 hingga 2020 ini. Ini masih hitungan rekaman, ya. Kalau (tahun) berdiri, sudah lewat sebelumnya.

Mengapa konsep live streaming?

Ini tidak terlalu jauh berbeda dengan live streaming sebelumnya. Dua bulan lalu, kami pernah bikin untuk kedua kalinya. Sebelumnya, tiga bulan lalu, live streaming yang pertama. Kalau sekarang, ada tambahan artis-artis dan acara potong kue. Kemudian, ada sambutan empat orang dari Trimedya Pandjaitan, Titiek Puspa, Bens Leo, dan para penggemar abadi Panbers. Karena protokol kesehatan, tidak boleh kumpulin orang, kan.

Pengisi acara nanti?

Ada Trio Panbersto, Laura Panjaitan, Style Voice, Henri Lamiri, hingga Christine Panjaitan. Kalau konsep interior, enggak ada yang special. Paling hanya backdrop ‘50 Tahun Panbers’. Sisanya tak ada.

Apa yang special di tahun ke 50 Panbers?

Kami baru saja mendapat penghargaan pembuatan perangko dari pemerintah pada 5 Agustus 2020 lalu. Di berikan oleh pemerintah. Di desain dari (Kominfo) Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk kami.

Setelah kepergian Benny Panjaitan, ada suasana yang berbeda dari Panbers saat ini?

Perbedaan selalu ada. Permasalahan vokal, kan berlainan, tetapi untuk musik tidak ada bedanya. Untuk musik ini, orang-orang lama semuanya. Termasuk di formasi ke empat ini, ada tambahan personil, ini juga orang lama yang kembali bergabung (Ade Panjaitan dan Semmy Black). Walau formasi baru, tempo tetap sama.

Ada yang berubah dari aransemen dan musik?

Perubahan sedikit ada. Artinya, penyesuaian aransemen atau sound. Tapi, tetap pada jalur musik original yang sudah pernah dibuat. Sedikit lagi penambahan, disamping di vokal, kalau dulu, kan didominasi oleh Benny di solo. Sekarang, kita coba beberapa aransemen dengan komposisi vokal trio. Tetap ada solo, tapi ada kalanya disisipi oleh trio.

Ada rencana karya terbaru?

Album terakhir kami 2009. Setelah itu, kami belum bikin lagu baru. Tapi, kami sudah bikin album live recording, hanya angkat lagu-lagu Panbers dulu yang tidak terlampau dikenal, kami angkat lagi. Sekarang, masih proses recording. Kalau tak ada halangan, awal tahun 2021 bisa lanjut lagi dan rilis di pasaran.

Proses distribusi?

Iya, secara digital. Single-single dulu saja.

Mengapa kembali mengangkat lagu-lagu lama?

Kami sesuaikan dengan suasana saat ini. Kami coba rangkul kaum milenial, dengan sedikit perubahan aransemen, tapi tidak lepas dari jalur originalitasnya.

Bagaimana menyesuaikan dengan milenial?

Kita coba dengan aransemen musik. Lalu, kami sesuaikan dengan musik kekinian.

Misalnya?

Akustik. Kalau dulu kami mengandalkan elektrik, sekarang mulai ke akustik supaya dikenal kalangan anak muda dan milenial.

Kalau penampilan?

Tak bisa (diubah). Orang tetep tahu (Panbers). Tapi, kalau ada kesempatan nanti, di banyak-banyak event, kami akan libatkan penyanyi muda atau milenial untuk membawakan lagu-lagu Panbers. Konsepnya nanti untuk daya tarik dan mengenalkan milenial ke Panbers.

Setelah live streaming 6 Desember nanti, ada rencana apa lagi?

Belum tahu. Kami mau selesaikan dahulu album rekaman live recording secara digital. Ada delapan lagu dari beberapa album terdahulu yang kami pilih. Sebenarnya lagunya bagus, tetapi saat itu belum terlampau terangkat. Sudah keduluan oleh lagu-lagu hit sebelumnya. Kami pastikan, lagu-lagu itu nanti pas dan enak.

Pertimbangan memilih delapan lagu?

Kami pilih dan seleksi. Prosesnya lebih-kurang dua bulan untuk kami lihat dan pilih. Kami pilih, yang kami anggap bisa disesuaikan dengan kondisi sekarang.

Rilis kapan?

Harapannya, kalau pandemi berakhir, paling lambat pertengahan tahun 2021 bisa jalan dan di rilis ke pasar.

Harapan?

Semoga Panbers masih tetap digemari masyarakat. Kami juga masih terus main musik. Meskipun umur sudah tua, kami masih harus semangat bermain musik.

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi