Nalar.ID

Hobi Moge Klasik, Lawyer Hendarsam Marantoko: Unik dan Beraura Tersendiri

Nalar.ID, Jakarta – Tanpa memandang profesi dan latar belakang pendidikan, serta kedudukan, hobi dapat jadi milik siapa saja. Namun, jika selama ini lawyer (pengacara) lebih banyak terlihat mentereng dan glamor dengan mobil yang ia kendarai kemana saja, rupanya ada, lho para lawyer yang mengaku pencinta motor gede (moge) dan klasik.

Salah satunya lawyer ternama Hendarsam Marantoko, Managing Partner Hendarsam Marantoko and Partners (HMP). Kepada Nalar.ID, ia mengaku sudah menggemari kendaraan besi roda dua sejak usia remaja. Tepatnya, sejak tahun 1990-an.

“Dari tahun 1990-an, suka motor waktu awal-awal merantau. Kemana-mana pakai motor. Motor apa saja. Makin ke sini suka motor tua karena punya keunikan dan aura tersendiri. Sebab, saya basic-nya pencinta barang-barang klasik,” kata Hendarsam, yang kini masih menjadi Tim Advokasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.

Hendarsam Marantoko. NALAR/Dok. pribadi

Tidak hanya mengoleksi tujuh moge di kediamannya, dalam berbagai kesempatan, ia juga kerap melakukan touring bersama komunitas motornya, Bikers Brotherhood MC (BBMC) Indonesia, di berbagai wilayah di Tanah Air. Khususnya di Pulau Jawa.

Berikut bincang khusus kepada Ceppy Febrinika Bachtiar, dari Nalar.ID, Jumat (24/6/20220):

Mulai pertama touring?

Tahun 2005/2006. Motor adalah bagian dari hidup saya. Kendaraan saya sehari-hari selain mobil. Apalagi, pas awal-awal merantau ke Jakarta, saya lebih sering menggunakan motor. Masih merintis karir sebagai seorang lawyer dan bekerja di kantor orang lain sebagai associate lawyer.

Gabung di klub apa?

Bikers Brotherhood MC (BBMC) Indonesia. Klub yang berbasis motor tua. Anggotanya sudah ribuan, kurang tahu pasti. Pastinya ribuan karena ini klub motor tertua dan terbesar di Indonesia.

Kami pencinta motor-motor tua. Ada beberapa klub yang mengkhususkan pada motor tua. Nggak banyak. Paling cuma 1-2 klub tapi yang besar adalah ini. Di mana, kami menggunakan motor tua keluaran khusus Eropa dan Amerika Serikat dengan usia 30 tahun. Paling muda usia 30 tahun ke atas. Jadi, saya basic-nya adalah pencinta barang-barang tua dan klasik.

Hendarsam Marantoko. NALAR/Dok. pribadi

Sejauh ini, koleksi berapa unit?

Ada tujuh. Bukan hanya moge, tapi ada beberapa motor yang cc-nya kecil tapi basic-nya motor tua. Saya punya dua Harley Davidson (HD). Terus, ada Hip Hop dan Dyna Fat Bob custom Club Style tahun 2013. Itu keluaran tahun muda teknologi terbaru 1.700 cc, besar sekali. Sering saya gunakan.

Kedua, HD juga, tahun 1978. Lalu, punya juga keluaran Inggris tahun 1956, merk Norton Dominator dan Matchless.

Saya juga punya tiga motor Inggris. Dua merk Norton keluaran 1956 dan 1960-an, dan Matchless 1956. Ada juga motor Jepang, Honda CB200 tahun 1976 dan Vespa.

Basic saya nggak cuma moge, tapi juga suka motor tua. Dari tujuh motor saya, hanya satu motor baru. Sisanya motor tua karena punya keunikan dan aura tersendiri. Sebab, saya basic-nya adalah pencinta barang-barang klasik.

Kenapa suka klasik?

Semua barang klasik, suka. Mulai dari baju sampai fashion. Saya mengoleksi jaket-jaket tua keluaran tahun Perang Dunia II.

Di rumah juga, banyak menggunakan unsur-unsur barang klasik dan tua. Sekarang lagi merestorasi beberapa mobil tua atau antik. Selain selera dan suka, ini sebuah investasi. Dibandingkan beli kendaraan baru yang akan turun terus. Nah, (motor tua) ini harganya, minimal nggak turun. Bahkan kecenderungannya naik sekali.

Selama ini, pernah touring ke mana saja?

Macam-macam. Gonta-ganti motor. Tergantung teman-teman (klub BBMC Indonesia), ya. Kalau teman-teman banyak pakai motor tua, saya pakai motor tua. Terakhir, ke Palembang pakai Norton keluaran 1956 di 500 CC. Nggak ada kendala dengan teman-teman, nggak ada masalah. Disitu seninya.

Kalau kita touring pakai motor biasa, atau motor bebek, bisa aja touring ke mana saja kalau lancar-lancar aja. Justru, (dengan motor tua) kita dapat soul-nya dalam berkendara. Dapat ceritanya saat menggunakan motor tua. Waktunya (perjalanan), biasanya lebih lama karena pasti ada trouble di jalan.

Hendarsam Marantoko. NALAR/Dok. pribadi

Pernah pakai apa lagi?

Beberapa kali pernah pakai Harley Davidson yang baru. Tergantung teman-teman. Kalau, misalnya mereka pakai motor-motor baru, seperti Harley Davidson baru, saya pakai itu juga supaya kita nggak ketinggalan saat berkendara.

Maksudnya?

Kecepatannya sama, tentunya akan lebih efektif. Kalau ada teman, cc motornya terlalu jauh, kita pakai cc besar dan teman pakai cc yang jauh lebih kecil, ini nggak balance dalam berkendara bareng-bareng saat konvoi karena tingkat kecepatan. Karena cc besar cenderung untuk berada di kecepatan yang lebih cepat. Cc kecil nggak bisa nguber. Nah, kecenderungannya ke arah situ.

Lalu, ke mana lagi?

Jawa Tengah. Cuma belum sampai ke Jawa Timur. Kalau Jawa Barat, sudah bolak-balik, touring-touring pendek. Ke Sumatra, juga baru sampai ke Palembang tapi saya sedang mempersiapkan diri untuk ke Nol KilomEter di Sabang, Aceh. Itu salah satu wish list saya untuk ke Aceh, Nol Kilometer, menggunakan motor tua.

Kalau touring pakai motor baru?

Kalau menggunakan motor baru, menurut saya tantangannya kurang. Bahkan saya pernah menggunakan Norton saya. Soalnya, dulu, Norton pernah digunakan salah satu aktivis politik dari Kuba, Che Guevara, idol dan mentor para aktivis seluruh dunia. Dia pakai Norton itu keliling sampai Chili. Sampai ribuan kilometer.

Norton ini sudah sangat terbukti ketangguhannya. Tapi, karena dia sudah berumur dan tua, perlu beberapa diperbaiki. Khusus Norton ES2 tahun 1956 saya sangat tangguh sekali.

Hendarsam Marantoko. NALAR/Dok. pribadi

Pengalaman berkesan selama touring?

Banyak. Cerita di jalan, itu bisa kita dapatkan dari trouble, istirahat di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar). Istirahat di mini market, bareng teman-teman berbagai macam latar belakang sosial.

Dari jenderal sampai tingkat strata yang paling rendah, ada. Kita bersatu dan disitulah kebersamaan kita. Asas brotherhood itu benar-benar kita jalankan. Nggak ada perbedaan. Di klub ini, semua latar belakang kita tinggalkan. Di sana, kita nothing dan bukan siapa-siapa.

Jadi, perbedaan mencolok ketimbang klub motor lain adalah disitu, persaudaraannya. Para pencinta motor tua yang dilandasi oleh persaudaraan dengan lima asas Bikers Brotherhood MC (BBMC) Indonesia.

Sebagai seorang lawyer, mengapa memilih hobi moge?

Dari tahun 1990-an, saya suka motor. Ke mana-mana pakai motor. Motor apa saja. Tapi, ketika sudah ke sini, ya hobi. Tadinya, pengen ngumpulin mobil. Cuma karena tinggal di Jakarta dan lahan sangat terbatas. Tapi, kalau mobil, kan kita punya empat saja, rumah sudah penuh.

Harus punya modal lebih besar lagi untuk mengoleksi mobil. Kalau koleksi motor, bisa dengan lahan terbatas. Tapi, harga unit yang jauh lebih mahal ketimbang mobil, khususnya motor-motor tua.

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi