Nalar.ID

Idol Cilik, Tak Sekadar Cetak Bibit

Nalar.ID, Jakarta – Sukses dengan Indonesian Idol 2018 musim ke-9, program serupa kembali digelar. Kali ini difokuskan untuk junior. RCTI berjanji, ajang ini tak hanya mencari bibit lewat format talent search namun menyiapkan wadah para finalis saat terjun di industri musik sebenarnya.

Melanjutkan kesuksesan Indonesian Idol Junior musim kedua di MNCTV pada 15 Oktober 2016 – 11 Maret 2017, ajang serupa kembali digelar di 2018.

Program ini dimulai dengan penayangan proses audisi seleksi dari berbagai kota besar di Indonesia. Selanjutnya, diikuti babak eliminasi. Dari proses itu, diambil 16 junior terbaik yang siap maju ke babak Spektakuler. Para junior yang lolos di Top 16, tampil live show pertama pukul 15.30 WIB, Jumat (31/8), dengan dipandu host Daniel Mananta dan co-host Agatha Chelsea.

Bekerjasama dengan Fremantle Media, program pencarian idola junior yang mempunyai bakat menyanyi ini diperuntukkan anak usia 5 sampai 14 tahun.

Formasi juri tahun ini muncul dengan warna berbeda. Ada Maia Estianty, Rossa, Rizky Febian, dan Rayi ‘RAN’. Director Programming & Acquisition RCTI Dini Putri, ditemui khusus, usai jumpa pers di Auditorium MNC Studios, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (28/8), mengatakan pemilihan dewan juri punya alasan khusus.

“Kami butuh seorang ibu yang mengayomi anak-anak (peserta). Sosok itu ada pada Bunda Maia dan Oca (Rossa). Lalu Rizky dan Rayi, sebagai sosok kakak-kakak. Biasanya, adik akan dekat dan berlindung kepada kakaknya,” kata Dini.

Dari beberapa ajang pencarian berbakat menyanyi sebelum-sebelumnya, sosok Maia dianggap sebagai juri ‘galak’ dan tegas. Kenyataan ini tak terbantahkan. Meski begitu, kata Maia, dalam menyeleksi dan memulangkan kontestan melalui penentuan ‘YES’ atau ‘NO’, ia memegang prinsip tegas namun tetap menjaga perasaan peserta.

“Aku harus bisa menjaga supaya enggak terlalu to the point walau dengan cara yang lain,” kata Maia.

Lain hal dengan Rossa. Pelantun Tegar ini justru sempat ragu saat RCTI memintanya menjadi juri. Pasalnya, ini kali pertama ia menjadi juri pencarian bakat menyanyi anak-anak. “Aku paling enggak bisa ngomong ‘NO’, enggak tega. Biar Maia aja, hehe,” timpalnya.

Meski nanti ada peserta gugur secara bergantian, Rossa, menilai ini merupakan ajang bergengsi. Kendati demikian, kata Rossa, walau peserta masih usia anak-anak, harus terus dipoles meski keluar sebagai pemenang atau finalis. Menurutnya, proses menjadi bintang perlu metode perlakuan dan latihan terus-menerus.

“Saya mau mereka punya attitude baik. Supaya anak-anak enggak punya ego bintang, tetap humble, dan populer tapi enggak melupakan sekolah. Ini paket komplit,” jelasnya.

Program talent search menjadi andalan RCTI. Berbagai kesuksesan telah disuguhkan. X Factor Indonesia, Rising Star Indonesia, Masterchef Indonesia, Sasuke Ninja Warrior Indonesia, hingga Indonesian Idol 2018, yang melahirkan Abdul sebagai runner-up dan Maria sebagai pemenang.

Maria merupakan produk dari Indonesian Idol Junior 2014. RCTI berharap, ajang ini bisa sukses di level senior seperti Maria.

“Kami enggak hanya mikirin untuk (program) televisi dan menyediakan wadah lewat manajemen tapi next anak-anak bisa menjadi role model di luar. Dengan wadah, kami bisa menata dan menampilkan kualitas anak-anak untuk 5 tahun kedepan, terutama potensi dan ekspektasi mereka benar-benar siap terjun di industri,” jelas Dini.

Idol junior, merupakan program yang sukses di 9 negara. Ada Puerto Rico, Brasil, Jerman, Spanyol, Norwegia, India, Vietnam, Bangladesh, dan kini, Indonesia.

 Penulis: Erha Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi