Nalar.ID

Illegal Download hingga Copyrights Masih Issue Utama di 2019

Jakarta, Nalar.ID – Berbagai genre atau warna musik di Indonesia, semakin tumbuh berkembang sepanjang 2018. Tak terkecuali 2019, diprediksi bakal tumbuh warna musik seperti dangdut, jaz, pop, hingga genre musik lain yang bersaing setara.

Termasuk musisi indie, makin leluasa bergerak dengan dukungan beberapa platform digital. Rahayu Kertawiguna, CEO Nagaswara Publishing, atau pemilik perusahaan label rekaman dan manajemen musik, memaparkan pandangannya.

“Tahun 2019, mungkin saja akan muncul genre berbeda, melengkapi genre kekinian di tahun lalu,” ucapnya, dihubungi Senin (31/12).

Penetrasi Digital
Terlebih, dengan masifnya perkembangan teknologi digital, tak hanya membuat masyarakat mudah menikmati musik. Musisi pun kian mudah mengenalkan karya kepada publik. Rahayu membenarkan hal tersebut.

Menurutnya, produk karya fisik akan semakin jauh dari populer. “Khususnya generasi milenial yang sudah mulai meninggalkannya,” tukasnya.

Lantas, bagaimana tantangan dan hambatan industri musik secara nasional? Rahayu meyakini, tantangannya, yakni harus berhasil menciptakan berbagai peluang sesuai keinginan pasar seiring dengan percepatan teknologi.

“Sementara, hambatannya lain lebih kepada illegal download atau cybercrime. Khusus dalam industri musik nasional tahun 2019, kami akan terus memperjuangkan agar hak cipta dan copyrights bisa diakui masyarakat kita,” jelasnya.

Contohnya, kasus pelanggaran hak cipta. Penyakit ini, seolah tak kunjung tuntas. Bahkan sejumlah perusahaan label rekaman atau distributor resmi beberapa kali merugi akibat pembajakan karya fisik oleh para oknum. Tak terkecuali perusahaan yang dipimpin Rahayu.

Belajar atas peristiwa lalu, Rahayu, tetap giat memerangi pembajakan dan para oknumnya. “Tahun 2019, kami akan lebih giat melaporkan kasus pelanggaran hak cipta, baik fisik atau illegal download, juga aplikasi ilegal, sampai mereka jera,” terangnya.

Sembari tetap memerangi pembajakan, rencananya, pihaknya akan meluncurkan dua label anyar, yakni Roket’s Label dan Swara Surgawi tahun 2019.

Investasi Asing
Diketahui, dalam kesempatan terpisah, bulan lalu, pemerintah Indonesia memberikan kesempatan kepada investor asing untuk berinvestasi di industri nasional. Menurut Rahayu, ini peluang besar.

“Peluang selalu terbuka lebar. Apalagi, Indonesia punya pasar yang besar. Untuk ancaman dan tantangan, kita harus jeli melihat kesempatan itu. Obsesi kedepan, kami berharap tetap menjadi nomor satu selama mungkin,” imbuhnya.

Di kesempatan terpisah, pengamat musik Bens Leo, menutup tren 2018 dengan berkembangnya keadilan terhadap musisi Indonesia. Dimana, katanya, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, semakin gencar digalakkan.

“Selain hak cipta, juga hak royalti terhadap pencipta dan musisi pendukung seperti penata musik serta pemain musik,” kata Bens, belum lama ini.

Bens meyakini, hak royalti dan cipta untuk musisi, dapat membawa musik Indonesia menjadi lebih baik untuk masa depan.

Penulis: Veronica Dilla | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi