Nalar.ID

Ini Pembajakan Milenial-Gaya Baru Menurut Bos Nagaswara

Nalar.ID, Jakarta – Akhir Desember 2021 lalu, Mahkamah Agung (MA) mengabulkan peninjauan kembali (PK) yang dilayangkan oleh PT Nagaswara Publisherindo.

Majelis hakim menilai para tergugat telah melakukan modifikasi lagu Lagi Syantik tanpa izin para penggugat, lalu dikomunikasikan ke akun YouTube Gen Halilintar. Menurut majelis hakim, perbuatan itu adalah pelanggaran hak moral dari para penggugat.

Perbuatan para tergugat yang menggandakan ke bentuk elektronik/digital penerbitan karya ciptaan dan pendistribusian hasil pelanggran karya cipta melalui media sosial adalah pelanggaran hak cipta, sesuai sebagaimana diatur di Pasal 9 Ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e Jo Pasal 9 Ayat (3).

Maka itu, MA menghukum Halilintar Anofial Said dan Lenggogeni Umar Faruk (tergugat 1 dan tergugat 11), untuk membayar ganti rugi Rp 300 juta karena melanggar hak cipta lagu Lagi Syantik. Amar putusan perkara tercantum nomor: 41PK/Pdt,Sus-HK/2021.

Sebelumnya, Gen Halilintar dinilai mengubah lirik lagu Lagi Syantik. Lalu, merekam, membuat video, dan menguggahnya di akun YouTube Gen Halilintar tanpa izin pihak PT Nagaswara Publisherindo yang menaungi para pecipta lagu Lagi Syantik.

PT Nagaswara Publisherindo, sebagai pemegang hak publishing lagu itu tak terima. Mereka menggugat ke Pengadilan Negeri (PN), Jakarta Pusat. Namun, PN Jakarta Pusat menolak gugatan itu pada 30 Maret 2020. Lantas, PT Nagaswara Publisherindo mengajukan PK dan dikabulkan oleh MA.

Setelah kasus ini, Rahayu Kertawiguna mengungkapkan bahwa perusahaan rekamannya menyambut baik bila para musisi, YouTuber, penyanyi, atau lainnya yang ingin meng-cover atau membawakan lagu-lagu yang ada di bawah naungan PT Nagaswara Publisherindo.

Supremasi Hak Cipta

Namun, semua harus tetap sesuai koridor peraturan yang berlaku terkait perizinan hak cipta.

“Hikmah yang kami ambil dalam kasus ini adalah supremasi hak cipta menjadi tolak ukur industri musik di suatu negara hukum,” ujar Rahayu, dihubungi Nalar.ID, Senin (7/2/2022).

Ke depan, agar tidak terulang kejadian serupa, Nagaswara melakukan upaya proteksi atau perlindungan terhadap hak cipta.

“Proteksi yang kami lakukan adalah klaim secara berkala terhadap YouTube. Khususnya bagi content creator. Baik sengaja atau tidak dalam melakukan pelanggaran,” tegasnya.

Tidak cukup disitu. Rahayu juga mengedukasi kepada masyarakat atas hak cipta cover lagu milik seseorang atau musisi. Bagaimana contohnya?

“Contoh konkritnya adalah dengan membuat talkshow, seperti acara Intimate Show Concert, (Minggu, 6/2/2022) malam, dengan menyelipkan talk show tentang hak cipta,” jelasnya.

Di luar kasus keluarga Halilintar, Rahayu tak memungkiri jika Nagaswara juga pernah mengalami kerugian tidak sedikit atas cover lagu di bawah naungan Nagaswara tanpa izin. Diakui Rahayu, masih banyak kasus kerugian Nagaswara terkait hak cipta cover lagu milik musisi di YouTube yang belum terungkap.

“Contohnya, ada yang mengaku-ngaku NAGASWARA Records, di bawah bendera Tune Core. Padahal setelah pihak kami selidiki, itu akun palsu,” imbuhnya.

Namun, sambung Rahayu, sungguh disayangkan jika secanggih apapun teknologi, maka YouTube tidak pernah bisa membedakan tingkat asli dan palsu. “Perlu kita garis bawahi, hal ini bentuk pembajakan milenial atau pembajakan gaya baru,” ungkapnya.

Penulis: Veronica Dilla | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi