Nalar.ID

IoT, Masa Depan Teknologi Indonesia

Nalar.ID – Indonesia tengah menyambut hangat Revolusi Industri 4.0. Terbukti, sikap pemerintah yang fokus terhadap perkembangan teknologi saat ini. Salah satu teknologi yang difokuskan melalui Revolusi Industri 4.0 adalah IoT (Internet of Things).

Apa itu IoT?

IoT merupakan sebuah konsep, dimana suatu objek yang memiliki kemampuan mentransfer data melalui jaringan. Transfer data tersebut tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia, atau manusia ke komputer.

IoT telah berkembang dari konversi teknologi nirkabel, micro-electromechanical systems (MEMS), dan internet. “A Things” pada IoT dapat didefinisikan sebagai subjek. Contoh, ketika seseorang dengan monitor implan jantung, hewan ternak dengan transponder biochip, mobil dilengkapi built-in sensor untuk memeringatkan pengemudi ketika ada gangguan di mobil itu, dan sebagainya.

IoT, sejauh ini menjadi erat hubungannya dengan komunikasi machine-to-machine (M2M) dalam bidang manufaktur dan listrik, perminyakan, dan gas.

Produk yang dibangun dengan kemampuan komunikasi M2M sering disebut sistem cerdas atau ‘smart’. Sebagai contoh, smart meter, smart grid sensor, atau smart kabel.

Masa Depan Indonesia

Industri di Indonesia saat ini sebagian besar berdasarkan industri manufaktur, listrik, dan sumber daya alam (SDA) mencakup perminyakan dan gas. Seperti penjabaran sebelumnya, IoT dalam perkembangannya, mendukung industri tersebut untuk M2M pada bidang manufaktur.

Inilah awal masa depan industri manufaktur di Indonesia. Menurut data terbaru, 1 dari 10 perusahaan manufaktur di Indonesia telah memanfaatkan teknologi IoT guna efisiensi proses manufaktur mereka.

Ditambah pula, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, telah menandatangani Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang penggunaan spektrum frekuensi radio berdasarkan izin kelas pada 5 April 2019 lalu.

Ditemui terpisah belum lama ini, Pelaksana Tugas Kepala Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu, mengatakan bahwa penandatanganan RPM ini merupakan wujud dukungan kementerian terhadap penerapan teknologi IoT di Indonesia.

“Ketentuan penggunaan frekuensi radio berdasarkan izin kelas, yaitu digunakan secara bersama (sharing) pada waktu, wilayah, dan atau teknologi secara harmonis antar-pengguna. Dilarang menimbulkan gangguan merugikan, tidak mendapatkan proteksi interferensi dari pengguna lain. Serta wajib mengikuti ketentuan teknis yang ditetapkan,” kata Ferdinandus.

Solusi Bisnis Berbasis IoT 

Eight Code Indonesia, salah satu konsultan IT (informasi teknologi) di Indonesia yang berkantor di Tangerang dan Jakarta, tengah mendalami solusi bisnis ke berbagai industri di Indonesia. Termasuk manufaktur dan SDA.

Nantinya, Eight Code Indonesia, akan menjadi salah satu konsultan IT non-Provider, yang dapat menjawab permasalahan industri dengan solusi berbasis IoT.

“Kami percaya, bisnis berbasis IoT akan memiliki banyak manfaat ke depan. Kami hadir membantu memberikan solusi bagi para pelaku bisnis dan dunia usaha untuk mendukung Connecting Things, Connecting Economy,” ujar Faizal Hermiansyah, Founder dan CEO Eight Code Indonesia, dan sekaligus pakar di IoT Solution for Business (ISB), kepada Nalar.ID, Minggu (12/5).

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi