Nalar.ID

Jauhi Medsos Bila Alami 5 Hal Ini

Nalar.ID, Jakarta – Di era milenial, media sosial (medsos) sudah jadi kebutuhan. Berbagai informasi tersebar cepat melalui akun-akun pemiliknya. Mulai info gaya hidup terkini, sampai berita hangat bisa diikuti dari berbagai akun.

Dilansir dari Kompas, ahli menyebutkan bahwa bermain medsos memang bisa menurunkan resiko depresi. Namun, di satu sisi, keberadaan medsos bisa berdampak buruk. Terutama, kesehatan mental. Beberapa akibatnya adalah depresi hingga perasaan takut atau cemas.

Salah satu kasus kerpa ditemukan adalah membandingkan diri dengan orang lain. Seseorang tampak begitu bahagia di medsos. Lalu, membandingkan dengan diri sendiri. Akhirnya, menumbuhkan perasaan minder.

Biasanya, hal-hal seperti ini menimbulkan ketenangan hati dan pikiran terganggu. Maka itu, ada saatnya Anda harus menjauh dari medsos. Atau detoks media sosial. Terutama, bila mengalami hal berikut.

1. ‘KEPO

Akronimnya: Knowing Every Particular Object. Tanpa disadari, Anda terus melakukan scroll, atau doom scrolling. Seolah merasa begitu haus informasi yang Anda temukan. Memeriksa seluruh hashtag hingga menengok akun yang menggunakannya, dan seterusnya.

Apakah Anda menghabiskan berjam-jam melakukan ini? Terlebih, hampir setiap hari. Saatnya jauhkan diri dari ponsel. Tak ada salahnya ikut perkembangan. Jika sudah duduk berjam-jam melakukannya, tentu tak bisa dibenarkan.

Bayangkan, berapa waktu yang Anda habiskan untuk ‘KEPO’ itu. Padahal seharusnya bisa melakukan hal yang lebih berguna lagi. Hentikan sekarang. Tak ada gunanya menghabiskan waktu hanya berselancar di media sosial.

2. Tak Jadi Diri Sendiri

Senang rasanya saat posting kita di-like banyak orang. Apalagi si dia. Secara tidak sadar, Anda merasa ingin terus melakukannya. Memposting segala sesuatu demi sambutan positif dari para followers. Bisa-bisa lama kelamaan, Anda akan banyak melakukan ‘tipu daya’.

Bukan menipu dalam arti sebenarnya. Tapi, bisa saja Anda jadi berdrama dengan akun sosmed Anda. Saat ‘bete’, demi like, Anda memperlihatkan seolah diri tengah bahagia. Agar posting sosmed terlihat keren, berusaha untuk terlihat demikian padahal ‘lagi kere’. 

Jangan siksa diri demi eksistensi. Like di medsos kadang tak diiringi dengan like di dunia nyata. Begitu pula para seleb medsos. Dia terlihat keren, meski mungkin ‘lagi kere’ karena ada yang meng-endorse-nya. 

Dalam kata lain, kegiatannya di medsos menghasilkan atau telah jadi profesi. Sementara kita yang belum bisa, sebaiknya fokus dengan usaha kita sendiri. Bukan menghabiskan waktu demi mendapatkan ‘double tap’ atau komen yang berbau pujian atau perhatian.

3. Minim Interaksi Sosial

Sejak teknologi BlackBerry, fenomena ini sudah terjadi. Saat kita semestinya bersosialisasi. Seperti berkumpul dengan teman atau keluarga, jempol aktif terus. Fokus seolah sulit dialihkan dari layar ponsel. Padahal sebenarnya, kita dapat berinteraksi dengan orang lain.

Sudah saatnya puasa sosmed. Ini tanda-tanda mulai kecanduan. Apapun yang dilakukan secara berlebihan tidak baik. Bayangkan, quality time bersama teman atau keluarga dilewatkan begitu saja.

4. Sebarkan Ketidakbenaran

Ada yang mengatakan bahwa tombol share adalah penemuan paling brilian. Tentu, dalam kancah media sosial. Coba perhatikan perilaku Anda saat bermedsos. Berapa kali sehari Anda memijit tombol itu.

Perhatikan isi dari apa yang Anda bagikan. Ternyata banyak berita bohong dan ujaran kebencian? Anda termasuk golongan yang benar-benar menjauh dari media sosial. Karena kemungkinan, secara tidak langsung Anda sudah berada di bawah pengaruh buruk.

5. Stalking

Memiliki seorang idola di medsos adalah hal yang lumrah. Sehingga, Anda selalu memperhatikan semua posting yang ia buat. Sekedar ingin mengetahui apa yang dilakukan seorang teman, atau si dia juga sudah biasa.

Tapi ternyata, Anda mulai ingin tahu aktivitas orang-orang yang seharusnya sudah kamu lupakan. Setiap hari, Anda melihat akun sosmed mantan pacar atau selingkuhannya. Juga, ingin mengetahui kehidupan orang yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Anda.

Jangan dilanjutkan. Tinggalkan sosmed Anda sejenak. Anda telah buang-buang waktu untuk hal tidak berfaedah. Istilah influencer muncul, karena para selebgram itu mampu menularkan aura positif terhadap pengikutnya.

Jika yang Anda awasi setiap harinya adalah hal negatif, akan berpengaruh buruk bagi Anda. Sebaiknya waktu yang Anda gunakan tersebut dihabiskan untuk hal lain yang bermanfaat.

Editor: Radinka Ezar

 

 

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi