Nalar.ID

Jurus Ekonomi Mario Blanco Tangkal Dampak Covid-19

Nalar.ID, Bali – Beberapa bulan belakangan, dunia menghadapi wabah Covid-19. Virus ini tersebar ke banyak negara di dunia hingga melumpuhkan sebagian kehidupan didalamnya. Termasuk hampir sejumlah sektor  mengalami kelumpuhan. Ini mempengaruhi perekonomian negara dan menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi secara global.

Berdasarkan Lembaga Analisis Keuangan Moody’s, ada prediksi penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 ini. Dikutip katadata.co.id, pertumbuhan menurun dari 4.9% menjadi 4.8%.

Tak sedikit perusahaan yang tidur sementara. Beberapa diantaranya mengizinkan karyawannya bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Salah satu seniman dan pengusaha Mario Blanco turut mengamati perlambatan sektor ekonomi di Indonesia.

“Sudah pasti sangat lambat (pertumbuhan ekonomi), karena manusia harus di isolasi dan tidak melakukan kegiatan apa-apa. Tidak saja Indonesia, tapi semua negara di dunia yang terkena Covid 19,” kata Mario Blanco, dihubungi Nalar.ID, Kamis (26/3/2020).

Namun, disisi lain ada sejumlah perusahaan menelurkan kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk mencegah efisiensi. Menurut Mario, opsi PHK merupakan langkah terakhir.

“Kalau bisa usahakan dulu untuk tidak PHK, karena itu jadi tanggung jawab kita bagaimana keryawan bisa dapat pemasukan dan makan. PHK bisa jadi opsi terakhir, karena kemungkinan besar wabah ini akan segera berakhir dengan cepat. Misalnya, di bidang pariwisata, bila tak ada tamu, pasti mereka tidak akan mendapatkan perkerjaan,” jelasnya.

ilustrasi Corona - nalar.id
Ilustrasi. NALAR/Dok.Fajar Indonesia Network

Lantas, apa saja opsi pengusaha agar roda ekonomi perusahaan tetap berjalan?

“Menerapkan WFH selama dua minggu. Jika wabah ini berkelanjutan atau lebih dari 14 hari kerja maka disarankan untuk mengambil AL (anual leave). Saran lainnya, bekerja bergilir 15 hari atau pengurangan gaji, agar mereka tetap bisa menafkahi anak dan keluarga,” ungkapnya.

Terkait kerugian pengusaha akibat bisnisnya tersendat karena dampak Corona, Mario menilai pemerintah perlu memberikan insentif pajak bagi pengusaha yang terdampak.

“Namun, tidak seharusnya juga kita sebagai wirsausaha mendesak pemerintah karena pemerintah sudah harus sadar sendiri. Di saat krisis ekonomi seperti sekarang,  wirausaha tidak akan mendapatkan pemasukan sama sekali. Maka itu harus diberikan keringanan pajak,” tukasnya.

Maka itu, wirausaha wajib membayar pajak income sebagai kewajiban perusahaan. Namun jika tidak ada income yang masuk, untuk apa membayar pajak kewajiban. Justru itu menambah beban pengusaha.
Worst case scenario, jika tidak ada incentive pajak adalah PHK massal. Pemerintah juga seharusnya memberikan keringanan lain, seperti pembayaran kredit, cicilan dan kewajiban lain,” tambahnya.
Ada sebuah contoh nyata. Baru-baru in, para pengusaha yang tergabung dalam Kadin menggalang dana Rp 500 miliar untuk melawan Corona. Terakhir, telah terkumpul Rp 300 miliar.

Mario beranggapan langkah dan niat Kadin sangat positif.

“Tetapi agar tidak salah penggunaan, akan sangat membantu semua pihak, terutama pemerintah dan tenaga medis. Contoh, pemerintah bisa membeli alat rapid test untuk virus atau ventilator.
Namun, alat yang dibeli salah atau kurang efektif dalam menangani virus Corona,” ungkapnya.

Seharusnya, kata Mario, dana tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk masyarakat yang lebih membutuhkan, seperti untuk bantuan insentif.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi