Nalar.ID

Kaitan Video Games dengan Kecerdasan Anak, Ini Risetnya

Jakarta, Nalar.IDPenelitian dan analisis riset di University of Oxford, menemukan sejumlah kesimpulan. Yakni mengenai bagaimana game bisa mempengaruhi kinerja akademis, kesejahteraan hidup anak, dan kebahagiaan.

Sebab, Generasi Z saat ini telah terpapar gadget sejak usia anak-anak. Bahkan, ‘makanan’ ini (gadget) menjadi ‘senjata’ menggiurkan bagi sebagian orang tua dengan anak kondisi sulit makan. Bisa jadi Anda salah satunya.

Menurut sejumlah referensi, penggunaan ponsel pintar bagi anak-anak, berefek pada kemampuan daya tangkap otak anak. Di sisi lain, beberapa ilmuwan, saat ini mulai menciptakan aplikasi khusus guna meningkatkan IQ anak. Tentu, dengan sejumlah fitur ramah anak.

Pemimpin redaksi JAMA Pediatrics, dan Direktur Pusat Kesehatan, Perilaku, dan Pengembangan Anak di Seattle Children’s Research Institute, Dimitri Christakis, seperti dikutip dari New York Post, Selasa (12/2), memaparkan hasil riset.

“Perbedaan individu menggunakan ponsel, dampaknya beragam. Apalagi anak-anak sulit di generalisasi. Dunia digital juga berubah cepat, akibatnya studi jangka panjang sulit dilakukan,” kata Dimitri.

Ia menyatakan, banyak orang tua terhubung dengan ponsel si anak. Ini penting agar anak tahu betul kapan ia bisa menikmati fasilitas itu. “Adanya pembatasan diharapkan agar anak tak sembarang menggunakan ponsel,” imbuhnya.

Bagaimana dengan games?

Saat ini, kian banyak permainan digital. Tujuannya baik, untuk mengasah otak anak. Menurut direktur strategi pendidikan untuk situs review game independen Common Sense Media, Tanner Higgin, Ph.D., game sekarang menawarkan beragam pengalaman.

“Memang, hanya 43 persen orang dewasa bermain video game. Menurut angka tahun 2018 dari Pew Research Center, dibandingkan dengan 90 persen remaja,” kata Tanner.

Akibatnya, kata Tanner, ayah dan ibu yang bermaksud baik, kerap mengarahkan anak-anaknya ke arah permainan mencerdaskan. Rupanya, analisis tersebut merupakan jalan buntu digital, kata Dr. Jenny Radesky, dokter anak perkembangan perilaku, sekaligus peneliti yang mengkhususkan diri ke penggunaan media keluarga dari University of Michigan.

Menurut Jenny, banyak game yang diiklankan untuk edukasi, pada prinsiptnya, hanya sekadar lembar kerja animasi. Ini sedikit berbeda dengan dorongan oleh aktivitas seperti pencocokan, pertanyaan trivia pilihan ganda, dan masalah matematika. Tanner setuju.

“Potensi belajar terbesar untuk permainan yakni ketika mereka tak seperti bentuk pembelajaran tradisional itu,” katanya.

Tanner lebih suka melihat anak-anak main game yang mendorong pemikiran kreatif dan konseptual. Tentu, dengan alur cerita yang mendorong mereka untuk terlibat dalam pilihan bermakna serta memiliki pengalaman berbeda setiap kali.

“Banyak game bagus tapi sistem rumit. Mereka (games) seperti mesin digital yang bisa dipencet dan dimainkan anak-anak,” tambah Tanner.

Tanner memperkirakan, hanya sekitar 40 persen game saat ini memenuhi kriteria untuk potensi belajar yang kuat. “Sama seperti Anda bicara ke anak-anak Anda tentang musik dan film. Tanya mengenai kehidupan game mereka,” sambung Tanner.

Seperti, misalnya, apa yang mereka suka dari permainan itu? Bagaimana mereka menemukan solusi? Apakah memiliki strategi dan penerapan di sesi berikut?

“Anda ingin buat anak-anak berpikir sedikit lebih dalam tentang apa yang mereka alami,” kata Tanner.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi